Jakarta, BULLETIN – Menghadapi ancaman musim kemarau panjang akibat penguatan fenomena El Niño, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempercepat langkah mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah wilayah rawan kekeringan dan kebakaran hutan lahan. Operasi penyemaian awan menjadi strategi utama BMKG untuk mengoptimalkan potensi hujan di daerah yang membutuhkan, terutama wilayah yang mulai mengalami penurunan curah hujan akibat dampak El Niño.
Fenomena El Niño diprediksi masih bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dengan intensitas berpotensi melampaui kategori kuat. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, berkurangnya ketersediaan air, hingga meningkatnya potensi karhutla di sejumlah daerah. BMKG menekankan bahwa operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk mengurangi dampak musim kemarau di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
“OMC dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk mengurangi dampak musim kemarau, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kekeringan dan karhutla,” ujar BMKG dalam keterangannya.
Saat ini, operasi modifikasi cuaca tengah berlangsung di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah dengan dukungan Kementerian Kehutanan serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BMKG juga menyiapkan Posko OMC di Pekanbaru untuk mengantisipasi potensi karhutla di Riau serta Posko OMC Bandung untuk membantu penanganan ancaman kekeringan di Jawa Barat.
Sepanjang 2026, BMKG telah melaksanakan 17 kali operasi modifikasi cuaca di berbagai wilayah. Operasi modifikasi cuaca sebelumnya dilakukan di Aceh pada 20-26/07, Palembang pada 19-30/07, dan masih berjalan di Palangka Raya hingga 02/08 serta Pekanbaru hingga 04/08.
Selain melalui operasi modifikasi cuaca, BMKG mendorong kesiapsiagaan lintas sektor menghadapi puncak kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026. Sektor pertanian diminta menyesuaikan pola tanam dan menggunakan varietas tanaman lebih tahan terhadap kondisi kering, sementara pengelola sumber daya air diminta mengantisipasi penurunan ketersediaan air baku.
BMKG turut mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak kesehatan akibat cuaca panas ekstrem, mulai dari penurunan kualitas udara, peningkatan risiko ISPA, perubahan pola penyebaran penyakit seperti DBD dan malaria, hingga ancaman heat stroke. Melalui penguatan operasi modifikasi cuaca dan kesiapsiagaan bersama, BMKG berharap dampak El Niño dapat ditekan dan tidak menimbulkan gangguan besar bagi kehidupan masyarakat.






