Olahraga Ringankan Overthinking, Peneliti Ungkap Manfaat Bagi Otak

  • Whatsapp
olahraga overthinking
ILUSTRASI

JAKARTA, BULLETIN – Ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran berlebih, banyak orang kesulitan menghentikan lingkaran pemikiran yang terus berputar atau overthinking. Salah satu cara sederhana yang dapat membantu mengalihkan perhatian dan menjaga fungsi otak adalah dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga overthinking.

Meskipun bukan obat mujarab, penelitian menunjukkan hubungan antara aktivitas fisik, terutama olahraga aerobik, dengan fungsi kognitif dan kesehatan otak. Salah satu tinjauan penting yang mengulas bukti hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif adalah studi oleh Charles H. Hillman, Erickson, dan Kramer di Nature Reviews Neuroscience pada tahun 2008.

Olahraga overthinking tidak hanya membuat tubuh bergerak, tetapi juga berkaitan dengan berbagai aspek fungsi otak, termasuk perhatian, kontrol kognitif, dan fungsi eksekutif. Fungsi eksekutif berperan dalam kemampuan mengatur perhatian, mengendalikan respons, membuat keputusan, dan menyelesaikan masalah.

Oleh karena itu, perasaan lebih fokus atau pikiran terasa lebih ringan setelah berolahraga memiliki dasar ilmiah. Aktivitas fisik memiliki kaitan erat dengan fungsi kognitif.

Saat berolahraga, perhatian seseorang untuk sementara dapat beralih dari berbagai persoalan yang memenuhi pikiran. Misalnya, ketika berlari, seseorang perlu fokus pada ritme, pernapasan, gerakan tubuh, serta lingkungan sekitar. Fokus ini memberikan jeda dari kebiasaan terus memikirkan masalah yang sama, membantu mengatasi overthinking.

Selain itu, aktivitas fisik secara keseluruhan berkaitan dengan berbagai proses fisiologis yang mendukung fungsi otak. Namun, penting untuk tidak menyederhanakannya menjadi klaim bahwa “semakin lelah tubuh, semakin hilang overthinking.” Bukti ilmiah lebih mendukung hubungan antara aktivitas fisik dan kesehatan/fungsi kognitif secara umum, bukan olahraga berat sebagai cara pasti menghentikan overthinking.

Berita Pilihan :  Rubin Colwill Jadi Penyelamat, Cardiff Tahan Wrexham 1-1

Manfaat aktivitas fisik juga tidak berarti seseorang harus berolahraga sampai kelelahan. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, jogging, atau aktivitas aerobik lainnya dapat menjadi pilihan. Yang lebih penting adalah aktivitas tersebut dilakukan secara teratur dan sesuai dengan kemampuan tubuh.

Olahraga juga dapat menjadi bagian dari rutinitas untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh. Ketika tubuh aktif, seseorang memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan, gawai, maupun berbagai aktivitas yang membuat pikiran terus aktif, mengurangi risiko overthinking.

Meski olahraga dapat mendukung kesehatan otak dan membantu sebagian orang merasa lebih rileks atau fokus, aktivitas fisik tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk masalah psikologis. Jika pikiran berlebihan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, persoalan tersebut perlu mendapat perhatian lebih serius.

Dengan demikian, olahraga overthinking dapat dipandang sebagai salah satu kebiasaan pendukung kesehatan otak, bukan sekadar cara membuat tubuh lelah. Penelitian Hillman, Erickson, dan Kramer menunjukkan bahwa aktivitas aerobik memiliki kaitan dengan fungsi kognitif dan kesehatan otak. Jadi, ketika setelah berjalan, berlari, atau berolahraga seseorang merasa pikirannya lebih jernih, terdapat dasar ilmiah yang mendukung hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi otak—meski respons setiap orang tetap dapat berbeda.

Sumber: Hillman CH, Erickson KI, Kramer AF. Be smart, exercise your heart: exercise effects on brain and cognition. Nature Reviews Neuroscience. 2008;9:58–65.

Pos terkait