PT IMIP Mengubah Wajah Morowali, Ribuan Pekerja dan UMKM Tumbuh Pesat

  • Whatsapp
Arus lalu lintas di jalan utama terlihat padat oleh kendaraan pekerja yang baru selesai beraktivitas di kawasan industri, beberapa waktu lalu. Foto : Dok PT IMIP

MOROWALI, BULLETIN.ID – Kehadiran kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) membawa banyak perubahan bagi masyarakat di Sulawesi Tengah. Salah satunya dirasakan oleh Arif, (28) warga Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, yang kini bekerja sebagai crew furnace material recycle (kru daur ulang material tungku) di perusahaan.

Arif bertugas menjaga portal keluar-masuk kendaraan sekaligus terlibat dalam pengolahan material sisa produksi. Dari pekerjaannya, ia memperoleh banyak pengalaman baru, mulai dari keterampilan mengelas, memotong besi dengan mesin plasma, hingga mencoba mengoperasikan excavator. “Bekerja di PT IMIP membuat saya belajar banyak hal yang sebelumnya tidak saya kuasai,” katanya, Sabtu (2/08/2025). Bagi Arif, pekerjaan barunya bukan sekadar menjaga tungku, tetapi juga membuka jalan belajar berbagai keterampilan teknis.

Selain keterampilan, manfaat lain yang ia rasakan adalah penghasilan yang stabil. Arif mengaku penghasilan yang diperoleh cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Lebih dari itu, ia melihat keberadaan PT IMIP membuka peluang kerja yang luas bagi masyarakat lokal.

“ industri ini juga mendorong roda ekonomi di daerah karena banyak warga bisa bekerja di sini,” kata Arif.

Namun di balik manfaat itu, ia juga menghadapi tantangan khas lingkungan industri. Cuaca yang berubah-ubah dan lingkungan kerja yang penuh aktivitas produksi. Tapi sejauh ini ia merasa nyaman bahkan merasa merasa terbantu dengan adanya Alat Pelindung Diri (APD) yang disediakan perusahaan.  

Cerita Arif hanyalah satu contoh. Di luar itu, denyut ekonomi warga Morowali juga ikut bergerak melalui tumbuhnya usaha kecil. Kemunculan puluhan ribu pekerja  kawasan ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi warga sekitar melalui usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Salah satunya dirasakan Wa Ode Amanah (37), perempuan asal Muna yang memilih bertahan di Morowali, sejak 2012. Ia kini mengandalkan usaha dagang dan bisnis kos-kosan sebagai sumber utama penghasilan keluarga. Tak main-main penghassilan yang dia peroleh pun mencapai belasan juta rupiah per bulan.

“Dulu agak susah , sekarang sudah lebih maju, banyak yang bisa membuka usaha kecil dan ikut menikmati peluang di kawasan industri,” kata Wa Ode. Minggu (3/08/2025).

Industri  tambang hadir sejak 2007 di Morowali dan berkembang pesat setelah masuknya PT IMIP pada 2013,  IMIP mampu  mengubah wajah perekonomian Morowali. Jika dahulu warga hanya mengandalkan hasil kebun atau pekerjaan serabutan, kini semakin banyak yang melakoni wirausaha.

Meski begitu, ia juga menyadari ada sisi lain dari pertumbuhan industri yang tak bisa diabaikan.  Salah satunya berkurangnya interaksi sosial, hingga persoalan lingkungan. Ia berharap perusahaan dan pemerintah bisa lebih memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam.

“Kalau soal kesehatan sudah lumayan terbantu. Tapi untuk UMKM, saya berharap lebih diperhatikan lagi agar manfaat ekonomi bisa benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya. Kisah Wa Ode menggambarkan bagaimana industri tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga mengubah wajah usaha kecil di Morowali.

Imip Picu Pertumbuhan PAD Morowali

Kehadiran PT IMIP menjadikan Morowali bukan lagi daerah terpencil, melainkan salah satu pusat industri strategis dunia.

Pandangan itu sejalan dengan apa yang disampaikan pihak perusahaan. Head of Media Relations Department PT IMIP, Dedy Kurniawan mengatakan, tak hanya ekonomi, infrastruktur juga berkembang pesat. Jalan raya, pelabuhan, hingga perumahan bermunculan. Morowali yang dulu sepi kini berubah menjadi kawasan padat dengan denyut ekonomi tinggi. Dari sisi ekonomi, ribuan lapangan kerja tercipta. Pelaku UMKM ikut tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat , memberdayakan masyarakat lokal, serta mendorong hilirisasi nikel yang berkelanjutan.

IMIP mencatat Hingga awal Mei 2025, perusahaan  telah menyerap lebih dari 85.000 tenaga kerja lokal, dengan 95 persen di antaranya berasal dari Sulawesi. Angka ini meningkat 2,3 persen dibanding September 2024. Tingginya serapan tenaga kerja ini tidak hanya mengurangi pengangguran, tetapi juga menekan urbanisasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berita Pilihan :  PT Vale Paparkan Progres Proyek dan Hilirisasi di RDP DPR

 “IMIP telah memicu pertumbuhan pemukiman baru di sekitar kawasan industri, yang secara bertahap mengubah lanskap Morowali menjadi kawasan yang lebih heterogen,” kata Dedy dalam keterangannya.

Dedy menerangkan, sejak berdiri pada 2013, keberadaan IMIP juga memberikan dampak langsung pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Morowali. Kemudian Pada 2023, perusahaan ini menyetor pajak dan royalti sebesar 1,16 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,68 triliun. Jumlah tersebut sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga Juni 2024, PAD daerah ini mencapai Rp346,38 miliar. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cermin perubahan cepat di Morowali.

Selain setor pajak, perusahaan  telah menggelontorkan investasi sebesar 34,3 miliar dolar AS atau Rp552,23 triliun. Angka ini meningkat dari 30,14 miliar dolar AS pada periode 2015–2023. Dari sisi ekspor, devisa yang masuk hingga November 2024 tercatat 14,45 miliar dolar AS atau Rp232,65 triliun.

Jika cerita Arif dan Wa Ode menunjukkan perubahan di tingkat individu, data resmi membuktikan bahwa geliat itu bergaung hingga ke level daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) (https://sulteng.bps.go.id/id/pressrelease) mencatat, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan I tahun 2025 mencapai 8,69 persen, melampaui rata-rata nasional. Angka ini ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan dan pertambangan. Dimana IMIP sendiri menjadi pemain utama.

Selain itu, PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) Morowali juga meningkat pesat. Data Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah mencatat, PDRB Morowali naik 16 persen dari tahun 2023 ke 2024, mencapai Rp173,86 triliun. Peningkatan ini tak lepas dari aktivitas industri di IMIP dan serapan tenaga kerja yang terus bertambah.

Perpindahan penduduk ini memicu pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tercatat hingga Februari 2024, terdapat 7.318 unit UMKM di Kecamatan Bahodopi, yang mampu menyerap lebih dari 15.523 tenaga kerja. Melalui program kemitraan, IMIP juga berkolaborasi dengan lebih dari 200 UMKM lokal, termasuk untuk penyediaan suplai bahan makanan bagi karyawan.

Perputaran uang di sekitar kawasan industri mencapai Rp300 miliar per bulan, dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Morowali meningkat drastis dari Rp181 miliar menjadi Rp586 miliar dalam beberapa tahun terakhir.

Angka-angka tersebut seperti tampak kaku, tapi justru di sanalah tergambar betapa cepatnya Morowali berubah.

Perubahan itu juga dirasakan langsung oleh Pemerintah Provinsi Sulteng. Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi dan UMKM Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Tengah, Irfan, menyebut keberadaan industri tambang dan smelter di Morowali membuat kebutuhan masyarakat meningkat pesat. “Ada ribuan orang yang bekerja, semuanya butuh makan, sayuran, ikan, dan produk penunjang lainnya. Hal ini otomatis menggerakkan sektor UMKM,” jelasnya.

Menurut Irfan, perbedaan kondisi ekonomi masyarakat sebelum dan sesudah hadirnya industri sangat terasa. Jika dulu UMKM kesulitan bersaing, kini peluang usaha semakin terbuka lebar. “Peningkatannya bisa dua kali lipat bahkan berlipt-lipat”. tambahnya.

Dinas Koperasi dan UMKM Sulteng mencatat, jumlah UMKM di Sulteng mencapai 171.155 unit. Khusus di Morowali terdapat 1.038 UMKM, terdiri dari 1.037 usaha mikro, dan 1 usaha menengah. Angka ini menunjukkan potensi besar yang terus berkembang seiring berputarnya roda industri.

Irfan menegaskan, meski tantangan tetap ada, keberadaan IMIP telah memberi ruang luas bagi UMKM lokal untuk bertumbuh. “Yang jelas dampak ekonominya sangat terasa dan membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Kini, Morowali bukan sekadar lumbung nikel, melainkan ruang harapan baru bagi masyarakat lokal untuk bertumbuh bersama industri.

Penulis : Indrawati Zainuddin

Pos terkait