Guru di Parigi Moutong Berjuang Pastikan Murid Tak Merasa Dilupakan dengan Program MBG Mandiri

  • Whatsapp
MBG Mandiri
Guru di Parigi Moutong Berjuang Pastikan Murid Tak Merasa Dilupakan dengan Program MBG Mandiri (Foto: Captured IG @rskdrian)

PARIGI MOUTONG, BULLETIN – Di tengah keterbatasan akses dan belum sampainya program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah, seorang guru di SD Kecil (SDK) Ogolau, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengambil inisiatif mulia. Riska Andriani menciptakan MBG Mandiri untuk memastikan murid-muridnya di pelosok tidak merasa dilupakan. Aksi heroik Riska, seorang guru PPG Prajabatan, ini menuai banyak simpati dan perhatian.

Riska Andriani berjuang dengan biaya pribadi dan donasi untuk menyediakan makanan bagi murid-muridnya. Inisiatif MBG Mandiri ini muncul karena para siswa kerap bertanya kapan mereka akan mendapatkan MBG seperti di sekolah lain. Kondisi geografis SDK Ogolau yang terletak di perbukitan dengan akses sulit, diduga menjadi kendala belum masuknya program MBG resmi ke sekolah tersebut.

“Mereka selalu tanya, ‘Ibu kapan torang dapat MBG?’ Di desa ini hanya sekolahku yang belum dapat MBG karena akses sulit,” kata Riska melalui akun Instagram @rskdrian.

Riska kemudian memilih membuat apa yang disebutnya sebagai MBG Mandiri. Langkah ini diambil untuk menjaga perasaan anak didiknya agar tidak minder dan merasa berbeda dari teman-teman di sekolah lain. Program MBG Mandiri ini telah berjalan sejak Mei 2026 dan masih terus berlangsung berkat dukungan para donatur.

“Aku rela bikin MBG mandiri untuk anak-anakku biar nggak minder dan merasa hak mereka tidak diberikan,” tambahnya.

SDK Ogolau berada di kawasan perbukitan dengan kondisi akses yang tidak mudah. Jalan menuju sekolah melewati medan menanjak dan jalan setapak. Keterbatasan ini membuat distribusi program pemerintah menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Riska dan rekan guru lainnya untuk menyediakan makanan bagi para siswa.

Meskipun menu yang disajikan dalam MBG Mandiri belum tentu memenuhi standar perhitungan gizi program pemerintah, bagi anak-anak, makanan tersebut membawa kegembiraan besar. Mereka merasa diperhatikan dan tidak berbeda dengan teman-teman di sekolah lain. Riska bersyukur, makanan buatan guru ini diterima dengan baik oleh para siswa.

Berita Pilihan :  Cara Cek Penerima PIP dan KIP Kuliah Secara Online, Lengkap dengan Panduannya

“Alhamdulillah anak-anak juga suka, katanya enak MANTAP. Sejauh ini alhamdulillah aman untuk anak-anak. Semoga selanjutnya selalu dijaga,” ujarnya.

Di balik sepiring makanan yang tersaji, ada banyak tangan yang ikut bekerja. Riska menyebut para donatur yang menitipkan rezeki, serta seorang rekan guru yang ikut membantu memasak. Ia menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah peduli terhadap anak-anak di pelosok.

“Terima kasih telah berbaik hati, peduli, dan sayang kepada anak-anak kami,” tulis Riska.

Unggahan Riska mendapat perhatian luas dari warganet, menyoroti jarak antara kebijakan dan kenyataan di lapangan. Kisah ini menjadi gambaran betapa program nasional harus menempuh jalan panjang untuk mencapai anak-anak yang tinggal jauh dari pusat layanan, di mana MBG Mandiri menjadi solusi sementara.

Kisah SDK Ogolau memperlihatkan bahwa pemerataan program publik sering kali terhambat oleh kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam. Bagi sekolah di daerah terpencil, tantangannya bisa dimulai sejak kendaraan harus menembus jalan yang sulit, membawa bahan makanan melewati perbukitan, dan memastikan distribusi tiba secara rutin.

Riska menyadari kondisi tersebut. “Yasudahlahh, akses sulit, daerah khusus, tapi sudah bagus sih, lumayanlah dari sebelumnya. Tapi kalau memang belum rezekinya yah mau gimana,” tulisnya. Namun, kalimat itu tidak berarti ia menyerah, justru di tengah keterbatasan, Riska memilih melakukan apa yang bisa dilakukan dengan program MBG Mandiri.

Ia berharap kepedulian terhadap anak-anak di wilayah terpencil tidak berhenti pada bantuan sesaat. Anak-anak yang tinggal jauh dari pusat kota tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perhatian, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan gizi. Kisah dari Ogolau ini bukan hanya tentang seorang guru yang memasak, tetapi tentang jarak antara kebijakan dan kenyataan di lapangan—tentang anak-anak yang tinggal di balik perbukitan dan mungkin tidak banyak terdengar suaranya. Ketika program negara belum sampai, seorang guru memilih menjadi jembatan sementara melalui MBG Mandiri yang dia inisiasi.

Pos terkait