Kekeringan Melanda Tiga Desa di Parigi Moutong, 235 Hektare Pertanian Terancam Gagal Panen

  • Whatsapp
kekeringan Parigi Moutong
Kekeringan Melanda Tiga Desa di Parigi Moutong, 235 Hektare Pertanian Terancam Gagal Panen

PARIGI MOUTONG, BULLETIN – Kekeringan meteorologis dan hidrologis melanda beberapa wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, setelah lebih dari dua bulan tidak turun hujan. Kondisi ini menyebabkan krisis air bersih dan mengancam sektor pertanian, khususnya dampak kekeringan Parigi Moutong yang signifikan.

Laporan dari Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Parigi Moutong menunjukkan, tiga desa terdampak parah kekeringan Parigi Moutong ini. Desa-desa tersebut adalah Desa Persatuan Sejati di Kecamatan Ongka Malino, serta Desa Sumber Agung dan Desa Ogoyabas di Kecamatan Mepanga.

Tidak adanya curah hujan selama lebih dari delapan minggu menyebabkan debit air di berbagai sumber terus menurun. Penurunan debit air ini berdampak langsung pada masyarakat, terutama mereka yang sangat bergantung pada ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari dan aktivitas ekonomi.

Dampak paling serius dari kekeringan Parigi Moutong terlihat pada sektor pertanian dan perkebunan. BPBD mencatat total sekitar 235 hektare lahan pertanian dan perkebunan terancam gagal panen. Ini adalah kerugian besar akibat kekeringan Parigi Moutong.

Di Desa Persatuan Sejati, Kecamatan Ongka Malino, sekitar 30 hektare perkebunan telah terdampak kekeringan. Situasi serupa terjadi di Desa Sumber Agung, Kecamatan Mepanga, di mana sekitar 200 hektare sawah dan lahan pertanian terancam gagal panen karena keterbatasan pasokan air.

Sementara itu, di Desa Ogoyabas, sekitar 5 hektare perkebunan cengkeh juga dilaporkan terancam gagal panen. Ancaman terhadap sektor pertanian ini menjadi perhatian utama karena kekeringan yang berkepanjangan tidak hanya mengganggu produktivitas, tetapi juga berpotensi memengaruhi pendapatan masyarakat.

Selain pertanian, kekeringan Parigi Moutong juga memengaruhi ketersediaan air bersih bagi masyarakat. BPBD mencatat 150 kepala keluarga (KK) di Desa Kayu Agung mengalami kekurangan air bersih. Di Desa Ogoyabas, warga bahkan terpaksa mengambil air dari sungai yang debitnya terus menurun, sehingga sumber air bersih semakin terbatas.

Berita Pilihan :  Karhutla Kaliali Sigi Berhasil Dipadamkan, TNI dan Warga Siaga Antisipasi

“Aliran air Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Ogoyabas juga dilaporkan terhenti,” kata Asbudianto Kepala Pelakana BPBD Sulteng

Kondisi ini menunjukkan bahwa kekeringan Parigi Moutong tidak hanya mengancam lahan pertanian, tetapi juga mengganggu akses masyarakat terhadap air bersih dan layanan dasar.

BPBD Sulteng dan BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah melakukan asesmen dan koordinasi untuk memantau perkembangan situasi di lapangan. Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Parigi Moutong juga telah meninjau lokasi-lokasi terdampak.

Kebutuhan mendesak yang teridentifikasi meliputi alkon, sumur bor, dan pasokan air bersih untuk membantu masyarakat mengatasi berkurangnya sumber air. Tidak ada laporan mengenai pengungsi atau korban jiwa akibat kekeringan Parigi Moutong ini. Namun, jika hujan tak kunjung turun, tekanan terhadap ketersediaan air bersih dan sektor pertanian diperkirakan akan semakin meningkat.

Karena itu, pemenuhan kebutuhan air dan pencarian sumber air alternatif menjadi langkah krusial untuk mengurangi dampak kekeringan Parigi Moutong terhadap masyarakat. BPBD terus melakukan pemantauan dan pendataan untuk mengetahui perkembangan kondisi di wilayah terdampak dan kebutuhan penanganan lebih lanjut.

Pos terkait