8 Tahun Pascabencana, 125 Penyintas Kini Tempati Huntap Kuwait Village II

  • Whatsapp
Huntap Kuwait Village II
8 Tahun Pascabencana, 125 Penyintas Kini Tempati Huntap Kuwait Village II

PALU, BULLETIN – Setelah delapan tahun pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi di Palu, sebanyak 125 unit Huntap Kuwait Village II di Jalan Malontara, Kecamatan Tatanga, akhirnya resmi dihuni oleh para penyintas. Penyerahan kunci yang berlangsung pada Minggu (13/9/2026) ini menandai kepastian tempat tinggal bagi mereka yang kehilangan rumah, sekaligus menjadi tonggak penting dalam proses pemulihan jangka panjang.

Peresmian Huntap Kuwait Village II dihadiri oleh Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, dan perwakilan dari Pemerintah Kerajaan Kuwait, Abdullah Al-Qulaish. Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol dari rampungnya pembangunan hunian yang didanai oleh Pemerintah Kuwait untuk para korban bencana.

Prosesi tersebut ditandai dengan pengguntingan pita dan penyerahan kunci secara simbolis kepada salah satu penerima manfaat. Imelda mengungkapkan bahwa seluruh 125 unit rumah Huntap Kuwait Village II kini telah ditempati oleh warga.

“Alhamdulillah hari ini saya menghadiri peresmian Huntap, Hunian Tetap Mandiri bantuan dari Pemerintah Kuwait,” kata Imelda.

Dari 125 penerima manfaat Huntap Kuwait Village II, mayoritas merupakan warga Kota Palu yang terdampak langsung bencana 2018, khususnya penyintas dari kawasan Balaroa. Kawasan Balaroa sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang paling parah terkena dampak likuefaksi.

Imelda menjelaskan, sebagian besar penghuni Huntap Kuwait Village II sebelumnya tinggal di hunian yang belum permanen atau bahkan harus menyewa. “Jadi ini bantuan dari mereka ada 125 rumah di dalam hunian ini dan semuanya Alhamdulillah sudah terisi oleh warga masyarakat. Sebagian besar lebih banyak orang Kota Palu yang menjadi korban gempa di Balaroa tahun 2018,” ujarnya.

Namun, penerima manfaat Huntap Kuwait Village II tidak hanya berasal dari Kota Palu. Beberapa warga dari Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala juga turut mendapatkan hunian di kompleks ini. Hal ini menunjukkan bahwa dampak bencana 2018 menjangkau wilayah yang lebih luas dari sekadar satu kota.

“Ada rupanya ada dari Sigi, ada dari Donggala. Sebagian besar banyak dari Kota Palu yang dulunya mungkin mereka hanya kontrak,” tambah Imelda.

Komposisi penerima manfaat ini mencerminkan kebutuhan pemulihan tempat tinggal yang meluas di tiga wilayah terdampak utama. Bantuan Huntap Kuwait Village II menjadi respons komprehensif terhadap kebutuhan tersebut.

Pemerintah Kerajaan Kuwait adalah salah satu donatur utama yang memberikan bantuan kemanusiaan pascabencana 2018. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak. Bagi Pemerintah Kota Palu, keberadaan Huntap Kuwait Village II menjadi bagian integral dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Berita Pilihan :  PCNU Palu Peringati Maulid Nabi, Pemkot Ajak Jadikan Rasul Teladan Pembangunan

Imelda menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kerajaan Kuwait atas bantuan yang dinilai sangat bermanfaat langsung bagi masyarakat. “Alhamdulillah masyarakatnya juga sangat terbantu dan sangat berterima kasih dengan wakaf yang diberikan dari Pemerintah Kuwait kepada masyarakat Kota Palu,” katanya.

Bantuan ini juga memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur pemerintah. Dukungan internasional berperan krusial dalam memenuhi kebutuhan dasar penyintas, terutama dalam penyediaan tempat tinggal. Keberhasilan Huntap Kuwait Village II menjadi bukti nyata solidaritas global.

Setelah rumah diserahkan dan dihuni, proses pemulihan belum sepenuhnya usai. Pemerintah Kota Palu kini mendorong warga penerima manfaat Huntap Kuwait Village II untuk menjaga rumah mereka serta menata lingkungan kawasan agar tetap bersih, nyaman, dan layak huni dalam jangka panjang.

Imelda meminta masyarakat tidak hanya memanfaatkan rumah, tetapi juga menjaga fasilitas dan lingkungan bersama di Huntap Kuwait Village II. “Kami juga berterima kasih kepada mereka dan berharap masyarakat bisa menjaga rumahnya dengan baik. Perkembangannya saya minta mereka menata dengan baik,” tuturnya.

Pesan ini menjadi penting karena keberhasilan program hunian tetap tidak hanya diukur dari jumlah unit rumah yang dibangun. Keberlanjutan kawasan, kualitas lingkungan, fasilitas pendukung, dan kemampuan masyarakat membangun kehidupan sosial yang stabil merupakan bagian dari fase pemulihan berikutnya. Huntap Kuwait Village II harus menjadi permulaan dari kehidupan baru yang lebih baik.

Dengan seluruh 125 unit Huntap Kuwait Village II kini dihuni, bantuan yang dimulai sebagai respons kemanusiaan pascabencana telah memasuki tahap krusial. Tahap ini berfokus pada memastikan bahwa rumah-rumah tersebut benar-benar menjadi tempat bagi masyarakat untuk kembali membangun kehidupan mereka.

Bagi para penyintas, kunci yang diserahkan bukan hanya simbol kepemilikan rumah. Setelah delapan tahun berlalu sejak bencana 2018, hunian tetap ini menjadi salah satu bentuk kepastian bahwa proses pemulihan terus berjalan. Huntap Kuwait Village II adalah harapan baru.

Sementara bagi hubungan Indonesia dan Kuwait, Huntap Kuwait Village II menjadi wujud konkret solidaritas kemanusiaan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat terdampak bencana di Sulawesi Tengah.

Pos terkait