PONTIANAK, BULLETIN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini mulai dirasakan dampaknya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dengan adanya kenaikan signifikan pada kasus ISPA di Pontianak hingga 10% dalam sepekan terakhir.
Dinas Kesehatan setempat mencatat, angka infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan sekitar 5-10 persen beriringan dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti beberapa wilayah di kota tersebut. Peningkatan kasus ISPA di Pontianak ini menjadi perhatian serius, meskipun Dinas Kesehatan belum bisa memastikan seluruh peningkatan sepenuhnya disebabkan oleh paparan asap karhutla.
Saptiko, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, menyampaikan bahwa peningkatan kasus ISPA di Pontianak telah terlihat sejak minggu sebelumnya. “Berdasarkan data, memang mulai minggu kemarin sampai minggu ini ada peningkatan kasus ISPA, kira-kira 5-10 persen peningkatannya dari kasus harian,” kata Saptiko di Pontianak, dikutip Antara, Selasa (25/08).
Peningkatan kasus ISPA di Pontianak ini menjadi indikator penting terhadap kualitas udara yang semakin memburuk. Paparan udara tercemar asap berpotensi memperburuk kondisi saluran pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.
Dinas Kesehatan Kota Pontianak mengimbau lansia, ibu hamil, bayi, balita, serta penderita asma dan penyakit jantung untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan partikel pencemar.
Meskipun terjadi peningkatan kasus ISPA di Pontianak yang bersamaan dengan munculnya kabut asap, Dinas Kesehatan Kota Pontianak tidak serta-merta menyimpulkan bahwa semua kasus ISPA disebabkan oleh karhutla.
“Kami tidak bisa membedakan apakah itu kasus ISPA karena asap atau bukan. ISPA itu banyak faktor lain yang menyebabkan. Tapi indikasi dengan adanya asap, ada peningkatan kasus ISPA,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa peningkatan kasus ISPA di Pontianak menjadi sinyal kewaspadaan, namun diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti tiap kasus. Di tengah potensi asap karhutla yang masih terus ada, masyarakat diharapkan tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Lebih lanjut, informasi mengenai ISPA dapat diakses melalui situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pembatasan aktivitas di luar ruangan dan penggunaan masker menjadi langkah pencegahan krusial, terutama saat kualitas udara memburuk. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan publik melalui peningkatan kasus ISPA di Pontianak.
Sumber :Antara
