Fasilitas Pengembangan Monyet Ekor Panjang di Mesuji Disorot, Populasi Liar Jadi Perhatian

  • Whatsapp
monyet ekor panjang Mesuji
Monyet ( Foto: Capture IG)

LAMPUNG, BULLETIN.ID – Pengembangan fasilitas
pembiakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Kabupaten Mesuji,
Lampung, memunculkan perdebatan antara kepentingan penelitian biomedis dan
upaya menjaga kelestarian satwa di alam.

Fasilitas tersebut disebut disiapkan untuk mengembangbiakkan
monyet ekor panjang yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai satwa uji dalam
penelitian biomedis di luar negeri. Pemerintah juga melihat pengembangan
fasilitas sebagai salah satu alternatif untuk menangani konflik antara manusia
dan monyet yang masuk ke permukiman maupun merusak tanaman warga.

“Hari ini kita meresmikan instalasi pengembangan makaka atau
monyet ekor panjang. Sekarang ini yang boleh mengekspor makaka baru tujuan
Amerika. Ekspor ini hanya untuk penelitian, tidak boleh ditangkap di hutan,
tetapi harus dibudidayakan dengan standar tertentu,”KataKepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir
Karding dikuti dari lampunggehnews.

 

Di sisi lain, rencana pemanfaatan monyet ekor panjang untuk
kebutuhan penelitian internasional menjadi perhatian pemerhati satwa.
Kekhawatiran utamanya berkaitan dengan kemungkinan meningkatnya pengambilan
satwa dari alam apabila kebutuhan industri tidak sepenuhnya dipenuhi melalui
pembiakan yang terkontrol.

Kekhawatiran tersebut menjadi relevan karena Macaca
fascicularis
kini berstatus Endangered atau terancam punah menurut
International Union for Conservation of Nature (IUCN). Status itu kembali
ditegaskan pada 2025 setelah sebelumnya spesies tersebut dinaikkan dari
kategori rentan menjadi terancam punah.

Dalam penilaian IUCN, populasi monyet ekor panjang
menghadapi tekanan berupa kehilangan dan fragmentasi habitat serta eksploitasi.
IUCN juga mencatat tingginya permintaan terhadap spesies ini untuk perdagangan
dan penelitian biomedis.

Sebuah studi yang diterbitkan pada 2026 memberikan gambaran
mengenai kondisi populasi monyet ekor panjang di Lampung. Penelitian tersebut
mencatat 123 kelompok dengan estimasi populasi riil sekitar 1.779 individu dan
estimasi maksimum 2.197 individu di kawasan riparian Mesuji, Gedong Aji, dan
Penumangan.

Mesuji menjadi kawasan dengan estimasi populasi terbesar,
yakni sekitar 738 hingga 891 individu. Peneliti juga menemukan kepadatan yang
tinggi di habitat yang tersisa.

Temuan tersebut dinilai menunjukkan adanya tekanan terhadap
habitat. Peneliti menyebut tingginya kepadatan kemungkinan berkaitan dengan “population
compression resulting from habitat loss”, atau pemadatan populasi akibat
hilangnya habitat.

Kondisi ini membuat pengawasan terhadap sumber satwa menjadi
penting. Pemerintah perlu memastikan bahwa seluruh monyet yang masuk ke
fasilitas pembiakan memiliki asal-usul yang dapat ditelusuri dan tidak berasal
dari penangkapan liar yang tidak terkendali.

Berita Pilihan :  Penerima MBG Berpotensi Berkurang, Imbas Temuan 6 Juta Data Ganda

Data perdagangan internasional juga menunjukkan bahwa monyet
ekor panjang memang memiliki nilai penting dalam industri penelitian. Studi
mengenai tren perdagangan global periode 2000–2019 mencatat 3.111 insiden
perdagangan Macaca fascicularis. Amerika Serikat disebut menjadi negara
yang paling aktif sebagai importir maupun re-eksportir, sementara Indonesia
tercatat melakukan perdagangan terutama dengan sumber satwa hasil penangkaran
dan memiliki hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat, Taiwan, serta
Singapura.

Data pemerintah Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa
perdagangan monyet ekor panjang dari Indonesia telah berlangsung dalam beberapa
tahun terakhir. Catatan Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
menunjukkan Amerika Serikat mengimpor 900 Macaca fascicularis dari
Indonesia pada 2024.

Kebutuhan penelitian terhadap primata tersebut bukan tanpa
alasan. Monyet ekor panjang merupakan salah satu primata yang banyak digunakan
dalam penelitian farmasi, toksikologi, dan biomedis. Namun, meningkatnya
permintaan juga menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian dalam kajian
konservasi.

Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of
Primatology
menyebut pengambilan monyet ekor panjang dari alam sebagai
salah satu ancaman terhadap keberlangsungan spesies tersebut. Kajian itu
menyoroti kombinasi persoalan berupa penyusutan habitat, pemanfaatan untuk
kepentingan ilmiah dan komersial, lemahnya mekanisme pengaturan, serta konflik
manusia-monyet.

Karena itu, pembangunan fasilitas pembiakan di Mesuji tidak
cukup hanya dinilai dari potensi ekonomi maupun manfaatnya bagi penelitian.
Aspek kesejahteraan satwa, asal-usul indukan, kapasitas pembiakan, mekanisme
pengawasan, serta dampaknya terhadap populasi liar harus menjadi bagian utama
dari kebijakan.

Apalagi penelitian terbaru di Lampung menunjukkan bahwa
Mesuji masih menjadi salah satu wilayah penting bagi keberadaan Macaca
fascicularis
. Jika pengelolaan tidak dilakukan secara ketat, kebutuhan
satwa untuk pasar penelitian justru berisiko menambah tekanan terhadap populasi
di habitat alaminya.

Pemerintah karena itu perlu membuka informasi mengenai
jumlah satwa yang dikelola, sumber indukan, izin pemanfaatan, standar
kesejahteraan satwa, tujuan ekspor, hingga mekanisme pengawasan setelah satwa
dikirim ke luar negeri.

Langkah tersebut penting agar fasilitas pembiakan
benar-benar menjadi solusi konservasi dan konflik manusia-satwa, bukan justru
menciptakan insentif baru bagi pengambilan monyet ekor panjang dari alam.

Dengan status Macaca fascicularis yang kini berada
pada kategori terancam punah, keberhasilan fasilitas di Mesuji pada akhirnya
tidak hanya diukur dari jumlah monyet yang berhasil dikembangbiakkan, tetapi
juga dari kemampuannya memastikan populasi liar tetap terlindungi.

 

Pos terkait