PALU, BULLETIN.ID – Perkembangan Islam di tingkat global tidak cukup ditopang oleh pemahaman terhadap ajaran agama, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir rasional dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kuliah tamu yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (16/10/2026).
Menghadirkan Dr. Imam Shamsi Ali, sebagai narasumber, kuliah tamu bertajuk “Perkembangan Peradaban Islam di Dunia Global” itu membahas posisi Islam di tengah masyarakat dunia sekaligus tantangan umat dalam menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam kehidupan sosial.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium UIN Datokarama Palu tersebut dibuka Rektor UIN Datokarama, Lukman S. Thahir, dan diikuti akademisi serta mahasiswa.
Dalam pemaparannya, Imam Shamsi Ali menilai Islam memiliki landasan ajaran yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari hubungan dengan Allah hingga interaksi sosial. Namun, keluasan ajaran tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang mendalam dan cara berpikir yang rasional.
Ia menyoroti tantangan sebagian umat Islam yang belum mengembangkan pola pikir rasional dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Padahal, kemampuan memahami agama secara mendalam menjadi salah satu unsur penting dalam menghadapi dinamika masyarakat global.
Menurut dia, perkembangan peradaban Islam tidak cukup diukur dari pemahaman normatif terhadap ajaran agama. Umat juga perlu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perilaku, hubungan sosial, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Selain rasionalitas, Imam Shamsi Ali menekankan pentingnya keteladanan dalam dakwah. Pesan keagamaan yang disampaikan melalui ceramah harus sejalan dengan perilaku orang yang menyampaikannya.
Keselarasan antara ucapan dan tindakan menjadi penting agar dakwah tidak berhenti sebagai penyampaian pesan, tetapi juga menghadirkan contoh nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat.
Perspektif tersebut menempatkan tanggung jawab pengembangan peradaban Islam tidak hanya pada penguasaan ilmu keagamaan, tetapi juga pada kemampuan umat menunjukkan nilai-nilai agama melalui sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kalangan akademisi dan mahasiswa, tantangan ini berkaitan erat dengan pembentukan tradisi keilmuan yang terbuka, kritis, dan bertanggung jawab. Pemahaman agama perlu terus dikembangkan melalui proses belajar yang mendalam, sekaligus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Rektor UIN Datokarama, Lukman S. Thahir, menegaskan komitmen kampus dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif melalui penguatan moderasi beragama.
Ia menjelaskan, UIN Datokarama memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai latar belakang agama untuk mengakses pendidikan tinggi tanpa membedakan keyakinan.
Komitmen tersebut, menurut dia, juga diwujudkan melalui ruang pembinaan keagamaan bagi mahasiswa non-Muslim. Kampus menghadirkan pendeta untuk memberikan penguatan iman kepada mahasiswa Kristiani agar mereka tetap dapat menjalankan pembinaan keagamaan sesuai dengan keyakinannya.
Kebijakan itu menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak hanya menjadi wacana akademik, tetapi juga perlu diterapkan dalam tata kelola pendidikan dan kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus.
Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, perguruan tinggi keagamaan memiliki peran strategis dalam mempertemukan mahasiswa dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Ruang pendidikan tersebut diharapkan membangun sikap saling menghormati tanpa menghilangkan identitas dan keyakinan masing-masing.
Melalui kuliah tamu ini, UIN Datokarama mendorong mahasiswa melihat perkembangan peradaban Islam secara lebih luas. Penguatan pemahaman keagamaan, rasionalitas, keteladanan, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi Muslim yang mampu berkontribusi di tengah masyarakat global.
Tantangannya bukan hanya memahami nilai-nilai Islam, melainkan juga menghadirkannya dalam bentuk pemikiran yang terbuka, perilaku yang konsisten, serta kehidupan sosial yang menghargai perbedaan.






