JAKARTA, BULLETIN – Krisis FIFA semakin memanas setelah tiga konfederasi sepak bola terbesar, UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF, secara terbuka mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mundur dari jabatannya.
Desakan tersebut disampaikan melalui surat terbuka bersama yang menyoroti kontroversi rencana FIFA membuka kepemilikan komersial sejumlah kompetisinya kepada investor swasta. Ketiga konfederasi menilai langkah Infantino dalam mengusulkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) telah merusak kepercayaan dan menunjukkan kegagalan dalam tata kelola organisasi.
Rencana FFE sebelumnya mencakup penjualan sekitar 20-21 persen kepemilikan perusahaan komersial baru kepada investor swasta, dengan estimasi dana hingga 4,2 miliar dolar AS. FFE dirancang untuk mengelola hak komersial seperti hak siar, sponsor, tiket, dan lisensi kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
Proposal tersebut memicu penolakan keras dari berbagai pihak, bahkan UEFA menilai komersialisasi tersebut telah melewati batas yang tidak seharusnya dilampaui lembaga sepak bola. Tekanan ini akhirnya membuat FIFA menarik kembali rencana tersebut, namun pencabutan proposal tidak menghentikan konflik antara Infantino dan sejumlah konfederasi yang berujung pada krisis FIFA ini.
Dalam surat terbuka terbaru, UEFA, AFC, dan CONCACAF menyebut persoalan tersebut bukan sekadar masalah komunikasi. Mereka mempertanyakan proses pengambilan keputusan dan minimnya konsultasi dengan anggota FIFA sebelum rencana investasi diumumkan, yang kian memperparah krisis FIFA.
Ketiganya juga menyerukan adanya pemeriksaan independen terhadap proses penyusunan dan pengajuan rencana tersebut. Krisis FIFA ini terus bergulir dan berpotensi membesar.
Selain mendesak perubahan kepemimpinan FIFA, ketiga konfederasi mulai membahas kemungkinan menggelar kompetisi alternatif jika konflik dengan FIFA tidak menemukan penyelesaian. Ancaman boikot terhadap sejumlah turnamen FIFA juga menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan di tengah krisis FIFA yang melanda.
Situasi ini berpotensi menjadi salah satu krisis tata kelola terbesar dalam sepak bola dunia dalam beberapa tahun terakhir. Jika konfederasi-konfederasi besar benar-benar mengambil langkah lebih jauh, konflik tersebut dapat berdampak terhadap penyelenggaraan berbagai kompetisi internasional, memperparah krisis FIFA yang ada.
Di tengah tekanan tersebut, posisi Infantino belum sepenuhnya terancam. Ia masih memperoleh dukungan dari sejumlah anggota FIFA, termasuk dari beberapa federasi di Afrika dan Amerika Selatan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga secara terbuka membela Infantino dan menyebut pergantian kepemimpinan FIFA sebagai sebuah kesalahan besar.
Infantino sendiri masih menghadapi pertarungan politik menuju pemilihan presiden FIFA berikutnya. Karena keputusan akhir berada di tangan 211 asosiasi anggota FIFA, dukungan dari konfederasi saja belum otomatis menjatuhkan presiden FIFA dan menyelesaikan krisis FIFA.
Krisis tersebut kini berkembang dari persoalan rencana komersialisasi Piala Dunia menjadi pertarungan lebih luas mengenai transparansi, tata kelola, dan arah kepemimpinan sepak bola dunia.






