PALU,BULLETIN.ID – Kita sering membaca Al-Qur’an untuk mencari pembenaran. Padahal ia diturunkan untuk mengajarkan kita cara mencintai.
Setiap kali kekerasan meletus atas nama agama, kita kembali pada pertanyaan yang sama: benarkah Al-Qur’an mengajarkan itu? Setiap kali pidato kebencian disampaikan di atas mimbar, kita bertanya-tanya, dari mana ayat-ayat itu dibaca? Dan setiap kali seseorang dikafirkan hanya karena berbeda tafsir, kita bertanya-tanya lebih keras lagi: madrasah macam apa yang telah kita bangun?
Saya ingin mengajukan tesis yang sederhana namun, saya kira, mendesak: Al-Qur’an sejatinya adalah madrasah cinta. Bukan kitab kekerasan. Bukan legitimasi bagi mereka yang ingin mendominasi. Dan kita para pengajar, penceramah, penafsir perlu mengakui bahwa kita terlalu lama mengabaikan kurikulum itu.
Ketika teks dijadikan senjata
Ada paradoks menyakitkan yang hidup di tengah masyarakat Muslim Indonesia hari ini. Di satu sisi, kita adalah bangsa yang hafal banyak ayat Al-Qur’an. Di sisi lain, kita juga adalah bangsa yang mudah terbelah oleh tafsir yang dikutip sepotong-sepotong. Ayat tentang jihad dicabut dari konteksnya. Ayat tentang larangan berteman dengan non-Muslim dibaca tanpa memahami sebab turunnya. Teks yang agung diperlakukan seperti amunisi dalam pertarungan identitas.
Fenomena ini bukan baru. Namun dampaknya semakin terasa di era ketika sebuah ayat dapat menyebar ke jutaan ponsel dalam hitungan detik, tanpa penafsir, tanpa konteks, tanpa cinta.
Kurikulum yang terlupakan
Jika kita membaca Al-Qur’an secara utuh dan jujur, kita akan menemukan bahwa ia membangun apa yang bisa kita sebut sebagai kurikulum cinta yang sistematis dan bertingkat.
Pelajaran pertama dimulai dari cinta yang paling dekat: antara pasangan hidup. Allah menyebutnya dengan kata yang luar biasa kaya mawaddah wa rahmah.
“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Perhatikan: kata yang dipakai bukan sekadar hubb (cinta biasa). Mawaddah adalah cinta yang hangat dan bertahan. Rahmah adalah kasih sayang yang melampaui perasaan ia adalah tindakan, pengorbanan, kelembutan yang dipilih bahkan ketika rasa sudah memudar. Ini bukan romantisme. Ini pendidikan karakter paling dasar yang Allah tanamkan dalam institusi terkecil bernama keluarga.
Dari sana, kurikulum itu meluas. Cinta kepada sesama yang Allah gambarkan dalam perintah untuk saling menolong, menegakkan keadilan, dan melindungi yang lemah. Cinta yang tidak berhenti pada lingkaran sendiri, tetapi merentang ke tetangga, ke masyarakat, ke mereka yang berbeda keyakinan sekalipun.
Dan puncak dari seluruh kurikulum ini adalah satu ayat yang seharusnya menjadi identitas kita sebagai umat:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmatan lil ‘alamin. Bukan rahmat untuk sesama Muslim saja. Bukan rahmat untuk bangsa Arab saja. Seluruh alam al-‘alamin dalam semua keragaman dan kompleksitasnya. Ini bukan sekadar slogan. Ini adalah misi. Dan misi ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang telah lulus dari madrasah cinta.
Di mana kita salah arah?
Pendidikan agama kita terlalu lama berfokus pada apa yang haram dan apa yang halal, pada aturan dan hukuman, pada batas dan larangan. Semua itu penting. Tetapi tanpa landasan cinta, ia hanya menghasilkan satu jenis manusia: manusia yang taat karena takut, bukan karena kasih.
Manusia yang taat karena takut mudah menjadi alat. Mudah digerakkan oleh pemimpin yang pandai memainkan rasa curiga dan permusuhan. Mudah diyakinkan bahwa mereka yang berbeda adalah ancaman yang harus dilawan. Karena tidak ada cinta dalam fondasi mereka hanya aturan, dan aturan bisa diputarbalikkan.
Sementara itu, manusia yang taat karena cinta kepada Allah, kepada sesama, kepada kemanusiaan jauh lebih sulit dimanipulasi. Karena mereka membaca ayat bukan untuk mencari pembenaran, melainkan untuk menemukan petunjuk. Mereka tidak perlu musuh untuk merasa menjadi orang baik.
*Tugas kita sebagai penafsir*
Saya tidak sedang mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak berbicara tentang perang, tentang konflik, tentang batasan-batasan yang harus ditegakkan. Ia berbicara tentang semua itu dalam konteksnya, dengan hikmahnya. Tugas penafsir bukan mengaburkan hal itu. Tugas kita adalah memastikan bahwa ayat-ayat itu dibaca dalam kerangka yang benar: kerangka madrasah cinta itu.
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kekerasan, ia selalu meletakkannya dalam konteks keadilan dan pembelaan diri bukan penyerangan, bukan penindasan, bukan kebencian yang diwariskan turun-temurun. Ketika kita mencabut ayat dari konteks itu, kita bukan sedang menafsirkan Al-Qur’an. Kita sedang mengkhianatinya.
Sudah saatnya kita membangun ulang cara kita mengajarkan Al-Qur’an dari ruang kuliah, dari pesantren, dari pengajian keluarga, dari konten media sosial yang kita unggah. Bukan dengan menghapus ayat-ayat yang sulit, tetapi dengan mengembalikannya ke dalam kurikulum yang utuh: kurikulum yang dimulai dari cinta, dibangun di atas cinta, dan bermuara pada cinta bagi seluruh alam.
Karena jika kita gagal mengajarkan itu, maka yang kita hasilkan bukan generasi Muslim yang kuat. Yang kita hasilkan adalah generasi yang mudah marah, mudah tersinggung, dan mudah digunakan atas nama agama yang sejatinya mengajarkan sebaliknya.
Al-Qur’an adalah madrasah cinta. Mari kita kembali ke sana.
Oleh : Dr Kamridah (Dosen Universitas Islam Negeri Datokarama Palu)*






