JAKARTA, BULLETIN – Emiten PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menunjukkan tren penguatan signifikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22-23 Juli 2026. Analis memproyeksikan potensi kenaikan lanjutan untuk saham BUMI dan BRMS, didorong oleh sentimen positif komoditas serta dukungan teknikal yang kuat.
Saham BUMI tercatat mengalami breakout di level Rp170 per saham, sebuah sinyal kuat bagi investor. Jika momentum ini mampu dipertahankan, target kenaikan berikutnya untuk saham BUMI diproyeksikan bisa mencapai level Rp180 hingga Rp200. Kenaikan harga ini didukung oleh stabilnya harga batubara global di kisaran USD 140 per ton.
Di sisi lain, saham BRMS juga menunjukkan performa yang solid, dengan harga yang konsisten berada di atas semua garis Moving Average (MA5 hingga MA200). Kondisi ini mengindikasikan tren bullish jangka pendek hingga menengah. Sentimen positif terhadap BRMS juga diperkuat oleh harga emas internasional yang stabil di atas USD 2.400 per troy ounce.
Volume perdagangan untuk saham BUMI dan BRMS tetap tinggi, menunjukkan likuiditas yang baik di sektor tambang. Pada perdagangan terakhir, BUMI ditutup di level Rp172, naik 2,4%, sementara BRMS mengakhiri hari di Rp186, naik 1,6%, dengan posisi harga tetap di atas MA200.
Investor asing turut memberikan dukungan dengan mencatat net buy sebesar Rp45 miliar pada sektor tambang, termasuk ke dalam saham BUMI dan BRMS. Perkembangan positif ini juga sejalan dengan laporan keuangan semester I 2026 yang menunjukkan laba bersih BUMI mencapai Rp1,2 triliun dan BRMS Rp850 miliar.
“Breakout di level 170 untuk BUMI menjadi sinyal kuat bahwa saham ini masih punya ruang naik. Target berikutnya bisa menuju Rp200 jika volume mendukung,” kata Analis pasar modal, Arif Budiman.
Senada, Pengamat teknikal, Rina Kartika, menambahkan, “BRMS menunjukkan tren yang sehat karena harga berada di atas semua garis MA. Ini menandakan investor masih optimis terhadap prospek emas.”
Perdagangan kedua saham ini tunduk pada regulasi pasar modal yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Investor disarankan untuk selalu memperhatikan volume perdagangan dan sentimen komoditas global sebagai faktor penentu arah harga selanjutnya.
