Rupiah Menguat ke Rp17.810: Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen Jadi Penopang

  • Whatsapp
Rupiah Menguat
Ilustrasi / vecteezy

JAKARTA, BULLETIN – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bergerak di level Rp17.810 per dolar AS. Penguatan rupiah sebanyak 87 poin atau sekitar 0,49 persen ini didorong oleh sentimen positif dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026.

Sebelumnya, pada perdagangan pekan lalu, rupiah berada di kisaran Rp17.897 per dolar AS. Pergerakan rupiah pada awal pekan ini cenderung terbatas, berkutat di sekitar level Rp17.800-Rp17.820 per dolar AS, menunjukkan potensi Rupiah Menguat lebih lanjut di tengah gejolak pasar.

Faktor kunci yang menjadi penopang Rupiah Menguat adalah kuatnya kinerja ekonomi domestik. Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan, meskipun sedikit melambat dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61 persen. Pertumbuhan ini tetap ditopang oleh kuatnya permintaan domestik.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 tumbuh 5,06 persen secara tahunan. Konsumsi pemerintah menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 15,97 persen, sementara investasi tumbuh 6,87 persen, yang berkontribusi pada sentimen positif sehingga Rupiah Menguat.

Ekspor juga masih mencatat pertumbuhan sebesar 4,13 persen. Bank Indonesia menyebut kinerja ini didukung oleh permintaan dari sejumlah mitra dagang utama, yang secara tidak langsung turut membantu stabilitas dan penguatan Rupiah Menguat di pasar valuta asing.

Kinerja ekonomi yang solid ini memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku pasar bahwa Rupiah Menguat didasari oleh fundamental yang baik.

Berita Pilihan :  Pemkot Palu Tanam 2.000 Pohon Cabai di Poboya, Perkuat Ketahanan Pangan

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9-5,7 persen. Proyeksi ini didukung permintaan domestik serta bauran kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, yang akan terus mendukung Rupiah Menguat.

Meskipun demikian, pergerakan rupiah masih menghadapi sejumlah faktor eksternal. Pasar valuta asing tetap mencermati arah dolar AS, kebijakan moneter bank sentral AS, serta perkembangan ekonomi dan geopolitik global yang dapat memengaruhi upaya agar Rupiah Menguat secara konsisten.

Dengan posisi rupiah yang masih berada di atas Rp17.800 per dolar AS, pelaku pasar tetap perlu mencermati volatilitas nilai tukar dalam perdagangan selanjutnya. Penguatan pada awal pekan ini menjadi sinyal positif, namun belum cukup untuk mengindikasikan perubahan tren secara permanen untuk Rupiah Menguat.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan fundamental domestik, termasuk keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia serta arah kebijakan moneter di dalam dan luar negeri, yang menentukan sejauh mana Rupiah Menguat dapat dipertahankan.

Pos terkait