Kemenekraf, Indosat, dan Adobe Buka Peluang Baru bagi Kreator Indonesia

  • Whatsapp
Indosat bersama Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Adobe menjalin kolaborasi strategis untuk memberdayakan generasi muda dan kreator Indonesia melalui pemanfaatan teknologi serta AI. Inisiatif ini membuka akses terhadap perangkat kreatif, pelatihan, dan peluang monetisasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif nasional. Foto:Ist

JAKARTA,BULLETIN.ID  – Indonesia tidak lagi menghadapi persoalan keterhubungan digital. Jutaan masyarakat kini telah terkoneksi internet, menguasai berbagai platform digital, dan semakin akrab dengan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). 

Namun di balik kemajuan itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana kemampuan digital tersebut benar-benar mampu menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat?

Pertanyaan itu menjadi titik berangkat kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), dan Adobe yang diumumkan di Jakarta, Senin (15/6/2026). 

Ketiga pihak berupaya menjawab tantangan yang selama ini mengemuka dalam transformasi digital Indonesia, yakni mengubah pengguna teknologi menjadi pencipta karya, dan mengubah kreativitas menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.

Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 menunjukkan tingkat akses dan keterampilan digital masyarakat terus meningkat. Namun peningkatan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penciptaan peluang ekonomi baru. Banyak masyarakat yang telah menguasai teknologi digital, tetapi belum memiliki akses terhadap ekosistem, perangkat, maupun jalur monetisasi yang memungkinkan mereka memperoleh manfaat ekonomi dari kemampuan tersebut.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai tantangan terbesar saat ini bukan lagi memperkenalkan teknologi kepada masyarakat, melainkan memastikan teknologi mampu memperkuat kreativitas manusia.

“Fondasi ekonomi kreatif Indonesia terletak pada kekayaan intelektual yang berakar pada budaya bangsa dan kreativitas masyarakatnya. Di era AI ini, fokus kami adalah memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya,” ujar Riefky.

Menurutnya, AI dapat menjadi alat yang mempercepat proses penciptaan karya, tetapi nilai utama tetap berada pada ide, identitas budaya, dan kemampuan kreatif manusia. 

Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya intelektual yang bernilai ekonomi.

Indonesia selama ini dikenal memiliki jumlah kreator digital yang besar. Namun banyak di antara mereka masih menghadapi keterbatasan akses terhadap perangkat kreatif profesional, pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri, hingga peluang untuk memasarkan dan memonetisasi karya.

President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengatakan tantangan tersebut menjadi alasan utama perusahaan menggandeng Adobe dan Kemenekraf.

“Indonesia memiliki talenta dan kreativitas yang melimpah. Yang dibutuhkan banyak anak muda saat ini adalah akses ke perangkat, keterampilan, dan peluang yang tepat untuk mewujudkan ide mereka,” kata Vikram.

Melalui kolaborasi ini, Indosat akan membuka akses premium Adobe Express secara gratis selama enam bulan bagi pelanggannya. Selain itu, pelanggan juga akan memperoleh akses ke materi pembelajaran Adobe Digital Academy yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Langkah tersebut dinilai penting karena kesenjangan digital saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan akses internet, tetapi juga kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya yang kompetitif di pasar.

Berita Pilihan :  Delapan Korban Luka Akibat Gempa M 6,7 di Sulteng, Dua Alami Luka Berat

Indonesia Jadi Laboratorium Ekonomi Kreator Berbasis AI

Yang menarik, Indonesia dipilih Adobe sebagai negara pertama untuk peluncuran program monetisasi kreator Adobe Express. Keputusan ini menunjukkan besarnya potensi pasar kreator Indonesia sekaligus menjadi sinyal bahwa Indonesia mulai dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi kreator di kawasan.

President of Creativity & Productivity Business Adobe, David Wadhwani, menyebut komunitas kreatif Indonesia sebagai salah satu yang paling dinamis di dunia digital.

Program monetisasi tersebut memungkinkan kreator memperoleh penghasilan dari template dan karya yang mereka hasilkan melalui Adobe Express. Model ini menandai pergeseran penting dalam ekonomi kreatif digital, di mana karya desain dan konten tidak lagi hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga aset ekonomi yang dapat diperdagangkan secara langsung.

Para kreator terpilih bahkan berkesempatan menampilkan karya mereka di IDEAFEST, salah satu festival kreatif terbesar di Indonesia. Eksposur tersebut membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri sekaligus memperluas akses pasar bagi kreator lokal.

Di tengah berkembangnya teknologi AI generatif yang memunculkan kekhawatiran akan hilangnya sejumlah profesi kreatif, kolaborasi ini justru mengambil pendekatan berbeda. AI diposisikan sebagai alat bantu yang mempercepat proses kreatif, bukan pengganti kreativitas manusia.

Melalui modul pembelajaran berbasis AI, peserta akan dibekali kemampuan storytelling digital, desain visual, komunikasi kreatif, dan pembuatan konten. Kompetensi tersebut menjadi semakin relevan karena industri kreatif global kini bergerak menuju model kerja yang mengombinasikan kreativitas manusia dengan efisiensi teknologi.

Kemenekraf juga akan mengintegrasikan inisiatif ini dengan program ECHOES (Ekraf Creates Harmony on Education Sector) atau Ekraf Goes to School and Campus. Program tersebut dirancang untuk memperluas literasi ekonomi kreatif, pemahaman kekayaan intelektual, serta pemanfaatan teknologi digital di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya mampu menciptakan karya, tetapi juga memahami bagaimana karya tersebut dapat dilindungi, dipasarkan, dan menghasilkan nilai ekonomi

Kolaborasi Kemenekraf, Indosat, dan Adobe pada akhirnya mencerminkan perubahan paradigma pembangunan ekonomi digital Indonesia. Fokus tidak lagi semata-mata pada perluasan akses internet atau peningkatan jumlah pengguna teknologi, melainkan pada penciptaan nilai tambah dari kreativitas masyarakat.

Dengan dukungan perangkat kreatif, pelatihan berbasis AI, akses komunitas, hingga jalur monetisasi, ketiga pihak berharap semakin banyak masyarakat mampu bergerak dari sekadar pengguna teknologi menjadi kreator yang produktif.

Di tengah persaingan ekonomi digital global yang semakin ketat, keberhasilan Indonesia tidak hanya akan ditentukan oleh seberapa banyak masyarakat yang terkoneksi, tetapi juga oleh seberapa banyak ide yang mampu diubah menjadi karya, kekayaan intelektual, dan peluang ekonomi baru.

Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya untuk memastikan bahwa transformasi digital Indonesia tidak berhenti pada layar gawai, melainkan berlanjut menjadi pertumbuhan ekonomi yang nyata bagi para kreator di seluruh penjuru negeri.***

Pos terkait