PALU, BULLETIN – Masa depan industri kakao tak hanya soal produksi, namun juga terkait kesejahteraan petani, ketahanan ekonomi keluarga, dan khususnya Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao. Aspek-aspek krusial ini menjadi perhatian utama Program EMPOWER, inisiatif kolaborasi antara Save the Children Indonesia dan Cargill, yang telah enam tahun berjalan di empat kabupaten di Sulawesi, yaitu Poso (Sulawesi Tengah) serta Bone, Soppeng, dan Wajo (Sulawesi Selatan).
Pembelajaran dari pelaksanaan program ini didiskusikan dalam Workshop Pembelajaran Program EMPOWER bertajuk “Membangun Masa Depan Kakao Berkelanjutan: Sinergi Lintas Sektor untuk Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Komunitas di Sulawesi” yang diadakan di Hotel Best Western Palu, Kamis (20/08). Forum ini mempertemukan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, pelaku rantai pasok kakao, serta kelompok masyarakat. Tujuannya adalah meninjau capaian program dan merumuskan strategi agar praktik baik dalam Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao dapat terus berlanjut pasca-selesainya program.
Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, menjelaskan bahwa EMPOWER tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas kakao. Program ini juga dirancang untuk memastikan kakao yang memasuki rantai pasok global dihasilkan melalui praktik yang memerhatikan aspek sosial dan lingkungan. Hal ini termasuk memastikan anak-anak tidak terlibat dalam pekerjaan berbahaya atau mengorbankan pendidikan mereka, mendukung Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao yang komprehensif.
“Masyarakat dunia sekarang ingin mengonsumsi kakao yang dihasilkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosialnya. Mereka tidak mau mengonsumsi kakao yang dihasilkan anak-anak dengan harus meninggalkan sekolah,” kata Ihwana.
Menurut Ihwana, pendekatan ini menjadi sangat penting karena persoalan ekonomi keluarga petani sangat berkaitan erat dengan kerentanan anak. Ketika pendapatan keluarga terbatas, anak berpotensi dilibatkan dalam pekerjaan atau menghadapi hambatan dalam memperoleh pendidikan dan layanan dasar. Oleh karena itu, EMPOWER menjalankan intervensi secara simultan melalui penguatan Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao.
Selama program berlangsung, lebih dari 14 ribu petani dan 20 ribu anggota masyarakat telah terjangkau. Program ini juga membentuk 53 kelompok Village Savings and Loan Association (VSLA) yang beranggotakan lebih dari 700 orang. Dari kelompok simpan pinjam tersebut, tabungan masyarakat tercatat mencapai sekitar Rp2,4 miliar. Dana ini kemudian dapat dimanfaatkan kembali oleh anggota untuk berbagai kebutuhan, terutama kegiatan produktif di sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga, memperkuat Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao secara holistik.
Dampak positif juga terlihat pada pendapatan keluarga penerima manfaat. Berdasarkan studi yang dilakukan dalam program tersebut, rata-rata pendapatan rumah tangga penerima manfaat meningkat signifikan, dari sekitar Rp1,6 juta menjadi Rp3,4 juta per bulan.
Di sisi Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao, salah satu capaian EMPOWER adalah penguatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Ihwana menyebut sebanyak 745 isu perlindungan anak berhasil ditangani selama program berlangsung. Persoalan yang ditemukan beragam, mulai dari anak putus sekolah, kepemilikan akta kelahiran, pekerja anak, hingga akses terhadap perlindungan sosial.
Program ini juga mengidentifikasi lebih dari 1.000 anak di empat kabupaten, dengan lebih dari 100 anak teridentifikasi sebagai pekerja anak. Penanganan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, termasuk Dinas Sosial dan lembaga yang memiliki mandat perlindungan anak. Anak-anak yang teridentifikasi bekerja mendapatkan pendampingan, edukasi mengenai hak anak, serta dukungan agar dapat kembali mengakses pendidikan. Dalam sejumlah kasus, dukungan juga diberikan berupa perlengkapan sekolah.
Pendekatan yang digunakan EMPOWER tidak semata-mata memisahkan anak dari aktivitas keluarga di perkebunan. Perhatian utama adalah memastikan kegiatan yang dilakukan tidak membahayakan keselamatan, kesehatan, maupun tumbuh kembang anak, sejalan dengan prinsip Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao yang bertanggung jawab.
“Program ini tidak sepenuhnya melarang anak membantu orang tua di kebun. Namun, aktivitas tersebut harus memperhatikan keselamatan dan tumbuh kembang anak,” jelas Ihwana.
Anak, lanjutnya, tidak boleh dilibatkan dalam pekerjaan yang berisiko tinggi, seperti bersentuhan dengan bahan kimia berbahaya, menggunakan alat tajam, maupun mengoperasikan peralatan kerja yang dapat membahayakan keselamatan. Melalui rantai pasoknya, Cargill juga memberikan dukungan berupa penggantian sejumlah alat kerja dengan peralatan yang lebih aman. Pendekatan ini memungkinkan anak tetap mengenal aktivitas perkebunan bersama orang tua tanpa ditempatkan pada pekerjaan yang berisiko.
Director Humanitarian and Program Operations Save the Children Indonesia, Fadli Usman, mengatakan EMPOWER dibangun dengan pendekatan ekosistem. Artinya, perlindungan anak tidak dibebankan hanya kepada keluarga, tetapi membutuhkan keterlibatan perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Menurutnya, kakao merupakan salah satu aset ekonomi penting bagi masyarakat di wilayah sasaran. Karena itu, penguatan ekonomi petani perlu berjalan beriringan dengan hak anak, memastikan Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao yang seimbang.
“Tujuan utama adalah perlindungan anak. Tetapi kami melihat aset terbesar masyarakat adalah kakao. Program ini pemberdayaan masyarakat. Kita gerakkan ekosistem mulai dari Cargill, pemerintah hingga kelompok-kelompok masyarakat,” ujar Fadli. Selain pekerja anak, program juga diarahkan untuk mencegah perkawinan dini serta memperkuat pemahaman masyarakat mengenai hak dan perlindungan anak.
Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan praktik baik yang telah dibangun tidak berhenti ketika program memasuki fase akhir. Fadli mengatakan keberlanjutan menjadi salah satu indikator penting keberhasilan EMPOWER. Kelompok masyarakat diharapkan mampu melanjutkan PATBM, kelompok simpan pinjam, literasi keuangan, hingga pemberdayaan petani muda secara mandiri. “Program memang selesai, tetapi edukasi tetap berjalan. Masyarakat yang melanjutkan program secara mandiri itulah yang menjadi ukuran bahwa edukasi kami berhasil,” pungkasnya.
Bagi ekosistem kakao di Sulawesi, keberlanjutan pada akhirnya tidak hanya berarti menjaga produksi dan kualitas komoditas. Lebih jauh, keberlanjutan menuntut agar kakao dihasilkan dari keluarga petani yang semakin kuat secara ekonomi dan lingkungan sosial yang mampu memastikan anak-anak tetap aman, terlindungi, serta memiliki kesempatan untuk belajar dan tumbuh. Dengan pendekatan tersebut, kakao tidak sekadar dipandang sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun masa depan komunitas petani yang lebih tangguh dan ramah anak, mendukung sepenuhnya Perlindungan Anak dan Ekonomi Petani Kakao.






