Mengapa Otak Lebih Mudah Ingat Kesalahan daripada Pujian?

  • Whatsapp
otak lebih ingat kesalahan
ILUSTRASI

JAKARTA, BULLETIN – Pernahkah Anda merasa satu komentar negatif terus terngiang di kepala, sementara pujian yang melimpah justru cepat terlupakan? Fenomena ini, di mana otak lebih ingat kesalahan daripada hal positif, dikenal sebagai negativity bias atau bias negatif. Kecenderungan ini bukan sekadar sensitivitas pribadi, melainkan mekanisme alami otak manusia dalam memproses informasi.

Secara sederhana, bias negatif menjelaskan bahwa otak cenderung memberikan perhatian lebih besar pada informasi yang dianggap mengancam, merugikan, atau negatif dibandingkan informasi positif. Akibatnya, satu kesalahan kecil dapat terasa jauh lebih membekas dibandingkan banyak keberhasilan yang telah dicapai.

Dari sudut pandang evolusi, kecenderungan otak lebih ingat kesalahan ini memiliki fungsi penting. Manusia zaman dahulu perlu mengenali ancaman dan mengingat pengalaman buruk untuk menghindari bahaya serupa di kemudian hari. Kesalahan, penolakan, kritik, atau konflik dianggap sebagai informasi vital yang memerlukan respons cepat, sehingga otak memprioritaskan dan memprosesnya lebih dalam.

Bayangkan seseorang mendapatkan sepuluh pujian atas pekerjaannya, namun kemudian menerima satu kritik tajam. Secara rasional, sembilan atau sepuluh pujian seharusnya membuatnya merasa dihargai. Namun, yang terus muncul dalam pikiran adalah kritik tersebut karena pengalaman negatif dapat memicu perhatian dan respons emosional yang lebih kuat.

Pengalaman yang disertai emosi kuat cenderung lebih mudah diingat. Rasa malu saat melakukan kesalahan di depan umum, misalnya, dapat membuat ingatan bertahan bertahun-tahun. Sebaliknya, pujian dalam situasi biasa mungkin tidak meninggalkan jejak emosional yang sama kuat, sehingga otak lebih ingat kesalahan yang menguras emosi.

Bias negatif bukan berarti manusia tidak mampu mengingat pengalaman menyenangkan. Momen kelulusan, keberhasilan mencapai target, atau dukungan dari orang penting juga dapat membentuk kenangan yang kuat, terutama jika memiliki makna emosional besar. Masalah muncul ketika perhatian terhadap hal negatif menjadi terlalu dominan, sehingga seseorang terus mengulang kesalahan dalam pikirannya.

Berita Pilihan :  Remaja Tidak Pacaran: Studi UGA Buktikan Keterampilan Sosial & Mental Lebih Baik

Untuk mengatasi kecenderungan ini, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menempatkan kesalahan dalam konteks yang lebih luas. Daripada berpikir, “Saya selalu gagal,” ubahlah menjadi, “Saya melakukan kesalahan dalam situasi ini dan bisa memperbaikinya.” Mencatat pencapaian kecil, mengingat kembali hal-hal yang berjalan baik, dan menerima pujian tanpa meremehkannya dapat membantu menyeimbangkan perhatian terhadap pengalaman negatif. Informasi lebih lanjut mengenai cara kerja bias negatif dapat ditemukan di sumber-sumber psikologi terkemuka seperti American Psychological Association.

Pada akhirnya, otak lebih ingat kesalahan bukan selalu hal buruk; kesalahan dapat menjadi sumber pembelajaran berharga. Yang perlu dihindari adalah ketika satu kesalahan mengambil alih seluruh penilaian terhadap diri sendiri. Kita dapat belajar memberikan ruang yang sama bagi keberhasilan, apresiasi, dan pengalaman positif yang sering kali luput kita sadari.

Pos terkait