MOROWALI, BULLETIN.ID Di Morowali, geliat industri tumbuh berdampingan dengan denyut kehidupan masyarakat. Jalan-jalan semakin ramai, permukiman bertambah, dan aktivitas ekonomi meningkat. Namun di balik pertumbuhan itu, ada satu persoalan yang ikut membesar yaitu sampah.
Bagi sebagian orang, sampah adalah akhir dari sebuah barang. Tetapi bagi PT Vale Indonesia Tbk, persoalan ini justru menjadi titik awal membangun kesadaran baru dimulai dari sekolah.
Pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), perusahaan menghadirkan program “Vale Goes to School” di SMPN 2 Bahodopi dan SMPN 3 Bungku Timur.
Bukan sekadar agenda seremonial, kegiatan ini menjadi ruang belajar alternatif bagi pelajar untuk memahami hubungan antara perilaku sehari-hari dan keberlanjutan lingkungan.
Di dalam kelas, para siswa tidak hanya mendengar istilah Reduce, Reuse, Recycle (3R). Mereka diajak membedah arti di baliknya. Apa yang terjadi jika sampah organik bercampur dengan plastik? Mengapa membakar sampah bukan solusi? Bagaimana kebiasaan kecil di rumah berdampak pada lingkungan sekitar?
Materi disampaikan dengan pendekatan visual dan interaktif. Diskusi dua arah membuat siswa berani bertanya dan berpendapat. Lingkungan tidak lagi terasa seperti isu besar yang jauh dari kehidupan mereka, melainkan sesuatu yang dekat bahkan melekat pada kebiasaan sehari-hari.
Namun pembelajaran sesungguhnya terjadi saat para siswa menginjakkan kaki di TPS3R Onepute Jaya. Di sana, konsep yang sebelumnya hanya mereka dengar berubah menjadi proses nyata. Sampah dipilah, organik diproses menjadi kompos, dan anorganik bernilai ekonomi dikumpulkan untuk didaur ulang.
Sorot mata penasaran terlihat ketika mereka menyaksikan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Larva kecil itu mengurai sampah organik dengan cepat, sekaligus menghasilkan nilai tambah sebagai pakan ternak. Bagi siswa, ini pengalaman baru: sampah ternyata bisa menjadi sumber daya.
Agar lebih membekas, sesi edukasi ditutup dengan gim pilah sampah. Dalam suasana kompetitif dan penuh tawa, para siswa mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari. Pengetahuan berubah menjadi aksi.
Kepala SMPN 2 Bahodopi, Misdar, menilai kegiatan tersebut memberi pengalaman nyata bagi siswanya. Menurutnya, anak-anak menjadi lebih memahami perbedaan sampah organik dan anorganik serta pentingnya pengelolaan yang benar.
“Kegiatan ini sangat penting bagi siswa kami, karena memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana sampah harus dikelola. Anak-anak jadi lebih memahami apa perbedaan sampah organik dan anorganik. Kami sangat berterima kasih kepada PT Vale atas kepedulian dan kerja sama yang terus terjalin,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala SMPN 3 Bungku Timur, Nurfan, yang melihat tumbuhnya kepedulian siswa setelah menyaksikan langsung proses pengolahan sampah.
Bagi perusahaan, langkah ini merupakan bagian dari strategi keberlanjutan yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi perubahan. Environment Engineer PT Vale, Nur Rasyidah Lacinu, menegaskan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Melalui edukasi langsung, perusahaan ingin memastikan generasi muda memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk mengambil peran menjaga lingkungan.
“Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa generasi muda memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan. HPSN menjadi momentum penting bagi kami untuk menguatkan edukasi langsung kepada siswa.” Katanya.
Sekolah dipilih karena di sanalah karakter dibentuk. Seorang siswa yang memahami pentingnya memilah sampah hari ini, berpotensi menjadi penggerak perubahan di rumah dan lingkungannya esok hari. Dari bangku sekolah, kesadaran merambat ke keluarga, lalu ke komunitas.
Perusahaan berharap inisiatif ini melahirkan gerakan lanjutan: bank sampah sekolah, kelompok peduli lingkungan, hingga program rutin pengelolaan sampah berbasis siswa. Karena perubahan yang berkelanjutan tidak lahir dari satu kegiatan, melainkan dari kebiasaan yang ditanamkan dan dipelihara.
Di Morowali, di tengah dinamika pembangunan, pendidikan lingkungan menjadi jembatan antara industri dan masa depan. Dan di tangan para pelajar, harapan tentang lingkungan yang lebih bersih dan bertanggung jawab mulai tumbuh perlahan, tetapi pasti.






