PALU, BULLETIN – Pembangunan Kota Palu tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, namun juga kekuatan keluarga dan masyarakat di tingkat terkecil. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Palu, Hj. Diah Puspita, S.A.P., M.A.P., mendorong peran vital perempuan penggerak perubahan dari lingkungan RT dan RW. Hal ini disampaikannya saat bertemu istri Ketua RT/RW serta Ketua RT/RW perempuan dari Kecamatan Palu Utara dan Tawaeli pada Jumat, 28/08 di Rumah Jabatan Wali Kota Palu.
Pertemuan yang dihadiri sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan camat ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus ruang mendengarkan persoalan warga. Diah Puspita menekankan pentingnya peran perempuan sebagai penghubung aspirasi masyarakat dengan perangkat pemerintah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“Agenda kita malam ini adalah silaturahmi. Ini kali pertama saya bisa bersilaturahmi secara langsung dan bersama-sama dengan beberapa kecamatan,” kata Diah, mengawali pertemuan yang bertujuan untuk memperkuat posisi perempuan penggerak perubahan Palu.
Diah menempatkan keluarga sebagai fondasi pembangunan kota. Ia percaya bahwa target-target pemerintah akan sangat bergantung pada kondisi unit terkecil masyarakat ini. Oleh karena itu, perempuan memiliki peran strategis tidak hanya sebagai pendamping keluarga, tetapi juga sebagai motor penggerak ketahanan keluarga dan lingkungan.
“Keluarga kuat, masyarakat kuat, dan kalau masyarakat kuat, Kota Palu juga akan kuat,” ujarnya, menegaskan visinya tentang perempuan penggerak perubahan Palu.
Peran perempuan di tingkat RT dan RW menjadi sangat penting karena merekalah yang pertama kali melihat dan merasakan persoalan sosial, ekonomi, dan keluarga. Perempuan yang aktif di lingkungan dapat menjadi penggerak kegiatan pemberdayaan dan jembatan penyampai kebutuhan masyarakat kepada pemerintah.
Salah satu fokus Diah dalam pertemuan tersebut adalah penguatan peran TP-PKK hingga tingkat RT. Meskipun PKK dikenal kuat melalui kelompok dasawisma, Diah ingin gerakan pemberdayaan keluarga memiliki jangkauan lebih dekat dengan mendorong terbentuknya kegiatan PKK di tingkat RT sesuai ketentuan yang berlaku. Ini akan mengoptimalkan peran perempuan penggerak perubahan Palu.
“Saya ingin mengajak semuanya dimulai dari perempuan. Kita adalah roda penggerak dan agen perubahan,” katanya. Dorongan ini diharapkan membuat program pemberdayaan lebih mudah menyentuh kebutuhan keluarga secara langsung, sehingga kegiatan dapat disesuaikan dengan persoalan riil di masing-masing lingkungan.
Kehadiran pimpinan OPD dalam pertemuan tersebut juga krusial. Aspirasi warga tidak hanya didengar, tetapi dapat langsung dikomunikasikan dengan perangkat daerah terkait. Diah Puspita berharap forum ini menjadi ruang komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat.
“Selain silaturahmi, kita juga sharing. Mungkin ada permasalahan yang ingin disampaikan,” ujarnya. Pola komunikasi ini penting agar pemerintah dapat menangkap persoalan warga secara lebih komprehensif, tidak hanya dari laporan administratif, dan melihat peran perempuan penggerak perubahan Palu.
Dalam kesempatan itu, Diah juga menyoroti peran perempuan dalam mendukung pasangan menjalankan tugas dan tanggung jawab. Dukungan keluarga menjadi kekuatan dalam pengabdian kepada masyarakat. TP-PKK Kota Palu berkomitmen untuk mendukung hal ini.
“Dengan doa kita, dengan dukungan kita, insyaallah suami semakin kuat dalam menjalankan tugasnya,” tuturnya. Namun, Diah juga mendorong perempuan untuk mengambil peran aktif di lingkungan, tidak hanya sebagai pendukung di rumah. “Kita adalah roda penggerak dan agen perubahan,” tegasnya.
Diah membuka kesempatan bagi perempuan di Kota Palu untuk berkomunikasi dan menyampaikan aspirasi secara langsung. Ia berharap komunikasi antara TP-PKK, pemerintah wilayah, dan masyarakat terus berlanjut setelah pertemuan tersebut. “Saya ingin komunikasi ini terus berjalan,” tambahnya.
Pertemuan dengan perempuan dari Palu Utara dan Tawaeli ini membawa pesan penting: pembangunan kota dapat tumbuh dari keluarga dan lingkungan, bukan hanya dari gedung pemerintahan. Ketika perempuan diberi ruang berpartisipasi, aspirasi warga diperkuat dari tingkat RT dan RW, serta komunikasi dengan pemerintah berjalan terbuka, pemberdayaan keluarga dapat berkembang menjadi kekuatan sosial yang menopang pembangunan Kota Palu, dengan perempuan penggerak perubahan Palu sebagai garda terdepan.






