Film “Pesta Babi” Jadi Ruang Refleksi Pelestarian Budaya di Kasimbar

  • Whatsapp
Paguyuban Kasimbar Menggelar Nobar dan diskusi “Pesta Babi”. (30/05/2026). Foto:Ist

PARIGI MOUTONG,BULLETIN.ID  – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser berbagai tradisi lokal, Paguyuban Kasimbar Area memilih jalur seni dan budaya sebagai ruang untuk merawat identitas masyarakat. Melalui pemutaran film bertajuk “Pesta Babi”, paguyuban ini mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali menengok akar budaya yang menjadi bagian dari sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Kasimbar.

Kegiatan yang digelar di Kasimbar pada Sabtu (30/5) itu tidak sekadar menghadirkan tontonan, tetapi juga menjadi medium refleksi atas nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.

Film “Pesta Babi” Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (2026) karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale mengangkat isu konflik agraria, kerusakan ekologis, dan perampasan ruang hidup masyarakat adat di Papua Selatan akibat mega-proyek seperti food estate. Film berdurasi 95 menit ini menyoroti dampak ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tebu skala besar terhadap suku-suku asli seperti Marind, Awyu, Yei, dan Muyu di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi di Papua. 

Bagi masyarakat Kasimbar dan wilayah sekitarnya, pesta babi bukan hanya sebuah perayaan adat, melainkan simbol kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap tradisi leluhur, serta hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan sosialnya.

Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai tersebut dinilai mulai menghadapi tantangan. Generasi muda yang tumbuh dalam era digital kerap memiliki jarak dengan tradisi yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Sekretaris Paguyuban Kasimbar Area, Fhikri Andi Mala, mengatakan pemutaran film tersebut lahir dari kegelisahan kalangan muda yang melihat pentingnya menjaga identitas budaya agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Berita Pilihan :  Program Unggulan Anwar-Reny Jadi Perhatian DPRD DKI Jakarta

“Film adalah media visual yang sangat kuat. Melalui ‘Pesta Babi’, kami ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda Kasimbar, untuk menengok kembali akar budaya kita. Ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan dan ruang diskusi bersama,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremoni adat, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda. Film menjadi salah satu sarana efektif untuk menyampaikan pesan-pesan budaya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat masa kini.

Pemutaran film tersebut juga menjadi ruang dialog antargenerasi. Setelah penayangan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan tokoh adat setempat untuk membedah pesan-pesan yang terkandung dalam film serta relevansinya dengan kondisi masyarakat saat ini.

Melalui forum tersebut, peserta diajak mendiskusikan berbagai tantangan pelestarian budaya lokal, mulai dari perubahan pola hidup masyarakat hingga semakin berkurangnya keterlibatan generasi muda dalam berbagai kegiatan adat.

Paguyuban Kasimbar Area berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga warisan budaya. Sebab, di tengah kemajuan zaman, identitas budaya dinilai menjadi salah satu kekuatan utama yang menjaga karakter dan jati diri masyarakat.

Lebih dari sekadar pemutaran film, “Pesta Babi” menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah peninggalan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan warisan yang perlu dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pos terkait