PALU, BULLETIN – Wakil Wali Kota Palu, Imelda Liliana Muhidin, secara simbolis membuka Seminar Awal Penyusunan Dokumen Indeks Ketahanan Daerah (IKD) Kota Palu Tahun 2026 pada Selasa (15/9/2026) di Ruang Rapat Bantaya, Kantor Wali Kota Palu, sebagai upaya meningkatkan Ketahanan Bencana Kota Palu.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu ini melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi terkait. Tujuannya adalah memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi potensi bencana serta meningkatkan Ketahanan Bencana Kota Palu.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Imelda menegaskan bahwa Kota Palu memiliki potensi ancaman bencana yang tinggi, dengan setidaknya 10 jenis ancaman bencana yang dapat terjadi kapan saja. Oleh karena itu, peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan merupakan kunci utama untuk membangun Ketahanan Bencana Kota Palu.
“Untuk itu kita semua harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman bencana tersebut, dan hal itu dapat dicerminkan dengan kondisi Indeks Ketahanan Daerah,” kata Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin.
Wakil Wali Kota menjelaskan bahwa Indeks Ketahanan Daerah Kota Palu pada tahun 2025 telah mencapai 0,74, menempatkan kota ini dalam kategori ketahanan sedang. Meskipun demikian, capaian ini masih perlu ditingkatkan mengingat ancaman bencana yang masih tinggi di wilayah tersebut. Upaya ini penting untuk terus meningkatkan Ketahanan Bencana Kota Palu.
“Kita harus terus meningkatkan ketahanan daerah hingga dapat mencapai kategori tinggi, yaitu di atas 0,80,” tegas Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin.
Peningkatan ketahanan daerah ini, lanjut Imelda, telah berkontribusi pada penurunan Indeks Risiko Bencana Kota Palu. Sebelumnya, indeks risiko bencana berada di kisaran 165 hingga 181,2 pada periode 2015–2020, yang kemudian berhasil diturunkan menjadi 136,12 pada tahun 2025, menandakan kemajuan dalam Ketahanan Bencana Kota Palu.
Menurutnya, penurunan tersebut merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi semua pemangku kepentingan dalam meningkatkan kapasitas dan Ketahanan Bencana Kota Palu. Dengan terus meningkatnya Indeks Ketahanan Daerah, diharapkan Indeks Risiko Bencana akan semakin menurun, menjadikan Palu kota yang tangguh bencana atau resilient city.
Komitmen bersama ini memerlukan peningkatan koordinasi dan konsolidasi kekuatan dari seluruh pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana di Kota Palu. Setiap instansi diharapkan dapat berkontribusi sesuai tugas pokok, fungsi, dan kewenangan masing-masing demi penguatan Ketahanan Bencana Kota Palu.
Wakil Wali Kota juga menyoroti keterkaitan erat antara penanggulangan bencana dengan capaian pembangunan di berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk ekonomi, sosial, budaya, keamanan, dan kenyamanan. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan Kota Palu menuju kota yang mandiri, aman dan nyaman, tangguh, serta profesional dalam konteks pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Peristiwa bencana besar pada 28 September 2018 menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus memperkuat ketangguhan daerah. Pengalaman ini harus menjadi momentum untuk menekan dampak dan risiko bencana melalui peningkatan Ketahanan Bencana Kota Palu secara bertahap.
Peningkatan ketangguhan daerah harus dilakukan dengan evaluasi berkelanjutan terhadap kelemahan dalam aspek pencegahan dan kesiapsiagaan, terutama mengingat keterbatasan sumber daya manusia, peralatan, pembiayaan, dan budaya sadar bencana masyarakat. Ini semua demi mewujudkan Ketahanan Bencana Kota Palu yang lebih baik.
“Oleh sebab itu, saya mengimbau kepada kita semua agar keterbatasan-keterbatasan yang ada dapat kita atasi secara bertahap, sehingga dapat mendorong kemajuan ketahanan daerah Kota Palu,” tambah Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin.
Pemerintah Kota Palu, kata Imelda, akan menyusun Dokumen Risiko Bencana baru pada tahun 2026 yang diharapkan memberikan gambaran terkini mengenai pemetaan risiko dan bahaya bencana. Penyusunan Indeks Ketahanan Daerah Tahun 2026 diharapkan dapat melengkapi dokumen perencanaan kebencanaan lainnya seperti Rencana Penanggulangan Bencana, Rencana Kontingensi, dan Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana, guna memperkuat Ketahanan Bencana Kota Palu.
Seluruh dokumen tersebut perlu disusun dengan melibatkan unsur pentahelix di Kota Palu, agar menjadi acuan bersama dalam menghadapi berbagai potensi bencana. “Melalui dokumen-dokumen tersebut akan terbangun kesatuan gerakan partisipatif semua pihak atau stakeholder dalam kerangka penanggulangan bencana,” tutur Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin.
Di akhir sambutannya, Wakil Wali Kota Imelda menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya berorientasi pada penanganan darurat, melainkan harus diperkuat melalui pencegahan dan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi. Upaya ini krusial untuk menekan risiko bencana dan kebutuhan pascabencana, serta membangun Ketahanan Bencana Kota Palu.
“Pencegahan dan kesiapsiagaan menjadi bagian penting agar memperkecil risiko bencana dan kebutuhan pascabencana dalam bentuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Kita berharap dengan kekuatan prabencana, kita dapat menekan risiko bencana di Kota Palu,” pungkas Wakil Wali Kota Imelda Liliana Muhidin.






