Chivu Akui Inter Belum Sempurna Meski Kalahkan Cagliari 1-0

  • Whatsapp
Inter Milan Kalahkan Cagliari
Pelatih Inter Milan Cristian Chivu

CAGLIARI, BULLETIN – Pelatih Cristian Chivu akui Inter Milan masih punya pekerjaan rumah besar, meski sukses Inter Milan kalahkan Cagliari dengan skor tipis 1-0 dalam laga lanjutan Serie A di Unipol Domus. Kemenangan ini menjaga rekor sempurna Nerazzurri, namun Chivu menyoroti timnya yang gagal mematikan pertandingan lebih awal.

Gol Hakan Calhanoglu di menit-menit awal membuka keunggulan Inter. Setelah gol tersebut, tim asuhan Chivu sebenarnya memiliki beberapa peluang emas untuk memperlebar jarak. Namun, penyelesaian akhir yang kurang efektif membuat skor tidak berubah.

Kegagalan mengamankan gol kedua ini berakibat fatal. Pada babak kedua, Cagliari semakin berani menyerang dan memberikan tekanan berarti. Pertandingan pun menjadi jauh lebih sulit bagi Inter Milan, yang harus bekerja keras mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir.

Bagi Chivu, kemampuan timnya untuk bertahan dalam situasi sulit menjadi salah satu aspek positif dari pertandingan ini. “Ini adalah pertandingan di mana jika Anda tidak menyelesaikannya dengan tegas, Anda bisa berada dalam masalah. Hari ini kami harus tahu bagaimana menderita,” kata Chivu usai pertandingan.

Pelatih asal Rumania tersebut mengakui bahwa Inter Milan kehilangan sedikit kendali permainan yang begitu dominan mereka tunjukkan di babak pertama. “Saya ingin melihat sedikit lebih banyak karakter dari kami menjelang akhir pertandingan, mendominasi permainan seperti yang kami lakukan di babak pertama. Namun, kami berada dalam fase yang menantang dan saya harus merespons situasi tersebut,” ujarnya.

Salah satu tantangan utama bagi Chivu dalam laga kontra Cagliari adalah adaptasi taktis yang harus ia lakukan, terutama di lini belakang. Benjamin Pavard sempat digeser menjadi wing-back, sementara Yann Bisseck menempati posisi sentral. Keputusan ini menunjukkan bahwa Inter Milan belum berada dalam kondisi ideal.

“Anda harus beradaptasi dengan tim dan situasi,” kata Chivu. Fleksibilitas pemain menjadi sangat penting ketika tim menghadapi situasi yang tidak terduga, seperti cedera atau kebugaran pemain. Hal ini krusial mengingat Inter baru saja mengalami perubahan signifikan pada komposisi skuad mereka.

Chivu juga menyoroti proses adaptasi pemain baru. Ia menyebut Curtis Jones dan John Stones sebagai pemain berpengalaman yang masih membutuhkan waktu untuk mencapai performa terbaiknya. “Ini masih awal untuk pemain-pemain baru. Jones dan Stones punya banyak pengalaman, tetapi mereka masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi,” ujar Chivu.

Meskipun kedua pemain tersebut memiliki sikap yang positif, ritme pertandingan dan kondisi fisik mereka perlu dibangun secara bertahap. Chivu senang dengan etos kerja mereka. “Mereka memiliki sikap yang tepat. Mereka adalah dua pemain teladan dengan ketangguhan dan antusiasme besar, dan kami senang memiliki mereka,” tambahnya. Perubahan komposisi skuad, dengan lima pemain yang hengkang, membuat Inter Milan sedang dalam fase regenerasi dan pembangunan keseimbangan tim.

Berita Pilihan :  América Singkirkan Columbus Crew, Cetak Sejarah dengan Dominasi Liga MX di Semifinal Leagues Cup

Selain lini belakang, Chivu juga menyoroti tantangan dalam mengelola kedalaman skuad, khususnya di lini tengah. Inter Milan memiliki banyak pemain berkualitas di sektor ini, yang memberikan keuntungan dari sisi pilihan, namun juga menghadirkan masalah bagi pelatih.

“Kami memiliki lini tengah yang dipenuhi pemain-pemain top, dan tugas saya adalah membuat semua orang bahagia. Itulah bagian tersulit menjadi seorang pelatih,” kata Chivu. Baginya, ukuran keberhasilan bukan hanya hasil pertandingan, melainkan bagaimana menjaga seluruh pemain tetap termotivasi meskipun tidak selalu menjadi pilihan utama.

“Misinya adalah melihat setiap pemain tersenyum setiap pekan. Itu tidak mudah,” ungkapnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa tantangan Chivu musim ini tidak hanya sebatas taktik, tetapi juga melibatkan manajemen ego, ekspektasi, dan persaingan internal dalam skuad yang bertabur bintang.

Meski Inter Milan kalahkan Cagliari, mereka tidak boleh larut dalam euforia. Inter Milan memiliki agenda besar di depan mata, termasuk laga melawan Real Madrid. Namun, Chivu menolak untuk terlalu jauh memikirkan pertandingan tersebut. “Real Madrid? Saya sedang memikirkan Napoli, karena itulah lawan yang kami hadapi lebih dulu,” tegasnya.

Pertandingan melawan Napoli di San Siro akan menjadi ujian berikutnya. Setelah itu, perhatian mereka baru akan beralih ke kompetisi Eropa. “Ketika kami pergi ke Madrid, kami akan memberikan yang terbaik. Kami ingin kompetitif, dan kami kurang lebih tahu jumlah poin yang kami butuhkan untuk menghindari playoff,” ujar Chivu.

Kemenangan atas Cagliari membuat Inter Milan meraih enam poin dari dua pertandingan Serie A. Namun, cara kemenangan tersebut diraih memberikan gambaran yang lebih kompleks. Inter mampu mengontrol pertandingan dan menciptakan banyak peluang, tetapi gagal mencetak gol kedua. Akibatnya, mereka harus menghadapi tekanan besar pada penghujung laga.

Bagi Chivu, pengalaman ini adalah pelajaran berharga. Inter harus belajar bahwa dominasi tidak cukup jika tidak diselesaikan dengan gol. Ketika peluang untuk “membunuh” pertandingan terlewatkan, lawan akan selalu memiliki kesempatan untuk bangkit. Di sisi lain, kemampuan bertahan dalam tekanan juga menjadi modal penting.

Inter Milan kini memiliki enam poin, namun Chivu tahu perjalanan musim masih panjang. Nerazzurri telah mengawali musim dengan sempurna dari sisi hasil. Namun, untuk benar-benar menjadi tim yang kompetitif di semua kompetisi, mereka harus belajar mengubah dominasi menjadi kemenangan yang lebih meyakinkan. Dan bagi Chivu, ujian berikutnya sudah menunggu: Napoli di San Siro.

Pos terkait