Terungkap! Dokumenter ‘A Beautiful Obsession’ Kuliti Sisi Pribadi Pep Guardiola

  • Whatsapp
A Beautiful Obsession
Terungkap! Dokumenter 'A Beautiful Obsession' Kuliti Sisi Pribadi Pep Guardiola. (Foto: Istimewa)

LONDON, BULLETIN – Pep Guardiola, pelatih kondang Manchester City, kembali menjadi sorotan publik. Namun, kali ini bukan karena strategi briliannya di lapangan, melainkan sisi personalnya yang terkuak dalam dokumenter terbaru berjudul “A Beautiful Obsession”. Film ini mengupas tuntas perjalanan rumah tangga Guardiola, tekanan di klub, hingga percakapan emosional dengan para pemain, menawarkan perspektif mendalam tentang sosok di balik kesuksesan seorang pelatih.

Dokumenter “A Beautiful Obsession” yang diproduksi untuk Prime Video ini menampilkan sejumlah momen di balik layar yang sebelumnya tidak diketahui publik. Salah satu bagian yang paling mencuri perhatian adalah pengakuan Guardiola mengenai hubungan rumah tangganya dengan Cristina Serra. Film ini menyorot bagaimana kehidupan pribadi seorang pelatih top seperti Guardiola juga tidak luput dari gejolak.

Dalam sebuah percakapan setelah pertandingan melawan Juventus, Guardiola secara terbuka mengungkapkan bahwa hubungannya dengan sang istri sedang menghadapi persoalan serius. Pengakuan ini menjadi salah satu bagian paling emosional dalam film “A Beautiful Obsession”.

“Saya akan bercerai dengan perempuan tercantik di planet ini. Istri saya, mantan istri saya,” kata Guardiola dalam dokumenter “A Beautiful Obsession”.

Guardiola kemudian menjelaskan bahwa keputusan tersebut tidak berkaitan dengan hilangnya rasa cinta. Menurutnya, persoalan utama dalam hubungan mereka adalah hilangnya gairah setelah menjalani kehidupan bersama selama puluhan tahun. Hal ini memberikan konteks mengapa film ini dinamakan “A Beautiful Obsession”, mungkin merujuk pada obsesi dalam hidup dan pekerjaannya.

“Apakah saya mencintainya? Tentu saja. Apakah dia mencintai saya? Ya, tetapi kami kehilangan gairah,” ujarnya.

Pengakuan tersebut kemudian ia kaitkan dengan filosofi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya sebagai pelatih. Film “A Beautiful Obsession” berhasil menunjukkan bagaimana kehidupan pribadi Guardiola memengaruhi pandangannya terhadap gairah dalam sepak bola.

“Apa pun yang kalian lakukan dalam hidup, lakukan dengan penuh gairah. Saya tidak ingin pemain bagus, saya ingin pemain yang punya gairah,” kata Guardiola.

Dokumenter “A Beautiful Obsession” juga memperlihatkan tekanan berat yang dialami Guardiola selama periode sulit Manchester City pada musim 2024-2025. Musim itu menjadi salah satu periode terburuk Guardiola sejak mengambil alih Manchester City pada 2016. Tekanan tidak hanya muncul dari performa tim, tetapi juga dari persoalan pribadi yang sedang dihadapinya, yang semua terangkum dalam “A Beautiful Obsession”.

Setelah Manchester City mengalami kekalahan dari Bayer Leverkusen di Liga Champions, Guardiola mengungkapkan kondisi emosionalnya kepada orang-orang terdekat di klub. Momen ini menjadi salah satu bagian paling mengharukan dari film “A Beautiful Obsession”.

“Saya ingin pergi. Saya sangat lelah dan merasa sangat sendirian,” ungkap Guardiola.

Berita Pilihan :  Debut Bruno Guimarães di Arsenal: The Gunners Imbang Lawan Como

Manel Estiarte, sosok yang selama ini menjadi salah satu orang terdekat Guardiola di Manchester City, mengaku belum pernah melihat sang pelatih berada dalam kondisi seperti itu. Menurut Estiarte, para pemain Manchester City bahkan mulai menyadari perubahan perilaku Guardiola. Ia mengatakan Guardiola terlihat lebih gugup, sedih, dan berbeda dari biasanya. Film “A Beautiful Obsession” berhasil menangkap kegelisahan ini.

Estiarte kemudian memberi tahu para pemain mengenai kondisi yang sedang dihadapi Guardiola. Ia meminta para pemain memahami keadaan sang pelatih karena Guardiola ketika itu sedang menghadapi proses perceraian, sebuah detail penting yang ditunjukkan oleh “A Beautiful Obsession”.

Dokumenter “A Beautiful Obsession” juga membuka sisi lain Guardiola dalam menangani ruang ganti. Salah satu adegan memperlihatkan perselisihan antara Guardiola dan Kyle Walker ketika bek Inggris tersebut masih menjadi kapten Manchester City. Insiden ini menambah bobot narasi dalam film “A Beautiful Obsession”.

Perselisihan terjadi setelah Manchester City mengalami kekalahan dari Liverpool di Premier League. Guardiola mempermasalahkan sikap Walker dan Rúben Dias setelah kehilangan bola yang kemudian berujung pada gol lawan. Adegan ini menunjukkan bagaimana Guardiola menuntut kesempurnaan, sebuah tema sentral dari “A Beautiful Obsession”.

Walker terlihat frustrasi karena namanya berulang kali disebut Guardiola dalam evaluasi tim. “Setiap kali selalu nama saya. Jika Anda terus menyebut nama saya dalam setiap pembicaraan, untuk apa pun, itu akan menjadi mustahil,” ujar Walker.

Guardiola kemudian menjelaskan bahwa persoalannya bukan semata-mata kesalahan Walker, melainkan konsep kehilangan bola yang menurutnya harus dipahami seluruh pemain. “Kamu tidak mengerti, Kyle. Yang saya maksud adalah konsep kehilangan bola. Mungkin saya terlalu fokus kepadamu karena kamu adalah kapten,” jawab Guardiola.

Namun Walker membalas dengan pernyataan yang menunjukkan adanya persoalan hubungan di antara keduanya. “Kamu tidak pernah menginginkan saya menjadi kapten,” kata Walker. Beberapa bulan setelah perselisihan tersebut, Walker akhirnya meninggalkan Manchester City, sebuah konsekuensi dari dinamika yang terekam dalam “A Beautiful Obsession”.

“A Beautiful Obsession” tidak hanya memperlihatkan Guardiola sebagai pelatih dengan sederet trofi. Dokumenter ini mencoba menggambarkan manusia di balik figur yang dikenal sangat detail, obsesif, dan menuntut kesempurnaan. Perceraian, kesepian, tekanan hasil pertandingan, hubungan dengan pemain, hingga keputusan meninggalkan Manchester City menjadi bagian dari cerita yang memperlihatkan sisi Guardiola yang jarang terlihat di hadapan publik.

Dokumenter “A Beautiful Obsession” dijadwalkan tersedia di Prime Video mulai 19 Agustus 2026. Kehadirannya memberikan kesempatan kepada publik untuk melihat perjalanan Guardiola dari sudut pandang yang berbeda: bukan hanya sebagai salah satu pelatih tersukses di dunia, tetapi sebagai seseorang yang juga menghadapi tekanan besar dalam kehidupan pribadi dan profesionalnya.

Pos terkait