Open Trip Pendakian Kian Diminati, Tren FOMO Dorong Anak Muda Jelajahi Gunung

  • Whatsapp
Tren Naik Gunung Anak Muda
ikustrasi (pixabay.com)

JAKARTA, BULLETIN.ID – Tren open trip pendakian gunung semakin berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menikmati wisata alam. Kemudahan bergabung dalam perjalanan tanpa harus memiliki kelompok sendiri membuat layanan open trip menjadi pilihan favorit bagi para pendaki pemula.

Fenomena ini tak lepas dari pengaruh media sosial yang menghadirkan beragam konten panorama puncak gunung, lautan awan, hingga aktivitas berkemah. Unggahan tersebut mendorong banyak anak muda mencoba pengalaman mendaki melalui paket-paket open trip yang kini semakin mudah ditemukan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menilai meningkatnya minat masyarakat mendaki gunung dipengaruhi oleh budaya Fear of Missing Out (FOMO).

“Fenomena tersebut dipengaruhi oleh budaya Fear of Missing Out (FOMO), di mana banyak anak muda terdorong mendaki gunung setelah melihat unggahan di media sosial,” ujar Raja Juli Antoni.

Seiring meningkatnya antusiasme tersebut, pelaku usaha wisata alam mencatat permintaan paket open trip terus bertambah, terutama pada musim liburan dan akhir pekan. Selain menawarkan biaya yang lebih terjangkau, layanan ini juga menyediakan pemandu, transportasi, hingga penyewaan perlengkapan sehingga memudahkan masyarakat yang baru pertama kali mendaki.

Lonjakan jumlah pendaki terlihat di sejumlah gunung favorit seperti Rinjani, Gede, Merbabu, Prau, Semeru, hingga Sindoro. Pada libur panjang Mei 2026, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mencatat sebanyak 1.505 pendaki dalam tiga hari, terdiri atas 965 wisatawan domestik dan 540 wisatawan mancanegara.

Aktivitas pendakian juga tercermin dari data yang dihimpun DataGunung Indonesia. Sepanjang 2026, ratusan laporan pendakian baru terus bermunculan setiap bulan dari berbagai gunung di Indonesia. Para pendaki aktif membagikan informasi mengenai kondisi jalur, cuaca, hingga pengalaman pendakian yang kemudian menjadi referensi bagi calon peserta open trip.

Jika sebelumnya mendaki lebih identik dengan aktivitas organisasi pecinta alam, kini kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari gaya hidup. Kemudahan memperoleh informasi jalur, sistem pemesanan tiket secara daring, hingga menjamurnya penyedia jasa open trip membuat aktivitas mendaki semakin mudah dijangkau berbagai kalangan.

Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa meningkatnya tren pendakian harus diimbangi dengan aspek keselamatan dan pelestarian lingkungan. Kementerian Kehutanan menilai pengelolaan kawasan konservasi perlu diperkuat melalui digitalisasi, pembatasan kuota pendaki, serta edukasi mengenai etika pendakian.

Pengelola taman nasional juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mendaki gunung yang masih ditutup. Balai Taman Nasional Gunung Merapi, misalnya, hingga kini belum membuka jalur pendakian karena aktivitas vulkanik masih berada pada level yang membahayakan. Meski demikian, masih ditemukan pendaki ilegal yang nekat memasuki kawasan tersebut.

Selain faktor keselamatan, meningkatnya jumlah pendaki turut memunculkan tantangan berupa sampah, pelanggaran jalur, hingga kecelakaan akibat kurangnya persiapan fisik dan perlengkapan. Karena itu, para penyelenggara open trip diharapkan tidak hanya menawarkan kemudahan perjalanan, tetapi juga memastikan peserta memahami prosedur keselamatan dan menerapkan prinsip Leave No Trace, yakni tidak meninggalkan sampah maupun merusak ekosistem.

Dengan semakin banyaknya komunitas pendaki, kemudahan akses informasi, serta berkembangnya layanan open trip, wisata pendakian diperkirakan masih akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian kawasan pegunungan agar tetap aman dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Berita Pilihan :  Benarkah Daun Kemangi Bisa Turunkan Gula Darah dan Cegah Penyakit? Ini Kata Para Ahli

Pos terkait