PALU, BULLETIN – Ekspor Durian Beku Sulteng ke China terus menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang 2026. Badan Karantina Indonesia (Barantin) melaporkan volume ekspor durian beku dari Sulawesi Tengah (Sulteng) mencapai 7.344 ton periode Januari hingga Juli 2026.
Angka capaian Ekspor Durian Beku Sulteng tersebut menunjukkan tren positif, melampaui realisasi ekspor Januari–Mei 2026 yang sebesar 6.615 ton. Peningkatan ini membuktikan besarnya permintaan pasar China terhadap durian beku berkualitas dari Indonesia, khususnya Sulteng.
Pengiriman durian beku ini dilakukan melalui Pelabuhan Pantoloan, Palu, dengan total 272 kontainer telah diberangkatkan. Setiap kontainer memuat sekitar 27 ton durian beku, dengan perkiraan nilai ekspor mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp2,8 miliar per kontainer. Kenaikan Ekspor Durian Beku Sulteng ini turut memicu optimisme.
“Dari sisi rasa, durian kita tidak kalah. Ini peluang besar
bagi Sulawesi Tengah,” Kata Gubernur Anawar Hafid
Peningkatan Ekspor Durian Beku Sulteng ini membuka peluang lebih besar bagi pengembangan industri durian nasional. Selain peningkatan produksi, peluang juga muncul di sektor investasi dan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah komoditas durian Indonesia.
Barantin memastikan komoditas durian beku yang dikirim ke China telah memenuhi seluruh persyaratan karantina internasional. Pemenuhan standar ini krusial untuk menjaga kepercayaan pasar internasional terhadap produk hortikultura Indonesia. Hingga saat ini, Barantin belum menerima keluhan dari pihak China terkait kualitas durian beku yang diekspor dari Indonesia.
Kondisi ini diharapkan dapat semakin memperkuat kepercayaan konsumen dan pelaku usaha di China terhadap kualitas durian Indonesia. Tren peningkatan Ekspor Durian Beku Sulteng ini menjadi momentum penting bagi daerah penghasil durian lainnya untuk memperkuat rantai pasok dan meningkatkan kualitas produksi.
Dengan permintaan pasar China yang terus berkembang, durian beku berpotensi menjadi salah satu komoditas hortikultura Indonesia yang memiliki daya saing kuat di pasar global. Hal ini sekaligus memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi daerah penghasil, termasuk Sulteng.






