UMKM Luwuk Andalkan Produk Perikanan dan Pangan

  • Whatsapp
Salah satu pelaku UMKM, Dwi Asih memperlihatkan hasil olahan ikan tuna (abon ikan). (Foto:Indrawati Zainuddin)

PALU, BULLETIN.ID – Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Kabupaten Banggai mulai menunjukkan potensi untuk menembus pasar yang lebih luas. Sejumlah pelaku usaha asal Luwuk membawa produk unggulan daerah dalam pameran UMKM di Sulawesi Tengah yang dirangkaikan dengan deklarasi gerakan 1.000 pelaku usaha ekspor di Palu. Senin (28/09/2026).  

UMKM dari Kabupaten Luwuk Banggai merupakan bagian dari peserta PABETA (Program Inkubasi UMKM) Sulawesi Tengah, yang diikuti 25 UMKM terpilih lainnya dari 13 Kabupaten Kota di Sulteng. 

Produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari olahan hasil perikanan, durian, kelapa, hingga cokelat. Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi lokal tidak hanya bertumpu pada komoditas mentah, tetapi mulai diarahkan menjadi produk bernilai tambah.

Salah satu pelaku UMKM, Dwi Asih, mengatakan produk perikanan menjadi salah satu unggulan yang mereka bawa dalam kegiatan tersebut.

“Hasil produk ikan ada ikan tuna, ada abon ikan tenggiri, ada abon kepiting, juga ada abon tempe,” kata Dwi Asih.

Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan tersebut memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus melihat peluang pengembangan usaha ke depan.

Dwi menilai deklarasi dan program inkubasi UMKM menjadi momentum untuk mengidentifikasi pelaku usaha yang telah memiliki kapasitas untuk berkembang atau naik kelas.

“Cukup senang dengan adanya kegiatan ini. Dengan adanya deklarasi, bisa terlihat mana UMKM yang sudah naik kelas untuk diikutsertakan pada PABETA Sulteng,” ujarnya.

Pengembangan UMKM di Banggai sejauh ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah melalui dinas terkait. Dukungan tersebut tidak hanya berupa pembinaan, tetapi juga bantuan sarana produksi dan peralatan usaha.

Berita Pilihan :  Foto Masjid Terapung Menang di SFI ke-46, Rekam Jejak Tsunami Palu dari Balik Lensa

Dukungan serupa juga datang dari sejumlah perusahaan yang memberikan bantuan alat usaha maupun alat produksi kepada pelaku UMKM.

Bagi pelaku usaha, dukungan tersebut menjadi bagian penting untuk meningkatkan kapasitas produksi. Sebab, tantangan UMKM tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, meningkatkan jumlah produksi, memperkuat kemasan, dan memenuhi kebutuhan pasar yang lebih besar.

Di Kabupaten Banggai sendiri, jumlah UMKM mencapai sekitar 500 pelaku usaha. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya basis ekonomi masyarakat yang dapat dikembangkan apabila mendapat pendampingan dan akses pasar secara berkelanjutan.

Kehadiran UMKM Luwuk dalam kegiatan pameran dan program inkubasi menjadi bagian dari proses tersebut. Produk lokal tidak lagi hanya diposisikan sebagai komoditas khas daerah, tetapi didorong menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dengan penguatan kapasitas produksi, pendampingan usaha dan pembukaan akses pasar, UMKM di Banggai berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus memperluas manfaat komoditas lokal bagi masyarakat.

Sementara itu Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid menyampaikan bahwa UMKM tidak boleh dipandang sebelah mata karena memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian daerah sekaligus membuka peluang bagi produk lokal untuk menembus pasar internasional.

Ia juga menyebutkan semakin terbukanya konektivitas penerbangan internasional di Kota Palu menjadi peluang besar bagi pelaku usaha Sulawesi Tengah.

“Satu minggu dua kali penerbangan internasional kita ke Guangzhou, informasinya akan setiap hari, sehingga peluang UMKM kita semakin mendunia,” ujarnya.

Ia menyebut sejumlah komoditas potensial yang telah memiliki pasar ekspor, diantaranya sarang burung walet, durian, serta berbagai produk pertanian dan perikanan lainnya.

Pos terkait