PALU, BULLETIN – Perekonomian Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, berdasarkan rilis data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah. Meski demikian, pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah ini diiringi oleh tantangan berupa peningkatan kemiskinan di perkotaan serta isu kualitas pekerjaan yang masih perlu perhatian serius.
Data BPS Sulawesi Tengah yang diterbitkan pada 5 Agustus 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan II 2026 secara year-on-year (y-on-y) mencapai 5,06 persen. Angka ini menandai sinyal positif bagi geliat Ekonomi Sulawesi Tengah.
Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dari sisi lapangan usaha, yaitu sebesar 20,20 persen. Sementara itu, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menopang pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran, dengan angka 13,59 persen.
Secara triwulanan, Ekonomi Sulawesi Tengah juga tumbuh 2,93 persen dibandingkan triwulan I 2026. Aktivitas administrasi pemerintahan yang meningkat 39,40 persen dan konsumsi pemerintah yang tumbuh 30,25 persen menjadi pendorong utama.
Secara kumulatif, Ekonomi Sulawesi Tengah pada semester I 2026 tumbuh 6,64 persen dibandingkan semester I 2025. Sektor administrasi pemerintahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,47 persen, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 16,70 persen.
Industri Pengolahan Tetap Penopang Utama
Meskipun beragam sektor menunjukkan pertumbuhan, struktur Ekonomi Sulawesi Tengah masih sangat bergantung pada industri pengolahan. Sektor ini berkontribusi 44,37 persen terhadap perekonomian daerah.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 15,60 persen, sementara pertambangan dan penggalian sebesar 13,79 persen. Ketiga sektor ini secara total menyumbang 73,75 persen terhadap struktur Ekonomi Sulawesi Tengah.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tetap menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 115,73 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) berkontribusi 37,12 persen, dan konsumsi rumah tangga sebesar 26,38 persen. Ini menegaskan peran penting industri dan ekspor dalam menjaga laju Ekonomi Sulawesi Tengah.
Kemiskinan Turun, Namun Perkotaan Naik
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah ini sejalan dengan penurunan tingkat kemiskinan. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin Sulawesi Tengah tercatat 10,46 persen, turun 0,06 poin dari September 2025 dan 0,46 poin dari Maret 2025.
Jumlah penduduk miskin juga berkurang menjadi 345,06 ribu orang, penurunan sekitar 320 orang dibandingkan September 2025 dan 11,13 ribu orang dibandingkan Maret 2025.
Namun, penurunan kemiskinan ini belum merata. Kemiskinan di perdesaan turun menjadi 12,48 persen, sementara di wilayah perkotaan justru meningkat menjadi 6,62 persen. Kondisi ini menunjukkan dampak pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Tengah belum menyentuh semua kelompok masyarakat.
Garis kemiskinan meningkat menjadi Rp685.244 per kapita per bulan, naik 3,09 persen dibandingkan September 2025. Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga meningkat, menandakan jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin besar.
Ketimpangan Terendah di Sulawesi
Indikator pemerataan menunjukkan kondisi positif. Gini Ratio Sulawesi Tengah pada Maret 2026 berada di angka 0,277, yang merupakan angka terendah di Pulau Sulawesi dan lebih rendah dari Gini Ratio nasional 0,368. Di perkotaan, Gini Ratio tercatat 0,302, sementara di perdesaan 0,242.
BPS juga mencatat kelompok 40 persen penduduk dengan pengeluaran terbawah menguasai 23,25 persen pangsa pengeluaran pada Maret 2026, meningkat dari 23,14 persen pada September 2025.
Pengangguran Stabil, Kualitas Kerja Jadi Perhatian
Di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulawesi Tengah pada Mei 2026 stabil di 2,97 persen, naik tipis 0,02 poin dari Februari 2026. Jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 1.633,67 ribu orang, bertambah 10,72 ribu orang.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat menjadi 70,88 persen, naik 0,24 poin. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 633,69 ribu pekerja atau 38,79 persen dari total.
Proporsi pekerja formal juga meningkat menjadi 35,36 persen atau sekitar 577,66 ribu orang. Namun, kualitas pekerjaan masih menjadi perhatian, dengan tingkat setengah pengangguran meningkat menjadi 8,15 persen dan pekerja paruh waktu tercatat 27,21 persen.
Data BPS menunjukkan bahwa Ekonomi Sulawesi Tengah memang berada dalam tren pertumbuhan yang kuat, disertai penurunan kemiskinan dan tingkat ketimpangan yang relatif rendah. Namun, peningkatan kemiskinan perkotaan dan dinamika kualitas pekerjaan mengindikasikan bahwa tantangan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan kesejahteraan dan pekerjaan yang lebih berkualitas bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tengah.






