JAKARTA, BULLETIN – Rupiah menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026, dibuka di level Rp17.809 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (The Fed).
Nilai tukar Rupiah menguat 0,13 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya, melanjutkan tren positif setelah penutupan Rabu (19/8) yang juga menguat 0,14 persen. Bahkan, pada perdagangan Kamis pagi, Rupiah menguat sempat bergerak di bawah level Rp17.800 per dolar AS.
Salah satu sentimen utama yang mendukung penguatan Rupiah menguat adalah keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Agustus 2026. Keputusan ini diumumkan oleh Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Keputusan mempertahankan suku bunga tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi pertimbangan penting dalam kebijakan moneter BI. Data BI mencatat Rupiah menguat 0,78 persen secara point-to-point dibandingkan akhir Juli, mencapai Rp17.855 per dolar AS pada 18 Agustus 2026. Berdasarkan kurs JISDOR, rupiah berada di level Rp17.844 per dolar AS pada 19 Agustus 2026, menguat dari Rp17.856 pada hari sebelumnya.
Di pasar global, investor terus mencermati arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September. The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50–3,75 persen pada pertemuan 28–29 Juli 2026. Namun, risalah pertemuan yang dirilis 19 Agustus menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral AS mengenai arah kebijakan selanjutnya.
Tiga anggota FOMC bahkan menginginkan kenaikan suku bunga 25 basis poin, mengindikasikan kebijakan yang lebih ketat mungkin diperlukan jika inflasi tetap tinggi. Data pasar menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sempat berada di sekitar 36 persen, bukan peluang penurunan suku bunga, seperti yang disebutkan Crux Investor.
Perkembangan terbaru menunjukkan pasar masih terbagi mengenai prospek The Fed. Goldman Sachs memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September, sementara data CME FedWatch yang dikutip MarketWatch menunjukkan peluang kenaikan 25 basis poin berada di sekitar 30 persen.
Ketidakpastian kebijakan The Fed ini terutama berkaitan dengan tingkat inflasi AS. Risalah pertemuan Juli mengungkapkan kekhawatiran sejumlah pejabat terkait inflasi yang masih di atas target bank sentral. Di sisi lain, data ekonomi terbaru mulai memberikan ruang bagi pasar untuk memperkirakan The Fed tidak perlu segera memperketat kebijakan.
Data Producer Price Index (PPI) AS untuk Juli tercatat tidak berubah secara bulanan, sementara kenaikan tahunan PPI melambat menjadi 4,7 persen dari 5,5 persen pada Juni. Perbedaan antara kekhawatiran inflasi dan tanda-tanda perlambatan ekonomi ini menjadikan arah kebijakan The Fed sebagai sumber volatilitas bagi pasar keuangan global, termasuk Rupiah menguat.
Penguatan Rupiah menguat pada Kamis adalah sinyal positif, namun pelaku pasar tetap perlu memperhatikan risiko eksternal. Harga minyak kembali berada di atas US$92 per barel, dan kenaikan harga energi ini berpotensi menjadi tekanan baru terhadap inflasi global serta memengaruhi ekspektasi kebijakan bank sentral.
Di dalam negeri, keputusan BI mempertahankan BI Rate memberikan kepastian setelah Rupiah menguat menunjukkan perbaikan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Namun, keberlanjutan penguatan Rupiah menguat akan sangat bergantung pada perkembangan dolar AS, arah kebijakan The Fed, arus modal asing, harga komoditas, serta kondisi geopolitik global.
Untuk saat ini, pasar menikmati kombinasi sentimen yang relatif mendukung: Rupiah menguat, BI mempertahankan suku bunga acuan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai menurun dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Meskipun demikian, risiko perubahan arah masih terbuka lebar. Investor akan terus mencermati data inflasi, tenaga kerja, dan aktivitas ekonomi AS untuk memperkirakan keputusan The Fed pada September mendatang.
Dengan posisi tersebut, level Rp17.800 per dolar AS menjadi salah satu area psikologis penting yang akan diperhatikan pasar dalam pergerakan Rupiah menguat selanjutnya.






