BULLETIN.ID – Tren mengubah foto dengan kecerdasan buatan (AI) menjadi bergaya 1980-an tengah membawa kembali estetika satu dekade yang identik dengan rambut bervolume, warna mencolok, bahu lebar dan aksesori berani.
Namun, jauh sebelum gaya tersebut menjadi sekadar perintah dalam sebuah prompt AI, sejumlah bintang Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) telah menjalani era itu dengan gaya mereka sendiri.
Arsip film, televisi, majalah dan pemotretan musik dari dekade 1980-an memperlihatkan bahwa fashion MENA kala itu tidak sekadar mengikuti tren global. Para selebritas memadukan karakter mode era tersebut dengan identitas regional, mulai dari kaftan dan bordir hingga tailoring, motif geometris dan gaya pop yang penuh warna.
Jejak visual itu terlihat dari penampilan sejumlah nama besar perfilman dan musik Arab.
Nadia El Gendy, 1980
Aktris Mesir Nadia El Gendy menunjukkan sisi glamor 1980-an melalui penampilannya dalam film Al-Batniyya pada 1980.
Ia mengenakan gaun satin merah muda terang dengan garis leher rendah, belahan tinggi dan kalung berukuran besar. Rambut merah bervolume memperkuat karakter penampilan yang jauh dari kesan minimalis.
Gaya tersebut memperlihatkan salah satu ciri khas mode dekade itu: keberanian tampil mencolok.
Souad Hosny, 1981
Berbeda dengan El Gendy, aktris Mesir Soad Hosny menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana dalam Ahl El-Qema pada 1981.
Ia tampil dengan kemeja gingham merah-putih berkancing, detail stud kecil dan rambut yang ditata sederhana ke belakang.
Penampilan tersebut menunjukkan bahwa gaya 1980-an tidak selalu berarti pakaian berlebihan. Potongan sederhana pun dapat menjadi bagian dari estetika era tersebut ketika dipadukan dengan karakter personal yang kuat.
Yousra, 1983
Nuansa disko terlihat kuat dalam penampilan Yousra pada 1983.
Aktris Mesir itu mengenakan atasan kamisol metalik berwarna emas, dipadukan dengan ikat kepala dan kalung panjang senada. Rambut bergaya feathered menjadi elemen penting yang mempertegas nuansa awal 1980-an.
Kilau emas dan aksesori besar menunjukkan bagaimana glamour menjadi salah satu bahasa visual yang dominan pada masa tersebut.
Hussein Fahmy, 1983
Fashion pria juga memiliki identitas kuat.
Hussein Fahmy tampil dengan blazer korduroi berwarna cokelat muda, kemeja terbuka dan scarf sutra bermotif di leher.
Kombinasi tersebut menjadi gambaran gaya pria Mesir era 1980-an: tailoring yang tetap rapi, tetapi diberi sentuhan santai melalui kemeja terbuka dan aksesori bermotif.
Rambut bervolume melengkapi penampilan khas bintang film era tersebut.
Samir Ghanem dan Dalal Abdel Aziz, 1984
Foto Samir Ghanem dan Dalal Abdel Aziz pada 1984 memperlihatkan dua pendekatan berbeda dalam fashion era tersebut.
Ghanem mengenakan jaket merah koral, sementara Abdel Aziz tampil dengan busana bernuansa krem. Kumis Ghanem dan rambut Abdel Aziz yang ditata bervolume semakin menguatkan karakter visual dekade itu.
Foto keduanya menjadi contoh bagaimana gaya rambut dan siluet pakaian memiliki peran sama pentingnya dalam membentuk citra selebritas pada masa itu.
Safaa Abu El-Saoud, 1984
Safaa Abu El-Saoud menghadirkan sisi lain fashion 1980-an melalui blus krem dengan bordir geometris berwarna-warni pada bagian leher dan lengan.
Rambut bernuansa tembaga dengan volume besar melengkapi penampilannya.
Yang menarik, gaya tersebut tidak hanya merepresentasikan tren global. Detail bordir memberikan sentuhan regional yang membuat busana tersebut memiliki identitas tersendiri.
Laila Eloui, 1986
Pada sampul majalah Al Mawed tahun 1986, Laila Eloui tampil dengan estetika 1980-an yang sangat kuat.
Aktris Mesir itu mengenakan atasan rajut berwarna kuning terang dengan aksen oranye dan biru. Deretan manik-manik warna-warni di bagian dahi serta rambut shag berlapis dan berukuran besar membuat penampilannya terlihat sangat khas.
Jika tren AI saat ini berusaha menciptakan kembali estetika 1980-an melalui warna, rambut dan aksesori, arsip seperti ini menunjukkan bahwa versi aslinya jauh lebih kompleks.
Iman Al-Toukhi dan Mahmoud Abdel Aziz, 1986
Dalam produksi Raafat Al-Haggan, Iman Al-Toukhi tampil dengan blazer biru tua berbahu tegas, blus merah dan baret hitam yang dikenakan miring.
Di sampingnya, Mahmoud Abdel Aziz memilih blazer hijau zaitun, kemeja krem dan dasi bergaris.
Keduanya memperlihatkan dua wajah fashion pria dan perempuan pada era tersebut. Siluet bahu yang kuat, warna kontras dan aksesori menjadi bagian dari bahasa mode 1980-an.
Warda, 1987
Penyanyi Aljazair-Mesir Warda menunjukkan bahwa fashion MENA tidak harus mengikuti formula shoulder pad atau busana berstruktur untuk terlihat kuat.
Pada 1987, ia tampil dalam kaftan berbordir yang mengandalkan aliran kain dan detail dekoratif.
Penampilannya menjadi pengingat bahwa identitas fashion kawasan MENA memiliki akar budaya sendiri yang tetap dapat berjalan beriringan dengan tren global.
Amr Diab, 1989
Menjelang akhir dekade, Amr Diab memperlihatkan pergeseran menuju gaya pop yang lebih santai.
Penyanyi Mesir itu tampil dengan kemeja paisley penuh warna yang dikenakan terbuka di atas kaus putih dan celana panjang gelap. Rambut keriting bervolume menjadi elemen terakhir yang mengunci citra bintang pop akhir 1980-an.
Penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana mode pria mulai bergerak dari tailoring formal menuju gaya yang lebih kasual dan ekspresif.
Ketika arsip menjadi inspirasi baru
Kembalinya estetika 1980-an melalui AI sebenarnya memperlihatkan satu hal: nostalgia visual memiliki daya tahan yang panjang.
Tetapi arsip para selebritas MENA menunjukkan bahwa gaya tersebut tidak pernah benar-benar seragam. Ada glamour, disko, tailoring, pakaian kasual hingga kaftan dan bordir yang membawa identitas kawasan.
Karena itu, ketika teknologi AI menawarkan versi instan tentang seperti apa seseorang “jika hidup pada 1984”, foto-foto lama para bintang ini menawarkan sesuatu yang berbeda: rekaman autentik tentang bagaimana dekade tersebut benar-benar terlihat.
Bukan hasil filter. Bukan hasil prompt. Melainkan gaya yang memang pernah hidup di layar film, halaman majalah dan panggung musik.
Dan justru karena itulah, arsip fashion 1980-an MENA kembali relevan ketika dunia digital sedang sibuk menciptakan ulang masa lalu.
