PALU, BULLETIN.ID – Ada sesuatu yang menarik Sedang Tumbuh di UIN Datokarama Palu. Beberapa waktu lalu, sekitar 13 mahasiswa asing dari 10 negara mengikuti pengenalan kampus. Mereka datang dari latar belakang bangsa, budaya, bahasa, dan pengalaman yang berbeda. Menariknya, salah seorang di antara mereka berasal dari Filipina dan beragama non-Muslim.
Fenomena ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi saya, ia menyimpan pesan yang jauh lebih besar tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi Islam memandang keberagaman. Kini, terdapat tujuh mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di UIN Datokarama Palu.
Pertanyaannya kemudian: mengapa mereka memilih kampus Islam untuk belajar?
Jawabannya mungkin bukan hanya karena program studi, fasilitas, atau kualitas akademik. Bisa jadi ada sesuatu yang lebih mendasar: rasa aman, rasa diterima, dan keyakinan bahwa mereka dapat menjadi diri mereka sendiri di dalam lingkungan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Di sinilah saya melihat UIN Datokarama Palu bukan sekadar perguruan tinggi keagamaan Islam.Ia sedang tumbuh menjadi Living Laboratory of Religious Moderation—laboratorium hidup moderasi beragama.
Moderasi Beragama yang Dihidupkan
Selama ini, moderasi beragama sering dibicarakan dalam seminar, konferensi, forum akademik, bahkan dalam berbagai dokumen kebijakan. Semua itu penting.Tetapi moderasi beragama akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti sebagai konsep.
Moderasi harus hadir dalam kehidupan nyata. Ia harus terlihat ketika mahasiswa Muslim belajar bersama mahasiswa non-Muslim. Ia harus terasa ketika seseorang yang berbeda keyakinan tetap mendapatkan penghormatan yang sama. Ia harus tumbuh ketika perbedaan tidak membuat seseorang merasa menjadi “orang lain”.
Dan ia harus menjadi budaya ketika kita mampu mengatakan kepada siapa pun: “Anda boleh berbeda dengan kami, tetapi Anda tetap bagian dari kami.” Bagi saya, di situlah hakikat moderasi beragama.Bukan menyeragamkan keyakinan, tetapi mengajarkan manusia untuk hidup secara dewasa di tengah perbedaan.
UIN sebagai Rumah bagi Semua
Hampir dalam setiap kesempatan bertemu sivitas akademika, saya menyampaikan satu pesan: “UIN Datokarama Palu adalah rumah bagi semua agama dan sekaligus miniatur bangsa Indonesia.”
Mengapa rumah?
Karena rumah bukan tempat semua penghuninya harus memiliki identitas yang sama. Rumah adalah tempat di mana setiap orang merasa diterima, dihormati, dan memiliki ruang untuk tumbuh. Demikian pula kampus.
UIN Datokarama Palu adalah perguruan tinggi Islam. Identitas keislaman itu tentu harus tetap kuat. Tetapi Islam yang kami hadirkan adalah Islam yang memiliki ruang bagi kemanusiaan, penghormatan, kasih sayang, dan keberagaman.
Karena itu, mahasiswa non-Muslim yang belajar di UIN tidak boleh dipandang sebagai tamu. Mereka adalah bagian dari keluarga akademik UIN Datokarama Palu
Mereka memiliki hak untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan potensi, dan merasakan suasana akademik yang nyaman sebagaimana mahasiswa lainnya.
Tidak Harus Seragam untuk Menjadi Satu
Keberagaman juga tercermin dalam cara kita melihat kehidupan mahasiswa. Misalnya, bagi mahasiswi, penggunaan kerudung tidak kami jadikan ukuran tunggal kesalehan atau identitas seseorang. Yang utama adalah kesopanan, kepantasan, dan penghormatan terhadap lingkungan akademik.
Sebab saya percaya, pendidikan tidak boleh kehilangan dimensi kemanusiaannya. Kita tidak sedang membangun manusia-manusia yang seragam. Kita sedang membangun manusia yang memiliki karakter, ilmu, keyakinan, dan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang yang berbeda.
Bukankah Indonesia juga demikian? Indonesia tidak dibangun dari keseragaman.Indonesia dibangun dari keberagaman yang dipertemukan oleh sebuah kesadaran: kita berbeda, tetapi kita satu bangsa.
Karena itu, saya sering menyebut UIN Datokarama Palu sebagai miniatur Indonesia. Di dalamnya ada mahasiswa dengan latar belakang budaya yang berbeda. Ada mahasiswa asing. Ada mahasiswa Muslim dan non-Muslim. Ada berbagai karakter, bahasa, tradisi, dan cara pandang. Mereka semua bertemu dalam satu ruang akademik. Inilah Indonesia dalam bentuk yang lebih kecil.
Dari Palu untuk Dunia
Kehadiran mahasiswa internasional memberikan dimensi lain bagi gagasan tersebut. Ketika mahasiswa dari Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, dan berbagai negara lainnya datang ke Palu, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya pertukaran mahasiswa.
Yang terjadi adalah pertukaran peradaban. Mereka membawa cerita tentang negaranya. Mereka membawa budaya dan pengalaman hidupnya. Dan ketika mereka berada di Palu, mereka berjumpa dengan Indonesia. Mereka belajar tentang Islam Indonesia yang memiliki wajah yang ramah, terbuka, dan menghargai keberagaman. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia juga belajar bahwa dunia jauh lebih luas daripada lingkungan mereka sendiri.
Maka internasionalisasi kampus sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak mahasiswa asing yang datang. Lebih jauh dari itu, internasionalisasi adalah tentang seberapa mampu kampus mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang untuk belajar satu sama lain.
Kampus 1000 Mimpi
Saya ingin UIN Datokarama Palu terus dikenal sebagai Kampus 1000 Mimpi, Mengapa 1000 mimpi? Karena setiap mahasiswa datang ke kampus dengan mimpi yang berbeda. Ada yang ingin menjadi akademisi. Ada yang ingin menjadi profesional. Ada yang ingin menjadi pemimpin. Ada yang ingin mengabdi kepada masyarakat.
Ada yang datang dari negara lain untuk mengenal Indonesia. Dan mungkin ada pula yang datang dengan mimpi sederhana: mendapatkan pendidikan di tempat di mana dirinya diterima dan dihargai. Tugas kampus adalah membuka jalan bagi mimpi-mimpi itu.
Bukan membatasi manusia karena perbedaan agama, bangsa, budaya, atau latar belakang. Justru kampus harus menjadi tempat di mana perbedaan tersebut berubah menjadi energi intelektual dan kekuatan kemanusiaan.
Laboratorium Masa Depan Indonesia
Saya membayangkan suatu hari nanti orang tidak hanya datang ke UIN Datokarama Palu untuk belajar ilmu agama. Mereka datang untuk melihat bagaimana keberagaman dapat dikelola. Bagaimana mahasiswa Muslim dan non-Muslim dapat belajar bersama.
Bagaimana mahasiswa dari berbagai negara dapat duduk dalam satu ruang kelas. Bagaimana identitas keislaman dapat berjalan berdampingan dengan keterbukaan. Dan bagaimana sebuah perguruan tinggi Islam dapat menjadi ruang akademik yang damai bagi semua. Jika itu terjadi, maka UIN Datokarama Palu tidak hanya berbicara tentang moderasi beragama. UIN Datokarama Palu menjadi tempat di mana moderasi beragama dapat dilihat, dirasakan, dan dialami secara langsung.
Itulah yang saya maksud dengan: UIN Datokarama Palu sebagai Living Laboratory of Religious Moderation.
Sebuah laboratorium yang tidak menggunakan tabung reaksi, tetapi manusia. Tidak menggunakan bahan kimia, tetapi pengalaman hidup. Tidak hanya menghasilkan teori, tetapi menghadirkan praktik.
Dan hasil akhirnya bukan sekadar publikasi ilmiah, melainkan manusia yang mampu hidup damai di tengah keberagaman.
Karena pada akhirnya, pendidikan tertinggi bukan hanya membuat seseorang tahu tentang perbedaan, tetapi membuatnya mampu menghormati perbedaan. Dan mungkin, dari Palu—dari kampus yang berada di jantung Sulawesi Tengah—kita sedang belajar satu hal sederhana: Bahwa menjadi Muslim yang baik tidak harus membuat orang lain merasa asing. Menjadi kampus Islam tidak harus menjadikan orang yang berbeda agama merasa tidak memiliki tempat.Dan menjadi Indonesia tidak harus membuat kita kehilangan keberagaman.
UIN Datokarama Palu adalah rumah bagi semua. Kampus 1000 Mimpi. Miniatur Indonesia. Dan laboratorium hidup moderasi beragama. Dari Palu untuk Indonesia. Dari Indonesia untuk dunia.*
Oleh : Prof Dr KH Lukman Thahir M.Ag
(Rektor UIN Datokarama sekaligus Pakar Filsafat)






