Roket SpaceX Diprediksi Hantam Bulan, Picu Ledakan 2,8 Ton TNT

  • Whatsapp
roket SpaceX hantam Bulan sampah antariksa

JAKARTA, BULLETIN – Sebuah tahap roket Falcon 9 milik SpaceX diprediksi akan menghantam permukaan Bulan pada 05/08/2026, menandai salah satu peristiwa langka yang kembali memunculkan perhatian terhadap pengelolaan sampah antariksa. Roket SpaceX yang diluncurkan pada 15/01/2025 itu diperkirakan akan menabrak kawasan Kawah Einstein dengan kecepatan sekitar 8.750 kilometer per jam. Meski tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun misi manusia di Bulan saat ini, insiden tersebut menjadi pengingat penting akan perlunya prosedur pembuangan sampah antariksa yang lebih aman di masa depan.

Berdasarkan analisis astronom independen Bill Gray, tahap kedua roket Falcon 9 diprediksi akan menabrak Bulan dengan keyakinan tinggi. Gray, yang mengembangkan perangkat lunak Project Pluto untuk melacak objek dekat Bumi, menyebut tim astronom telah mengidentifikasi bahwa objek tersebut memang merupakan tahap kedua Falcon 9 yang sebelumnya mengantarkan dua wahana pendarat Bulan, yakni Firefly Blue Ghost dan ispace Hakuto-R. Setelah kedua wahana berpisah, bagian roket itu tetap mengorbit Bumi dan tidak kembali memasuki atmosfer. Analisis lintasan dari lebih dari seribu pengamatan menunjukkan objek tersebut akhirnya akan bertabrakan dengan Bulan.

Menurut perhitungan Gray, benda sepanjang sekitar 13,8 meter dengan diameter 3,7 meter itu akan menghantam kawasan Kawah Einstein di sisi dekat Bulan dengan kecepatan sekitar 2,43 kilometer per detik. Karena Bulan tidak memiliki atmosfer, bagian roket diperkirakan tidak akan terbakar sebelum mencapai permukaan. Tabrakan roket SpaceX diperkirakan hanya akan membentuk kawah kecil dan tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi Bulan.

Meski Bulan berada pada posisi yang dapat diamati dari sebagian wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan saat peristiwa berlangsung, Gray memperkirakan kilatan akibat tumbukan kemungkinan terlalu redup untuk dapat diamati melalui teleskop yang berada di Bumi.

Para astronom menegaskan bahwa tabrakan tersebut tidak menimbulkan risiko terhadap misi antariksa yang sedang berlangsung maupun objek buatan manusia di Bulan. Lokasi tumbukan juga berada jauh dari area pendaratan wahana yang ada saat ini. Namun, peristiwa tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah meningkatnya aktivitas eksplorasi Bulan yang dilakukan oleh berbagai negara dan perusahaan swasta.

Berita Pilihan :  Robot Humanoid Sally Ditunda: Kontroversi AI di Kelas Memanas

NASA bersama berbagai badan antariksa dan perusahaan swasta tengah mempersiapkan pembangunan pangkalan semi permanen di kawasan kutub selatan Bulan melalui berbagai misi dalam beberapa tahun mendatang. Dengan semakin banyaknya peluncuran menuju Bulan, para ilmuwan menilai pengelolaan sampah antariksa akan menjadi isu penting agar tidak menimbulkan risiko bagi operasi eksplorasi di masa depan.

“Langkah ini relatif mudah dilakukan dan seharusnya menjadi prosedur standar demi menjaga keselamatan operasi manusia di Bulan pada masa mendatang,” tulis Gray dalam laporannya tentang pengelolaan sampah antariksa, yang dikutip dari situs https://arstechnica.com/

Gray menyarankan perusahaan peluncur roket mengalokasikan sedikit bahan bakar tambahan untuk mengarahkan tahap roket bekas ke orbit pembuangan yang mengelilingi Matahari, sehingga tidak lagi berpotensi menabrak Bumi maupun Bulan. Langkah ini dianggap penting untuk mencegah sampah antariksa dari roket SpaceX dan wahana lainnya mengganggu eksplorasi masa depan.

Peristiwa prediksi roket SpaceX menghantam Bulan ini bukan kali pertama. Pada 2022, astronom sempat mengira sebuah tahap roket Falcon 9 akan menabrak permukaan Bulan. Namun, analisis lanjutan menunjukkan objek tersebut sebenarnya merupakan tahap roket dari misi China National Space Administration dalam proyek Chang’e 5-T1.

Berbeda dengan kasus sebelumnya, Gray menegaskan identitas objek kali ini jauh lebih pasti karena lintasannya telah dipantau secara terus-menerus sejak peluncuran pada Januari 2025, sehingga peluang kesalahan identifikasi sangat kecil. Seiring meningkatnya ambisi eksplorasi Bulan oleh berbagai negara dan perusahaan antariksa, pengelolaan sampah antariksa tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan aktivitas manusia di luar angkasa. (NN)

Pos terkait