ROMA, BULLETIN – Atalanta tumbang 1-2 secara dramatis dari AS Roma setelah kebobolan dua gol pada masa injury time, Minggu (12/12) dini hari WIB. Kekalahan pahit ini bukan semata karena keunggulan lawan, melainkan serangkaian kesalahan individu dan hilangnya konsentrasi di menit-menit krusial yang membuat Atalanta kehilangan poin penuh.
Tim asuhan Maurizio Sarri sebenarnya tampil disiplin dan berhasil unggul 1-0 melalui gol Ederson pada awal babak kedua. Penjaga gawang Marco Carnesecchi juga tampil gemilang dengan serangkaian penyelamatan penting, menjaga keunggulan timnya hingga jelang akhir laga sebelum Atalanta tumbang di menit akhir.
Momen krusial terjadi ketika Nikola Krstovic gagal mengonversi peluang emas untuk menggandakan keunggulan pada menit ke-59. Kegagalan ini menjadi titik balik, karena Atalanta tidak mampu mencetak gol kedua, sementara Roma terus menekan untuk mencari gol penyama kedudukan. Alhasil, tekanan Roma membuahkan hasil di menit-menit akhir dan membuat Atalanta tumbang.
Roma akhirnya berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-90 melalui sundulan Mario Hermoso, memanfaatkan kelengahan pertahanan Atalanta. Tiga menit berselang, Matías Soulé mencetak gol kemenangan Roma setelah tembakannya gagal diantisipasi sempurna oleh Carnesecchi, memastikan Atalanta tumbang dengan tragis.
Ironisnya, Carnesecchi tetap menjadi pemain Atalanta dengan penampilan paling menonjol, meskipun terlibat dalam gol kedua. Serangkaian penyelamatan gemilangnya sepanjang pertandingan menjaga asa Atalanta hingga menit-menit akhir. Namun, kontribusinya tidak cukup untuk mencegah Atalanta tumbang.
Permasalahan utama Atalanta justru terletak pada kegagalan memanfaatkan periode ketika Roma kehilangan kepercayaan diri. Peluang untuk ‘membunuh’ pertandingan tidak terealisasi, termasuk kegagalan Krstovic yang disorot karena juga berada di dekat Hermoso saat gol penyama kedudukan terjadi. Karena hal tersebut, Atalanta tumbang.
Pelatih Atalanta, Maurizio Sarri, dinilai telah menemukan struktur permainan yang baik untuk meredam Roma. Namun, keputusan pergantian pemain dan ketahanan mental tim di menit-menit akhir menjadi evaluasi penting. Pergantian Charles De Ketelaere yang mulai kehabisan tenaga dinilai bisa menjadi opsi untuk mempertahankan daya serang tim dan mencegah Atalanta tumbang.
Kekalahan ini menjadi pengingat bahwa performa solid selama hampir 90 menit saja tidak cukup. Atalanta harus mampu mengendalikan lima menit terakhir pertandingan, di mana satu kesalahan kecil dapat mengubah hasil dari kemenangan menjadi kekalahan pahit. Hal ini yang membuat Atalanta tumbang.






