Viral! Hiu Muncul di Lampung Jelang Erupsi Anak Krakatau, Ini Faktanya

  • Whatsapp
Viral! Hiu Muncul di Lampung Jelang Erupsi Anak Krakatau

LAMPUNG,BULLETIN.ID  — Video yang memperlihatkan sejumlah hiu berenang mendekati perairan dangkal di pesisir Lampung viral di media sosial. Kemunculan satwa laut tersebut menjadi perhatian karena waktunya berdekatan dengan meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Dalam sejumlah unggahan media sosial, kemunculan hiu bahkan dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Narasi mengenai satwa laut yang seolah-olah mampu “membaca” perubahan alam sebelum gunung api erupsi pun ikut berkembang di tengah masyarakat.

Namun, keterkaitan tersebut hingga kini belum terbukti secara ilmiah.

Video kemunculan hiu memang beredar di media sosial, tetapi belum ada keterangan dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG maupun lembaga ilmiah terkait yang menyatakan bahwa perubahan perilaku hiu tersebut merupakan respons terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau

Karena itu, kemunculan hiu dan erupsi Anak Krakatau perlu ditempatkan sebagai dua peristiwa yang waktunya berdekatan, bukan sebagai hubungan sebab-akibat yang sudah terbukti.

Anak Krakatau memang sedang aktif

Terlepas dari video hiu yang viral, peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau merupakan fakta yang telah dikonfirmasi lembaga pemerintah.

Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam sejak 5 September. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas vulkanik masih berlangsung dan terus dipantau.

Dalam laporan pemantauan 7 September, Badan Geologi mencatat tiga kali gempa erupsi, sembilan gempa hembusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hybrid atau fase banyak, serta empat kali tremor menerus. Aktivitas erupsi strombolian juga masih teramati melalui pemantauan visual dan CCTV.

Status Gunung Anak Krakatau juga masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun aktivitas lain diminta memperhatikan informasi resmi dan menjauhi radius bahaya yang ditetapkan otoritas.

Sebelumnya, pada 4 September, Gunung Anak Krakatau juga tercatat mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak.

Tidak ada anomali tsunami

Berita Pilihan :  The Early Spring Viral, Adegan Romantis Luan Nian dan Shang Zhi Tao Bikin Penggemar Heboh

Di tengah meningkatnya aktivitas gunung api, BMKG juga melakukan pemantauan terhadap kemungkinan perubahan muka laut di Selat Sunda.

Hasil pemantauan multi-sensor InaTEWS hingga 6 September pukul 07.30 WIB tidak menunjukkan adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami akibat rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau.

Artinya, masyarakat perlu membedakan antara aktivitas erupsi yang memang sedang terjadi dengan klaim mengenai tanda-tanda alam yang belum memiliki dasar ilmiah.

Perairan Lampung juga sedang menghadapi gelombang tinggi

Kondisi laut di kawasan Selat Sunda juga patut menjadi perhatian. Prakiraan BMKG untuk Selat Sunda bagian selatan Lampung pada 7 September menunjukkan gelombang kategori tinggi dengan ketinggian sekitar 3,3–3,4 meter, disertai angin sekitar 25 knot pada periode pagi.

Kondisi oseanografi seperti arus, suhu air, ketersediaan makanan, maupun kondisi habitat dapat memengaruhi pergerakan satwa laut. Namun, tanpa penelitian langsung terhadap lokasi, waktu, spesies, serta kondisi lingkungan saat video direkam, tidak tepat menyimpulkan bahwa kemunculan hiu disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Jangan jadikan video viral sebagai alat prediksi bencana

Fenomena hiu yang muncul di perairan dangkal memang menarik perhatian. Namun, menjadikannya sebagai indikator atau “pertanda” erupsi berisiko menimbulkan informasi yang menyesatkan.

Untuk kondisi Gunung Anak Krakatau, indikator yang menjadi dasar pemantauan justru berasal dari instrumen kegempaan, pengamatan visual, CCTV, perubahan aktivitas vulkanik, serta pemantauan kondisi laut dan atmosfer oleh lembaga berwenang.

Karena itu, masyarakat di pesisir Lampung dan Banten sebaiknya tidak mengambil keputusan berdasarkan spekulasi yang beredar di media sosial.

Hiu yang muncul di perairan Lampung adalah fenomena yang viral. Erupsi Gunung Anak Krakatau adalah fakta yang terukur. Keduanya terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, tetapi hingga kini belum ada bukti ilmiah bahwa yang satu menjadi pertanda bagi yang lain.

Yang lebih penting, masyarakat tetap waspada terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan mengikuti informasi resmi Badan Geologi, PVMBG, BMKG, serta pemerintah daerah.

Pos terkait