BANJARBARU, BULLETIN.ID – Upaya memperkuat daya saing sekaligus mendorong tata kelola perkebunan sawit rakyat yang berkelanjutan terus dilakukan. Sebanyak 88 pekebun kelapa sawit swadaya dari Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, mengikuti pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang berlangsung pada 15-20 Juni 2026 di Hotel Rattan Inn.
Pelatihan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan dilaksanakan oleh PT Forestcitra Sejahtera (Mutu Institute) ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan standar sertifikasi, tetapi juga mendorong perubahan cara pengelolaan kebun rakyat agar lebih produktif, legal, dan ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, drh. Suparmi, mengatakan ISPO menjadi instrumen penting untuk memperkuat posisi pekebun swadaya di tengah tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan.
Menurutnya, pemahaman yang baik terhadap prinsip-prinsip ISPO akan membantu pekebun memperbaiki tata kelola kebun, memenuhi aspek legalitas, sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing hasil perkebunan.
“Pelatihan ini diharapkan menjadi bekal bagi pekebun untuk semakin siap menerapkan prinsip-prinsip ISPO di kebun masing-masing,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Direktur PT Forestcitra Sejahtera (Mutu Institute), Wahyu Riyadi, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi pekebun swadaya di lapangan. Materi yang diberikan mencakup legalitas usaha perkebunan, praktik budidaya yang baik, pengelolaan lingkungan, penguatan kelembagaan pekebun, hingga strategi peningkatan produktivitas.
Ia menilai peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam mendorong transformasi sektor sawit rakyat. Sebab, keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga kemampuan pekebun memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan kebun yang lebih baik.
Dukungan BPDP dalam program ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan pekebun rakyat tidak tertinggal dalam perubahan industri kelapa sawit yang semakin kompetitif. Selain menjadi sumber pendanaan, BPDP juga berperan dalam memperkuat kapasitas pekebun agar mampu menghadapi tantangan pasar, regulasi, dan tuntutan sertifikasi keberlanjutan.
Selama enam hari pelatihan, para peserta akan mendapatkan pembelajaran yang dirancang aplikatif sehingga dapat langsung diterapkan di kebun masing-masing. Kehadiran puluhan pekebun dari dua sentra sawit di Kalimantan Selatan menjadi indikasi meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya tata kelola perkebunan yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi bagian dari agenda besar transformasi sawit rakyat Indonesia. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri sawit, penguatan kapasitas pekebun menjadi langkah strategis untuk memastikan komoditas unggulan tersebut tetap memberikan manfaat ekonomi, membuka lapangan kerja, dan mendukung pembangunan daerah tanpa mengabaikan aspek lingkungan.
Dengan penerapan prinsip-prinsip ISPO yang lebih luas, diharapkan sawit rakyat tidak hanya menjadi penopang ekonomi masyarakat, tetapi juga mampu menjawab tuntutan keberlanjutan yang kini menjadi perhatian utama pasar global.






