JAKARTA, BULLETIN – Nilai tukar rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 05 Agustus 2026, pagi. Pergerakan positif ini terjadi di tengah kehati-hatian para pelaku pasar yang menantikan rilis resmi data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Penguatan rupiah menjadi sorotan utama di pasar keuangan.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.05 WIB, rupiah terapresiasi sebesar 0,32 persen hingga berada di posisi Rp17.969 per dolar AS. Tren penguatan rupiah terus berlanjut hingga pukul 09.40 WIB, dengan mata uang Garuda melaju naik 0,44 persen ke level Rp17.947 per dolar AS. Ini menunjukkan sentimen positif terhadap rupiah.
Selain penantian terhadap data PDB domestik, pergerakan positif rupiah juga dipengaruhi oleh melandainya Indeks Dolar AS setelah rilis data ketenagakerjaan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) di AS yang tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi global turut mendukung penguatan rupiah.
Apresiasi rupiah ini sejalan dengan tren penguatan yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia. Dolar Taiwan memimpin penguatan di kawasan dengan kenaikan sebesar 0,41 persen, disusul peso Filipina yang menguat 0,36 persen, serta won Korea Selatan yang terangkat 0,30 persen. Fenomena penguatan rupiah ini selaras dengan tren regional.
Selanjutnya, ringgit Malaysia turut mencatatkan penguatan sebesar 0,13 persen, baht Thailand bertambah 0,05 persen, dolar Singapura naik tipis 0,03 persen, dan yuan China merangkak naik 0,01 persen. Penguatan rupiah juga didukung oleh pergerakan mata uang regional lainnya.
Analis pasar uang memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini akan cenderung terjaga di rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Pergerakan lanjutan sangat bergantung pada realisasi angka pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II-2026. Dengan demikian, penguatan rupiah masih akan terus dipantau.






