Tiga Gempa Besar Guncang Indonesia dalam Sehari, NTT Paling Terdampak

  • Whatsapp
gempa besar Indonesia
ILUSTRASI

JAKARTA, BULLETIN – Indonesia diguncang tiga gempa besar dengan magnitudo signifikan di tiga wilayah berbeda dalam satu hari, Sabtu 15 Agustus 2026. Rangkaian gempa ini meliputi Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Simalungun, Sumatera Utara, dan Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menunjukkan aktivitas seismik tinggi di Indonesia.

Gempa pertama yang paling mematikan terjadi di Flores, NTT, disusul oleh gempa di Simalungun beberapa jam kemudian. Pada malam harinya, wilayah Parigi Moutong turut diguncang gempa besar. Peristiwa ini menyoroti kerentanan Indonesia terhadap bencana alam.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, hingga Sabtu pukul 18.48 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa M7,7 di NTT mencapai 47 orang. Korban tersebar di beberapa kabupaten, yakni Manggarai (24), Manggarai Timur (17), Sikka (3), Manggarai Barat (1), Ngada (1), dan Ende (1).

Selain korban jiwa, BNPB mencatat ratusan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan. Hingga pukul 17.00 WIB, tercatat 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan. Kerusakan juga melanda 87 fasilitas pendidikan, 18 fasilitas kesehatan, lima tempat ibadah, dan enam kantor.

Gempa M7,7 Guncang Flores

Gempa di NTT terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan kekuatan magnitudo 7,7. Pusat gempa besar ini berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

BMKG mencatat gempa tersebut bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault). Karena pusat gempa berada di laut dan tergolong dangkal, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami.

BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan. Namun, sejumlah gelombang tsunami sempat terdeteksi di beberapa titik.

BMKG mencatat gelombang tertinggi mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende. Sementara itu, beberapa wilayah lain mencatat gelombang dengan ketinggian antara 0,14 hingga 0,54 meter. Guncangan gempa terasa kuat hingga intensitas VI MMI di Wolowae, Kabupaten Nagekeo, dan Kota Bajawa.

Intensitas V MMI dirasakan di Ende, Borong, dan Ruteng. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat ratusan aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2, menunjukkan aktivitas seismik yang masih tinggi setelah gempa besar tersebut.

Simalungun Diguncang M6,4

Pada sore hari, gempa kembali mengguncang Indonesia, kali ini di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. BMKG mencatat gempa besar ini terjadi pada pukul 17.54.52 WIB, dengan parameter pemutakhiran berkekuatan M6,4 dan kedalaman sekitar 168 kilometer.

Berbeda dengan gempa di NTT, gempa Simalungun tidak berpotensi menimbulkan tsunami karena karakteristik dan kedalaman sumber gempanya. Guncangan gempa tersebut dirasakan di wilayah yang cukup luas, termasuk hingga Aceh, bahkan beberapa laporan menyebut getaran dirasakan sampai Malaysia. BNPB turut mencantumkan kejadian gempa besar M6,4 Simalungun dalam perkembangan bencana pada 15 Agustus 2026.

Berita Pilihan :  Seleksi penerimaan PCPM Bank Indonesia Angkatan 41 kembali dibuka

Parigi Moutong Diguncang pada Malam Hari

Belum selesai Indonesia menghadapi dampak gempa NTT dan Simalungun, gempa besar kembali terjadi pada Sabtu malam. BMKG mencatat gempa mengguncang wilayah Teluk Tomini, sekitar 74 kilometer barat daya Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada pukul 23.25.19 WIB.

Dalam parameter awal, BMKG mencatat gempa tersebut berkekuatan M6,2 dengan kedalaman 44 kilometer dan dinyatakan tidak berpotensi tsunami. Guncangan dirasakan cukup luas, tercatat hingga Parigi Moutong, Tolitoli, Donggala, Palu, Pohuwato, Gorontalo, Bolaang Mongondow Utara, hingga sejumlah wilayah di Kalimantan.

Dalam rilis pemutakhiran, BMKG kemudian menyebut magnitudo gempa menjadi M5,9 dengan kedalaman 60 kilometer, dengan episenter sekitar 71 kilometer barat daya Parigi Moutong. BMKG mengategorikan gempa tersebut sebagai gempa dangkal akibat deformasi batuan dalam lempeng dengan mekanisme pergerakan mendatar naik (oblique thrust fault).

Guncangan terkuat berdasarkan estimasi BMKG mencapai V MMI di Tinombo dan Dampelas. Sementara itu, Kota Parigi, Donggala, Tolitoli, dan Palu merasakan intensitas IV MMI. Hingga pukul 23.30 WIB, BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan setelah gempa besar Parigi Moutong tersebut.

Tiga Gempa, Tiga Wilayah

Rangkaian kejadian pada 15 Agustus 2026 menunjukkan aktivitas gempa besar terjadi di tiga kawasan Indonesia dalam rentang waktu kurang dari 24 jam. Gempa paling kuat sekaligus paling berdampak terjadi di Flores, NTT, dengan magnitudo 7,7 dan kedalaman 15 kilometer, menyebabkan 47 korban meninggal dunia berdasarkan data BNPB hingga Sabtu malam.

Beberapa jam kemudian, gempa M6,4 mengguncang Simalungun dengan sumber gempa jauh lebih dalam, yakni sekitar 168 kilometer, dan tidak berpotensi tsunami. Pada malam hari, gempa besar kembali mengguncang Sulawesi Tengah.

Gempa Parigi Moutong pada awalnya tercatat M6,2 dengan kedalaman 44 kilometer dan kemudian diperbarui BMKG menjadi M5,9 dengan kedalaman 60 kilometer. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta menjauhi bangunan yang retak atau mengalami kerusakan akibat gempa. Masyarakat juga diminta mengikuti perkembangan informasi hanya melalui kanal resmi BMKG.

Rangkaian kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan yang memiliki aktivitas seismik tinggi. Kesiapsiagaan masyarakat, penguatan bangunan, serta akses terhadap informasi kebencanaan yang akurat menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko korban ketika gempa besar kembali terjadi.

Pos terkait