Review Operasi Pesta Copet: Pestapora Hidup, Aksi Copet Justru Kehilangan Taji

  • Whatsapp
Operasi Pesta Copet
Jersey Persija 2026/2027 Resmi Dirilis (FotoLCaotured)

JAKARTA, BULLETIN – Film Operasi Pesta Copet besutan Edy Khemod yang digadang-gadang mengangkat dunia festival musik Tanah Air, menunjukkan paradoks: berhasil menghadirkan atmosfer festival yang hidup dan otentik, namun justru lemah dalam membangun ketegangan aksi pencopetan dan karakter utamanya. Film ini terlalu percaya diri dengan latar belakang festival musik, namun gagal menjadikan elemen heist sebagai tulang punggung cerita yang meyakinkan.

Film panjang perdana Edy Khemod ini paling berhasil ketika fokus menceritakan kehidupan skena musik dan anak-anak muda yang menghidupinya. Pengalaman Edy sebagai drummer Seringai terasa kuat dalam setiap detail yang ditampilkan, mulai dari merchandise band seperti The Adams, Teenage Death Star, The Jansen, hingga Seringai, bahkan beberapa adegan direkam langsung saat Pestapora 2025 berlangsung. Di titik tersebut, Operasi Pesta Copet terasa paling autentik.

Edy bersama penulis Rino Sarjono mampu menangkap bagaimana penonton bergerak di tengah kerumunan, suasana konser, moshpit, hingga berbagai kebiasaan yang muncul dalam sebuah festival musik. Bahkan bagi penonton yang tidak terlalu akrab dengan skena konser, film masih memberikan konteks yang cukup untuk memahami dunia tersebut. Hal ini menjadi kekuatan utama Operasi Pesta Copet.

Namun, masalah muncul ketika film mulai meminta penonton mempercayai bahwa dunia festival tersebut adalah arena sebuah film heist. Konsepnya menjanjikan: sekelompok anak muda terdesak ekonomi mencoba mencopet di tengah festival musik dengan puluhan ribu orang. Situasi ini seharusnya menjadi ladang suspense, di mana kerumunan bisa menjadi tempat bersembunyi sekaligus ancaman. Sayangnya, ketegangan dalam Operasi Pesta Copet tidak pernah benar-benar mencapai level yang diharapkan.

Aksi copet justru terasa seperti cerita sampingan. Film lebih kuat ketika memperlihatkan kehidupan Ijal, Adut, Melodi, dan Tia sebagai kelompok anak muda yang mencoba bertahan di tengah kehidupan festival, dibandingkan harus membangun ketegangan sebagai film pencurian. Akibatnya, judul Operasi Pesta Copet terasa seperti menjanjikan sesuatu yang tidak sepenuhnya diberikan oleh film.

Padahal, Edy sebenarnya sudah berusaha membangun sisi autentik tersebut. Para pemain disebut menjalani latihan teknik tangan hingga koordinasi untuk mempelajari bagaimana proses mengambil dan mengoper barang dalam aksi pencopetan. Upaya tersebut patut diapresiasi, namun autentisitas teknis belum otomatis menghasilkan suspense yang memukau dalam film Operasi Pesta Copet.

Persoalan lain terdapat pada pemeran utama, Iqbaal Ramadhan sebagai Ijal. Karakter Ijal dibangun sebagai pemuda yang berada dalam tekanan ekonomi hingga terdorong melakukan tindakan kriminal. Akan tetapi, problem terbesar justru muncul ketika wajah dan gestur Ijal harus menjual kesulitan tersebut. Iqbaal belum sepenuhnya meyakinkan sebagai sosok yang hidup dalam tekanan ekonomi akut. Ada jarak antara kondisi yang diceritakan film dengan sosok yang terlihat di layar dalam Operasi Pesta Copet.

Berita Pilihan :  Gerhana Bulan 28 Agustus Bawa Perubahan Asmara, Cek Zodiakmu

Ijal seharusnya membawa beban seseorang yang memikirkan bagaimana mendapatkan uang untuk bertahan hidup, tetapi tekanan tersebut tidak selalu terasa dalam ekspresi maupun gesturnya. Beberapa adegan emosional memang berhasil memperlihatkan sisi lain Iqbaal, namun secara keseluruhan, transformasi dirinya menjadi seseorang yang benar-benar terdesak keadaan masih terasa kurang meyakinkan dalam film Operasi Pesta Copet.

Kekurangan tersebut semakin terlihat karena sejumlah pemain pendukung justru mampu memberikan karakter yang lebih kuat. Fauzan Lubis menjadi salah satu yang paling menonjol melalui perannya sebagai Silet. Gestur, cara bicara, dan pembawaannya membuat karakter tersebut terasa natural. Silet tidak berhenti sebagai karakter antagonis, tetapi tampil seperti sosok dari lingkungan tongkrongan kelas bawah yang terbiasa mencari celah untuk bertahan hidup. Kristo Immanuel sebagai Adut, Kawai Labiba sebagai Melodi, dan Zulfa Maharani sebagai Tia juga mampu menjaga dinamika kelompok. Interaksi mereka membuat sisi persahabatan dalam Operasi Pesta Copet terasa lebih hidup dibandingkan aksi pencopetannya sendiri.

Di sinilah paradoks Operasi Pesta Copet muncul. Film ini ingin menjadi film heist sekaligus potret kehidupan skena musik dan komentar mengenai ketimpangan sosial-ekonomi. Niat tersebut ambisius. Bahkan film secara terang membawa gagasan bahwa tindakan yang salah bisa memiliki alasan di belakangnya. Namun, pesan sosial itu juga terasa terlalu aman karena film memasang disclaimer sejak awal. Pembagian karakter baik dan buruk pun cenderung tegas, sehingga ruang abu-abu yang seharusnya menarik dalam cerita tentang kriminalitas tidak selalu berkembang maksimal.

Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet justru lebih berhasil sebagai film tentang persahabatan dan kehidupan anak-anak festival musik, ketimbang sebagai film tentang pencopetan. Atmosfer Pestapora menjadi nyawa terbesar film ini. Musik, kerumunan, merchandise, moshpit, hingga kebiasaan para penonton terasa jauh lebih meyakinkan dibandingkan aksi heist yang seharusnya menjadi pusat ketegangan film Operasi Pesta Copet.

Meskipun demikian, film ini tetap memiliki satu kekuatan emosional yang penting. Di balik segala kelemahan dan keputusan buruk yang dibuat para karakternya, hubungan Ijal, Adut, Melodi, dan Tia menghadirkan gambaran mengenai bagaimana orang-orang yang sama-sama kesulitan dapat menjadi tempat untuk pulang.

 Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet bukanlah film yang sepenuhnya gagal menjalankan misinya. Film ini hanya tampak lebih tertarik pada siapa yang melakukan pencopetan dan mengapa mereka melakukannya, ketimbang membuat penonton benar-benar tegang menunggu bagaimana aksi itu dilakukan. Dan justru di situlah kekuatan sekaligus kelemahan film ini: ketika festival musik menjadi sangat hidup, operasi copetnya malah kehilangan taji.

Pos terkait