PALU,BULLETIN.ID – Krisis iklim diproyeksikan menjadi faktor pengganda risiko bencana di Sulawesi Tengah dalam beberapa dekade ke depan. Berdasarkan proyeksi periode 2020–2049 yang dipaparkan kepala SPAG Lore Lindu Bariri, wilayah Sulawesi Tengah Asep Firman Ilahi, diperkirakan akan menghadapi kondisi cuaca yang semakin ekstrem, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.
Dalam paparan bertajuk “Krisis Iklim Sebagai Multiplier Risiko”, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri saat ini adalah Asep Firman Ilahi, menjelaskan bahwa musim kemarau akan berlangsung lebih ekstrem dibandingkan kondisi saat ini. Suhu rata-rata tahunan diproyeksikan meningkat hingga 1,17 derajat Celsius, sementara suhu maksimum dapat melonjak lebih dari 3 derajat Celsius di sejumlah wilayah.
“ Peningkatan suhu ini berpotensi memicu kekeringan yang lebih parah, defisit air tanah, serta meningkatnya ancaman gelombang panas yang berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan kesehatan masyarakat” Kata Asep dalam Dialog dan Peluncuran Fellowship Jurnalis. Sabtu (13/06/2026).
Di sisi lain, musim hujan diperkirakan akan semakin basah. Jumlah hari hujan lebat berurutan pada periode Desember hingga Februari diproyeksikan meningkat antara 5 hingga 25 persen. Selain itu, hujan ekstrem dengan intensitas di atas 50 milimeter juga diprediksi mengalami peningkatan signifikan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan laju limpasan air permukaan yang dapat memicu banjir, tanah longsor, serta memperbesar risiko kejenuhan lereng di kawasan rawan bencana.
Sulawesi Tengah akan mengalami peningkatan suhu maksimum yang cukup tinggi, sementara daerah lainnya menghadapi peningkatan frekuensi hujan lebat. Fenomena ini menegaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada satu sektor, tetapi berpotensi memperburuk berbagai risiko yang sudah ada sebelumnya.
Para ahli menilai, hasil proyeksi tersebut menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
“ Untuk itu perlu upaya Upaya pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, penguatan sistem peringatan dini bencana, perlindungan kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS), serta pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim” tutur Asep
Dengan tren peningkatan suhu dan curah hujan ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga 2049, Sulawesi Tengah dihadapkan pada tantangan besar untuk membangun ketahanan iklim guna mengurangi dampak bencana yang semakin kompleks di masa mendatang.
Sementara itu manager area yayasan Seep wilayah Sulteng Mastu Ridho mengatakan bahwa Yayasan SEEP di Sulawesi Tengah saat ini fokus pada dua lanskap utama.
Pertama, kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Palu yang mencakup wilayah hulu di Dolo hingga kawasan pesisir. Kedua, lanskap Pantai Barat yang membentang hingga Balesang.
Pendekatan lanskap ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di satu wilayah akan berdampak pada wilayah lainnya.
“Misalnya, apa yang terjadi di Kabupaten Sigi akan memberikan pengaruh langsung terhadap Kota Palu Karena itu, kami berharap para jurnalis dapat melihat keterkaitan tersebut dalam proses pemberitaan, sehingga isu lingkungan tidak dipandang secara parsial, melainkan sebagai satu kesatuan ekosistem” Kata Kata Mastu Ridho.
Yayasan SEEP juga berupaya memperkuat aspek kebijakan melalui berbagai kajian dan riset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hingga saat ini baru terdapat dua kebijakan yang secara spesifik mendukung pengelolaan lingkungan dan tata ruang berkelanjutan di Sulawesi Tengah, yakni Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Tengah dan Peraturan Daerah tentang Kota Hijau.
Temuan ini menjadi dasar untuk mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan lain yang lebih responsif terhadap isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.(ind)






