JAKARTA, BULLETIN – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau Kredit BNI Semester I 2026 mencatatkan pertumbuhan signifikan, mencapai Rp968,5 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan 24,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), mendekati target psikologis Rp1.000 triliun.
Ekspansi penyaluran Kredit BNI Semester I 2026 ini ditopang oleh diversifikasi portofolio pada berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis. Mulai dari korporasi, menengah, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga konsumer, semuanya berkontribusi terhadap capaian tersebut.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyatakan bahwa perseroan terus mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Ekspansi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan prospek industri dan profil risiko debitur, demi menjaga kualitas portofolio Kredit BNI Semester I 2026.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” kata Putrama Wahju Setyawan.
Pertumbuhan Kredit BNI Semester I 2026 turut menopang kinerja pendapatan bank. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) meningkat 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp22,3 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (Fee-Based Income/FBI) juga tumbuh 14,2 persen menjadi Rp9 triliun.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga dan nonbunga ini mendorong laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) mencapai rekor tertinggi BNI untuk periode semester pertama, yaitu Rp18,5 triliun. Adapun laba bersih Kredit BNI Semester I 2026 tercatat sebesar Rp10,8 triliun.
Di tengah persaingan likuiditas perbankan yang ketat, BNI juga memperkuat struktur pendanaannya. Dana murah (Current Account Saving Account/CASA) tumbuh 11,2 persen secara tahunan, dengan rasio CASA berada di level 65,4 persen, yang membantu efisiensi biaya dana. Cost of fund dana pihak ketiga BNI turun menjadi 2,56 persen dari 2,78 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspansi Kredit BNI Semester I 2026 juga diikuti dengan perbaikan kualitas aset. Rasio Loan at Risk (LAR) turun menjadi 8,1 persen dari sebelumnya 11 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) tetap terjaga pada level 1,9 persen, menunjukkan perhatian terhadap kualitas portofolio pembiayaan.
Selain kinerja keuangan, transformasi digital BNI juga terus berkembang. Hingga akhir Juni 2026, pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan. Pada segmen wholesale, pengguna BNIdirect mencapai sekitar 280 ribu dengan volume transaksi tumbuh 17 persen menjadi Rp6.039 triliun.
Memasuki Semester II 2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan dan menjaga pertumbuhan Kredit BNI Semester I 2026 yang berkualitas. Perseroan juga akan memperkuat transformasi digital dan agenda BRAVE sebagai bagian dari strategi untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.






