Ternyata Bukan Kebetulan, Ini Alasan Tubuh Sering Menginginkan Makanan Tertentu

  • Whatsapp
tubuh menginginkan makanan tertentu
ilustrasi

PALU, BULLETIN – Pernah tiba-tiba ingin makan cokelat, gorengan, mi instan, makanan pedas, atau sesuatu yang manis, padahal sebelumnya tidak merasa lapar? Keinginan kuat terhadap makanan tertentu atau food craving ternyata bukan sekadar persoalan selera, melainkan respons kompleks tubuh yang melibatkan berbagai faktor.

Rasa ingin makan yang sangat spesifik, di mana tubuh menginginkan makanan tertentu, dapat muncul melalui perpaduan mekanisme otak, pengalaman dan kebiasaan makan, kondisi emosional, kurang tidur, hingga pembatasan makanan. Anggapan bahwa setiap keinginan terhadap makanan tertentu merupakan “sinyal” bahwa tubuh sedang kekurangan zat gizi tertentu tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah.

Sebuah tinjauan ilmiah yang membahas psikologi food craving menjelaskan bahwa craving dapat terbentuk sebagai respons yang terkondisi. Otak dapat menghubungkan makanan tertentu dengan pengalaman menyenangkan, situasi tertentu, atau kebiasaan yang berulang.

Bukan selalu tanda kekurangan nutrisi

Salah satu anggapan yang populer adalah tubuh akan “meminta” makanan tertentu karena membutuhkan zat gizi yang terkandung di dalamnya. Misalnya, keinginan terhadap makanan manis dianggap sebagai tanda tubuh membutuhkan gula, sedangkan keinginan terhadap makanan tertentu dikaitkan dengan kekurangan mineral. Namun, hubungan tersebut tidak sesederhana itu.

Penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed tidak menemukan bukti yang jelas bahwa food craving secara umum disebabkan oleh kekurangan zat gizi. Studi tersebut bahkan tidak menemukan hubungan yang jelas antara jenis makanan yang diidamkan dan peningkatan asupan zat gizi tertentu. Dengan demikian, ketika tubuh menginginkan makanan tertentu, belum tentu ini pertanda kekurangan nutrisi.

Hal ini bukan berarti kekurangan nutrisi tidak pernah berkaitan dengan keinginan makan tertentu. Pada kondisi khusus seperti pica, seseorang dapat memiliki dorongan untuk mengonsumsi benda yang bukan makanan, misalnya es, tanah, atau kapur. Kondisi tersebut diketahui memiliki hubungan dengan kekurangan zat besi, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami dan tidak semua kasus pica disebabkan oleh kekurangan zat besi. Dengan demikian, craving terhadap cokelat, keripik, gorengan, atau makanan manis sehari-hari tidak bisa langsung dijadikan indikator adanya kekurangan vitamin atau mineral tertentu, meskipun tubuh menginginkan makanan tertentu.

Otak ikut menentukan makanan yang diinginkan

Craving berbeda dengan rasa lapar biasa. Lapar lebih berkaitan dengan kebutuhan energi tubuh. Sementara craving merupakan dorongan kuat terhadap makanan tertentu, bahkan dapat muncul ketika seseorang sebenarnya tidak membutuhkan tambahan energi. Kajian terbaru mengenai food craving menyebutkan bahwa dorongan tersebut dapat muncul terlepas dari status nutrisi tubuh dan melibatkan mekanisme neurohormonal sekaligus psikologis. Ini menjelaskan mengapa tubuh menginginkan makanan tertentu tanpa rasa lapar.

Makanan yang tinggi gula, lemak, atau kombinasi keduanya juga dapat memiliki daya tarik yang kuat karena memberikan pengalaman sensorik dan penghargaan yang menyenangkan. Ketika seseorang berulang kali mendapatkan pengalaman menyenangkan setelah mengonsumsi makanan tertentu, otak dapat mempelajari hubungan tersebut. Aroma makanan, melihat foto makanan, waktu tertentu dalam sehari, bahkan tempat tertentu kemudian dapat menjadi pemicu keinginan makan. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa tiba-tiba menginginkan makanan tertentu hanya karena melihat iklan, mencium aromanya, atau melewati tempat yang biasa menjual makanan tersebut.

Stres bisa membuat keinginan makan semakin kuat

Kondisi emosional juga tidak bisa dilepaskan dari perilaku makan. Tinjauan ilmiah mengenai stres dan perilaku makan menunjukkan bahwa stres yang sulit dikendalikan dapat mengubah pola makan serta meningkatkan daya tarik dan konsumsi makanan yang sangat lezat, terutama makanan tinggi lemak dan gula. Penelitian terhadap 619 orang juga menemukan adanya hubungan antara stres kronis, food craving, dan indeks massa tubuh. Dalam penelitian tersebut, craving menjadi salah satu jalur yang menghubungkan stres kronis dengan BMI. Itulah sebabnya makanan tertentu kerap dicari ketika seseorang sedang lelah, tertekan, bosan, atau membutuhkan kenyamanan emosional, membuat tubuh menginginkan makanan tertentu sebagai respons.

Berita Pilihan :  Resep Ayam Goreng Renyah: Tips Praktis untuk Hasil Gurih Maksimal

Makanan tersebut bukan hanya memberikan rasa kenyang, tetapi juga dapat menjadi bagian dari mekanisme seseorang dalam menghadapi kondisi emosional.

Kurang tidur juga bisa mengubah pilihan makanan

Faktor lain yang sering luput diperhatikan adalah tidur. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengubah aktivitas sejumlah wilayah otak yang berkaitan dengan penilaian terhadap makanan dan sistem penghargaan. Dalam kondisi kurang tidur, aktivitas amigdala meningkat sementara aktivitas beberapa area korteks yang berperan dalam pengendalian dan evaluasi makanan menurun. Ini dapat memicu mengapa tubuh menginginkan makanan tertentu saat kurang tidur.

Meta-analisis terhadap penelitian mengenai pembatasan tidur juga menemukan bahwa kurang tidur meningkatkan rasa lapar. Dalam analisis tersebut, pembatasan tidur dikaitkan dengan peningkatan asupan energi sekitar 252,8 kilokalori per hari. Kajian lain menunjukkan bahwa gangguan tidur berkaitan dengan peningkatan konsumsi makanan, terutama makanan tinggi lemak dan karbohidrat. Dengan kata lain, ketika seseorang kurang tidur, bukan hanya rasa kantuk yang meningkat. Keinginan terhadap makanan tertentu juga dapat berubah.

Terlalu membatasi makanan juga dapat menjadi pemicu

Ironisnya, semakin keras seseorang melarang dirinya mengonsumsi makanan tertentu, keinginan terhadap makanan tersebut pada sebagian orang justru dapat semakin kuat. Tinjauan mengenai psikologi food craving menemukan bahwa pembatasan terhadap makanan tertentu dalam jangka pendek dapat meningkatkan craving terhadap makanan yang dihindari. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa craving dapat dipelajari sebagai respons terkondisi dan pada kondisi tertentu dapat berkurang seiring waktu. Ini adalah paradoks saat tubuh menginginkan makanan tertentu yang dilarang.

Karena itu, pola makan yang sangat restriktif belum tentu menjadi solusi terbaik untuk mengendalikan keinginan makan. Masalahnya bukan semata-mata apakah seseorang “kuat menahan diri”, tetapi juga bagaimana pola makan, lingkungan, tidur, dan kondisi psikologis memengaruhi keputusan makan.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi ketika tiba-tiba ingin makanan tertentu?

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua orang. Keinginan makan tertentu bisa merupakan kombinasi antara kebutuhan energi, kebiasaan, ingatan terhadap makanan, lingkungan, stres, kualitas tidur, dan respons sistem penghargaan otak. Craving juga tidak otomatis berarti seseorang benar-benar lapar. Karena itu, ketika keinginan makan muncul, penting membedakan antara lapar fisik dan keinginan spesifik terhadap makanan.

Jika craving muncul sesekali, kondisi tersebut merupakan bagian yang cukup umum dalam perilaku makan. Namun, bila keinginan terhadap makanan terasa sangat kuat, berulang, sulit dikendalikan, atau sampai mengganggu pola makan dan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut layak diperhatikan lebih serius. Harvard Health juga menjelaskan istilah food noise untuk menggambarkan pikiran atau dorongan mengenai makanan yang terus muncul dan dapat menjadi masalah ketika terasa kaku, membuat stres, atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, tubuh memang mengirimkan berbagai sinyal terkait makan. Tetapi tidak semua keinginan terhadap makanan tertentu merupakan pesan sederhana seperti “tubuh sedang kekurangan nutrisi X”. Sering kali, ada cerita yang jauh lebih kompleks di balik satu keinginan makan: otak mengingat, tubuh merespons, emosi memengaruhi, sementara kebiasaan memperkuatnya.

Pos terkait