Jakarta, BULLETIN – Nilai tukar Rupiah tertekan di pasar keuangan pada Senin (3/8/2026) seiring penguatan dolar AS dan meningkatnya perhatian terhadap arah kebijakan moneter global. Pelemahan ini menyebabkan dolar Singapura menembus Rp14.035,76 dan dolar AS mendekati level Rp17.994 per dolar.
Data pasar menunjukkan dolar Singapura (SGD) menguat tipis 0,02 persen terhadap Rupiah tertekan hingga Rp14.035,76 pada hari tersebut. Mata uang Negeri Singa tersebut diperkirakan bergerak dalam rentang Rp14.022,77 hingga Rp14.113,48 hingga akhir perdagangan, menunjukkan adanya resistensi pada level Rp14.000.
Pada pukul 13.54 WIB, Rupiah tertekan terhadap dolar AS di posisi Rp17.994 per dolar AS. Menurut data Bloomberg, pergerakan mata uang Garuda diproyeksikan berada di kisaran Rp17.975 hingga Rp18.040 hingga penutupan pasar, mendekati ambang Rp18.000.
Penguatan dolar AS sepanjang tahun 2026 menjadi faktor utama yang membebani Rupiah tertekan. Secara tahunan berjalan, dolar AS telah menguat sekitar 7,88 persen terhadap rupiah, menandakan tekanan yang konsisten. Dalam 52 minggu terakhir, pergerakan dolar AS berada pada kisaran Rp16.079 hingga Rp18.209.
Ekonom menilai pergerakan Rupiah tertekan masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Faktor utama termasuk ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS, kondisi ekonomi Amerika Serikat, serta arus modal asing ke pasar negara berkembang.
Analis pasar uang menambahkan bahwa investor masih cenderung berhati-hati. Mereka menanti data ekonomi penting Amerika Serikat, khususnya indikator ketenagakerjaan, yang dapat menjadi petunjuk mengenai langkah The Fed berikutnya terkait kebijakan moneter.
“Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama arah kebijakan The Fed dan kekuatan dolar AS di pasar global,” kata sejumlah analis pasar keuangan dalam kajiannya.
Selain faktor global, kondisi domestik seperti stabilitas ekonomi, kinerja ekspor-impor, serta kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ini semua turut menentukan arah Rupiah tertekan ke depan.
Bank Indonesia sebelumnya terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan. Ini termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan strategi operasi moneter untuk menjaga keseimbangan pasar, mengatasi dampak Rupiah tertekan.
Dengan tekanan dolar yang masih berlangsung, pelaku pasar memperkirakan volatilitas Rupiah tertekan berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek. Namun, fundamental ekonomi Indonesia dan kebijakan stabilisasi pemerintah menjadi faktor penting yang dapat menjaga pergerakan rupiah agar tetap terkendali.






