PALU, BULLETIN – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong 1.018 lulusan Universitas Tadulako (Untad) untuk menciptakan peluang dan lapangan kerja sendiri, alih-alih hanya berfokus mencari pekerjaan setelah menyandang gelar sarjana. Pesan ini disampaikan saat Amran memberikan orasi ilmiah pada Wisuda ke-138 Untad di Gedung Auditorium, Kamis, 20 Agustus 2026.
Amran menekankan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam dan potensi ekonomi yang sangat besar. Ia mengungkapkan keheranannya jika kekayaan alam ini justru lebih banyak dimanfaatkan oleh pihak luar, sementara masyarakat Indonesia sendiri belum sepenuhnya sejahtera.
“Anak-anakku, Anda ini alumni. Enggak usah mencari kerja, ciptakan pekerjaan, ciptakan peluang. Pasti bisa. Indonesia ini subur,” kata Amran Sulaiman.
Mentan Amran juga mengajak para lulusan untuk mengubah pola pikir demi meraih kesuksesan. Menurutnya, keberhasilan tidak dapat dicapai tanpa proses panjang dan kesiapan menghadapi kegagalan.
“Orang lain saja datang ke Indonesia, numpang, kaya raya. Heran tuan rumahnya miskin,” ujarnya.
Amran mengkritik mentalitas yang menginginkan keberhasilan tanpa melalui proses. Ia berpendapat bahwa pengalaman menghadapi kegagalan merupakan bagian penting yang tidak selalu didapatkan di bangku kuliah, sehingga lulusan Untad ciptakan lapangan kerja harus berani mengambil risiko.
“Kalau mau sukses, siapkan gagal lima tahun sampai 10 tahun. Harus gagal. Pondasi sukses adalah gagal dan menderita,” tuturnya.
Menteri Pertanian tersebut juga meminta para dosen Untad untuk memberikan tantangan lebih banyak kepada mahasiswa, agar mereka terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan. Menurutnya, gelar akademik hanyalah awal untuk berkarya, bukan alasan untuk berhenti belajar atau tidak berani berinovasi menciptakan lulusan Untad ciptakan lapangan kerja.
“Pak Rektor dan para dosen, tambah PR-nya. Kalau boleh, satu kali ketemu beri PR 10, minimal lima,” jelasnya.
Sementara itu, Rektor Untad Prof. Amar mengingatkan para wisudawan bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir dari sebuah perjuangan. Ia mencontohkan Thomas Alva Edison yang menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses menemukan jalan yang lebih baik, prinsip yang relevan bagi lulusan Untad ciptakan lapangan kerja.
“Kegagalan itu bukan alasan untuk berhenti, tetapi kegagalan adalah informasi untuk menentukan jalan yang lebih baik di dalam setiap riset yang dilakukan,” ujar Prof. Amar.
Prof. Amar menambahkan, para lulusan mungkin akan menghadapi penolakan, kegagalan, atau rencana yang tidak berjalan sesuai harapan setelah memasuki dunia kerja dan bermasyarakat. Oleh karena itu, ia meminta alumni Untad untuk terus belajar, beradaptasi, dan tidak berhenti mencoba.
“Jangan berhenti, belajar dari kegagalan, dan terus bergerak. Dunia tidak membutuhkan lulusan yang takut gagal, dunia membutuhkan manusia yang berani mencoba, mau belajar dan mau beradaptasi,” katanya.
Prof. Amar menegaskan bahwa Untad tidak hanya berfokus pada penguatan kapasitas akademik dan riset, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi yang berdampak, berkelanjutan, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama di tengah transformasi digital. Upaya ini mendukung agar lulusan Untad ciptakan lapangan kerja yang inovatif.
“Kami berusaha untuk terus berbenah agar sistem pendidikan di kampus menjadi lebih baik,” pungkasnya.
Wisuda ke-138 Untad ini diikuti oleh 1.018 lulusan dari berbagai jenjang, meliputi doktoral, magister, sarjana, dan sarjana terapan, yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan dan lulusan Untad ciptakan lapangan kerja baru.






