NEW DELHI, BULLETIN – Perjalanan pasangan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, di Kejuaraan Dunia BWF 2026 harus terhenti di babak perempat final. Unggulan kedua ini gagal mengatasi permainan agresif pasangan Chinese Taipei, Lee Jhe-Huei/Yang Po-Hsuan, pada Jumat, 21 Agustus 2026, yang membuat Fajar/Fikri Kejuaraan Dunia BWF 2026 berakhir lebih cepat.
Dalam pertandingan yang berlangsung di New Delhi, India, Fajar/Fikri Kejuaraan Dunia BWF 2026 takluk dua gim langsung dengan skor 19-21 dan 16-21. Kekalahan ini memastikan pasangan Indonesia tersebut gagal melangkah ke babak semifinal turnamen bulutangkis bergengsi tersebut.
Sejak awal pertandingan, Lee/Yang langsung menunjukkan performa agresif dengan mengandalkan kecepatan dan kekuatan serangan. Tekanan yang terus-menerus diberikan membuat Fajar/Fikri Kejuaraan Dunia BWF 2026 kesulitan mengembangkan ritme permainan dan membangun serangan secara konsisten.
Fajar Alfian mengakui bahwa ia dan Fikri tidak mampu keluar dari tekanan lawan sepanjang pertandingan. Kondisi ini menjadi salah satu faktor kunci kekalahan mereka di Kejuaraan Dunia BWF 2026.
“Hari ini kami tidak bisa keluar dari tekanan. Mereka bermain sangat baik dengan speed dan power yang luar biasa. Kami sudah mencoba, tapi mereka tampil lebih baik,” kata Fajar usai pertandingan yang dikutip dari situs resmi PBSI.
Fajar juga menyebutkan masalah muncul sejak gim pertama, terutama terkait keraguan dalam pengambilan keputusan dan adaptasi lapangan. Hembusan angin yang cukup kencang ke arah samping lapangan sedikit mengganggu beberapa pengembalian bola.
“Gim pertama khususnya saya banyak ragu-ragu dengan permainan, sedikit kaget juga hembusan angin hari ini lumayan kencang ke pinggir, jadi pengembalian bola saya banyak tidak pas,” jelas Fajar.
Memasuki gim kedua, Fajar/Fikri Kejuaraan Dunia BWF 2026 berusaha memperbaiki strategi dan permainan. Namun, Lee/Yang berhasil mempertahankan dominasinya dan tidak memberi banyak celah bagi pasangan Indonesia untuk membalikkan keadaan.
Fikri menampik anggapan bahwa kekalahan tersebut semata-mata karena tekanan. Menurutnya, Lee/Yang memang tampil sangat solid dan mampu menyulitkan Fajar/Fikri Kejuaraan Dunia BWF 2026.
“Kami tidak merasa terlalu ada pressure, di lapangan memang lawan bermain baik,” ujar Fikri.
Fikri menyoroti kemampuan Lee/Yang dalam menjaga area permainan dengan sangat rapat, yang membuat mereka kesulitan mencari ruang untuk mematikan serangan. Hal ini menjadi evaluasi penting bagi Fajar/Fikri Kejuaraan Dunia BWF 2026.
“Permainan mereka cukup mengagetkan dan solid, seperti sempit dan tidak ada celah di lapangan mereka,” tambah Fikri.
Kekalahan di perempat final ini menjadi pelajaran berharga bagi Fajar/Fikri. Sebagai unggulan kedua, mereka perlu meningkatkan kemampuan adaptasi, terutama saat menghadapi lawan dengan gaya permainan cepat dan agresif seperti di Kejuaraan Dunia BWF 2026 ini.
“Banyak pelajaran untuk saya pribadi di Kejuaraan Dunia ini. Mau lawan siapapun kami harus selalu siap dan harus cepat adaptasi,” tutur Fikri, menganggap partisipasi di Kejuaraan Dunia BWF 2026 ini sebagai pengalaman penting.
Meski gagal mencapai semifinal, pengalaman di level dunia ini tetap memberikan bekal berharga bagi Fajar/Fikri. Kekalahan ini menjadi pengingat bahwa status unggulan tidak menjamin kemenangan dan setiap pasangan harus mampu merespons tekanan serta kondisi pertandingan dengan cepat. Evaluasi mendalam kini menjadi tugas mereka berikutnya untuk memperbaiki konsistensi permainan dan kemampuan beradaptasi di turnamen-turnamen mendatang. Informasi lebih lanjut mengenai turnamen ini dapat dilihat di situs resmi BWF.
sumber :pbsi






