Kanwil Ditjenpas Sulteng Dorong Pendekatan Humanis dalam Rehabilitasi Klien Terorisme

  • Whatsapp
Lokakarya Penguatan Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial bagi Klien Terorisme yang digelar oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Palu pada Rabu (21/5/2025) hingga Kamis (22/5/2025) di Aula Bapas Palu. Foto:Ist

PALU, BULLETIN.ID — Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sulawesi Tengah terus mengintensifkan pendekatan humanis dalam pembinaan klien pemasyarakatan kasus terorisme. Langkah ini dinilai strategis dalam mendorong reintegrasi sosial yang lebih efektif, berkelanjutan, dan bermakna secara kemasyarakatan.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Lokakarya Penguatan Rehabilitasi dan Reintegrasi Sosial bagi Klien Terorisme yang digelar oleh Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Palu pada Rabu (21/5/2025) hingga Kamis (22/5/2025) di Aula Bapas Palu.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan khususnya Subdirektorat Pendampingan Klien dan Upaya Keadilan Restoratif Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak bersama Yayasan Penerimaan Internasional serta Accept International. 

Hal ini bertujuan untuk memperkuat dukungan rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi klien terorisme yang rentan, melalui pendekatan yang mengedepankan empati, keterlibatan komunitas, dan keadilan restoratif.

Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Bagus Kurniawan, melalui Kepala Bidang Pembimbing Kemasyarakatan, M. Nur Amin, menegaskan bahwa penanganan klien terorisme tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum.

“Kami tidak ingin klien hanya bebas secara fisik, tapi juga pulih secara sosial. Reintegrasi harus menyentuh aspek kemanusiaan dan nilai-nilai kebangsaan,” tegas Amin.

Dalam kegiatan ini, turut hadir Kepala Subdirektorat Pendampingan Klien dan Upaya Keadilan Restoratif Direktorat Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak, Sigit Budiyanto, dan Ketua Yayasan Penerimaan Internasional, Laila Indrianti Fitri.

Laila Indrianti dalam sambutannya menyampaikan visi mereka dalam membantu individu terdampak konflik kekerasan dan pengalaman mereka membina eks-narapidana terorisme (eks napiter). Ia menekankan pentingnya pendekatan lintas budaya dan sinergi institusional sebagai kunci keberhasilan reintegrasi.

“Memahami nilai-nilai budaya lokal serta menjalin kolaborasi yang kuat antar-lembaga sangat krusial dalam proses ini,” jelasnya.

Sementara itu, Sigit Budiyanto mengingatkan seluruh peserta untuk memaksimalkan proses pembelajaran dari lokakarya ini.

“Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat pemahaman semua pihak terhadap strategi pemulihan sosial berbasis keadilan restoratif dan reintegrasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Bapas Palu, Hasrudin, menyebutkan bahwa pendekatan humanis telah mencakup pembinaan spiritual, pemulihan relasi sosial, hingga pelatihan keterampilan kerja yang mampu menunjang kehidupan pasca-binaan. Ia juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat dalam memutus rantai kekambuhan.

“Kita ingin membangun jembatan harapan, bukan sekadar pagar pengawasan. Klien terorisme juga manusia, dan mereka butuh ruang untuk pulih dan diterima kembali,” ucapnya.

Lokakarya ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, termasuk peningkatan sinergi antar-instansi, pelibatan tokoh agama dalam program deradikalisasi, serta perlunya standar layanan rehabilitasi berbasis komunitas yang adaptif terhadap kebutuhan klien.

Melalui kegiatan ini, Kanwil Ditjenpas Sulteng kembali menegaskan posisinya sebagai pelopor reformasi pemasyarakatan berbasis kemanusiaan dan kolaborasi.

Pos terkait