MOROWALI,BULLETIN.ID — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas industri nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, upaya menjaga keseimbangan lingkungan terus diupayakan. Bagi PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri yang berkembang pesat itu tidak hanya menjadi pusat produksi mineral, tetapi juga ruang untuk merawat ekosistem dan menekan laju emisi karbon.
Komitmen tersebut perlahan diwujudkan melalui berbagai program lingkungan yang menyasar pemulihan ekosistem, konservasi satwa, hingga transisi menuju energi yang lebih bersih. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan tanggung jawab ekologis di tengah meningkatnya perhatian global terhadap krisis iklim.
Direktur Environmental PT IMIP, Dermawati S., menjelaskan bahwa perusahaan telah mengembangkan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plan) sebagai panduan pengelolaan lingkungan di kawasan industri. Program ini berfokus pada perlindungan habitat penting, pemulihan area yang terdegradasi, serta pembangunan koridor ekologis yang menghubungkan kawasan alami dengan area industri.
“Program ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas lokal, akademisi, dan pemerintah, serta mengacu pada praktik Good International Industry Practice (GIIP), termasuk panduan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial dari International Finance Corporation,” ujar Dermawati.
Salah satu langkah nyata yang dijalankan adalah rehabilitasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove. Sejak 2018 hingga 2025, IMIP telah menanam 70.188 bibit mangrove di sejumlah desa sekitar kawasan industri dengan luasan mencapai 5,62 hektare.
Gerakan penghijauan ini tidak hanya dilakukan di Morowali. Penanaman mangrove juga dilakukan di Kota Palu dengan 10.000 bibit, serta di Brebes, Jawa Tengah, sebanyak 30.000 bibit. Dari seluruh program tersebut, potensi penyerapan karbon diproyeksikan mencapai 21.483,2 ton CO₂e.
Upaya pemulihan pesisir itu terus berlanjut. Pada Desember 2025 lalu, penanaman mangrove kembali dilakukan di empat wilayah berbeda, yakni Desa Matansala di Morowali, Desa Tosale di Donggala, Kelurahan Bungkutoko di Kendari, serta Desa Tapulaga di Konawe. Hingga 2026, perusahaan menargetkan penanaman mangrove mencapai 150.000 bibit.
Tidak hanya pada ekosistem pesisir, perhatian terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui konservasi satwa endemik Sulawesi. IMIP mengembangkan IMIP EduPark seluas 23 hektare sebagai pusat konservasi, pendidikan, dan penelitian.
Di kawasan ini, berbagai program konservasi dijalankan bersama lembaga pemerintah dan peneliti. Pada 2024, misalnya, perusahaan bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memindahkan 20 ekor Macaca Ochreata, primata endemik Sulawesi, ke habitat baru di Taman Wisata Alam Tokobae.
Langkah pengurangan emisi juga dilakukan dari sisi operasional industri. Di kawasan IMIP, sejumlah tenant mulai beralih menggunakan kendaraan listrik untuk mendukung aktivitas operasional. Hingga kini, tercatat 502 unit kendaraan listriktelah digunakan di dalam kawasan industri.
Selain itu, beberapa perusahaan tenant juga mulai mengembangkan teknologi efisiensi energi. PT Huayue Nickel Cobalt, misalnya, memanfaatkan kembali energi panas dari proses industri untuk menghasilkan listrik secara mandiri.
Sementara itu, PT Dexin Steel Indonesia mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 65,89 MWp dengan pemasangan sekitar 119.800 panel surya di area atap seluas hampir 396.700 meter persegi. Sistem ini juga dilengkapi penyimpanan energi berkapasitas 22 MW/22 MWh. Pengembangan tambahan PLTS sebesar 18 MWuntuk fasilitas bahan baku saat ini telah mencapai progres sekitar 80 persen.
Menurut Dermawati, berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menjalankan industri yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“COP30 menjadi momentum memperkuat aksi nyata mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim. Kami berupaya memastikan pertumbuhan industri berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Komitmen itu juga tercermin dari keikutsertaan delegasi IMIP dalam Forum COP30 UNFCCC di Brasil pada 10–21 November 2025. Forum internasional tersebut membahas implementasi Perjanjian Paris, pengurangan emisi global, perlindungan hutan tropis dan biodiversitas, serta penguatan transisi menuju energi bersih.
Bagi kawasan industri yang tumbuh di jantung tambang nikel Indonesia, langkah-langkah tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian alam bukanlah dua hal yang harus saling meniadakan. Di tengah tantangan perubahan iklim, upaya menjaga keseimbangan itu justru menjadi fondasi penting bagi masa depan industri yang berkelanjutan.






