JAKARTA, BULLETIN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak El Niño yang kini memasuki kategori kuat. Fenomena cuaca global ini berpotensi menyebabkan musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan berkepanjangan di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir September.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan El Niño yang aktif sejak Juni 2026 telah mencapai indeks ENSO +1,59, menandakan intensitasnya berada pada kategori kuat. Kondisi El Niño saat ini masih berpeluang meningkat ke level sangat kuat dalam beberapa waktu mendatang.
“Kami melihat El Niño terus menguat dan berpotensi mencapai level sangat kuat dalam beberapa minggu ke depan,” kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
Menurut data BMKG, kondisi El Niño tersebut diperkirakan akan menyebabkan curah hujan sangat rendah sepanjang Agustus hingga September 2026. Dampak langsung dari fenomena El Niño ini mencakup potensi kekeringan di berbagai daerah, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan secara signifikan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak musim kemarau yang lebih ekstrem melalui pengelolaan sumber daya air secara optimal. Selain itu, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi juga menjadi prioritas utama dalam menghadapi El Niño kali ini.
Meskipun demikian, BMKG memperkirakan pengaruh El Niño terhadap curah hujan nasional akan mulai berkurang ketika musim hujan memasuki sebagian besar wilayah Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Fenomena El Niño ini diproyeksikan masih berlangsung selama 9 hingga 12 bulan atau hingga sekitar Mei 2027.
BMKG menegaskan bahwa meskipun El Niño berlanjut hingga Mei 2027, dampaknya terhadap penurunan curah hujan tidak lagi signifikan setelah musim hujan berlangsung secara luas di seluruh wilayah Indonesia.
