CEUTA, BULLETIN – Eksklave Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, diguncang krisis migrasi besar-besaran pada 30-31 Juli 2026, ketika sekitar 60.000 migran, sebagian besar laki-laki muda asal Maroko, membanjiri wilayah tersebut. Krisis Migrasi Ceuta ini dipicu oleh dugaan ketegangan politik antara Maroko dan Spanyol, ditambah rumor perbatasan dibuka, serta keputusan hukum yang melarang deportasi langsung, menyebabkan ribuan orang menyeberang dengan berenang atau berjalan kaki.
Dalam 48 jam, sekitar 49.000 hingga 60.000 orang membanjiri Ceuta, wilayah dengan populasi sekitar 83.600 jiwa. Lonjakan ini menyebabkan fasilitas penerimaan migran kewalahan, dan tercatat 67 orang tewas, sebagian besar tenggelam saat menyeberang. Diperkirakan 7.000 anak di bawah umur juga termasuk dalam gelombang Krisis Migrasi Ceuta yang masif ini.
Pemerintah Spanyol segera mengerahkan tentara dan polisi tambahan untuk mengendalikan situasi di perbatasan. Gelombang migrasi ini terjadi tak lama setelah putusan Mahkamah Agung Spanyol pada Juli 2026 yang melarang deportasi langsung migran yang dicegat di laut menuju Ceuta atau Melilla, memperumit penanganan Krisis Migrasi Ceuta ini.
“Sekitar 60.000 orang telah memasuki Ceuta dalam beberapa hari terakhir – lebih dari separuh populasi kota. Ini adalah krisis nasional yang membutuhkan solidaritas Eropa,” kata Pedro Sánchez, Perdana Menteri Spanyol.
“Kami menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fasilitas penerimaan migran kewalahan, dan kami meminta pemerintah pusat untuk segera menetapkan status darurat nasional,” ujar Juan Jesús Vivas, Presiden Kota Ceuta.
“Spanyol adalah bagian dari Uni Eropa dan tidak akan dikucilkan dari Schengen. Kami menyerukan solusi bersama yang menghormati hak asasi manusia,” kata Juru Bicara Komisi Eropa.
Lonjakan migran ini memicu perdebatan panas di Eropa. Beberapa politisi di Italia dan Prancis menyerukan pengetatan perbatasan dan bahkan mengusulkan penangguhan Spanyol dari kawasan Schengen. Namun, Komisi Eropa dengan tegas menolak ide untuk mengucilkan Spanyol dalam menghadapi Krisis Migrasi Ceuta ini.
Krisis ini juga dipandang sebagai bentuk tekanan politik Maroko terhadap Spanyol, mengingatkan pada insiden serupa di tahun 2021. Hubungan diplomatik kedua negara semakin tegang akibat penanganan aliran migran yang tidak terkendali dari wilayah Maroko.
Secara keseluruhan, Krisis Migrasi Ceuta pada akhir Juli 2026 adalah peristiwa terbesar dalam sejarah perbatasan Maroko-Spanyol, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas politik Eropa dan krisis kemanusiaan lokal. Situasi ini menggarisbawahi rapuhnya kebijakan migrasi Eropa di wilayah Afrika Utara dan kebutuhan akan pendekatan yang lebih terkoordinasi.






