Senandung Hijau dari Meja Dapur: Cerita ‘PESONA TANI’ Mengubah Limbah Jadi Ruang Hidup

  • Whatsapp
PT. IMIP memberdayakan masyarakat sekitar kawasan yang tergabung dalam Kelompok Tani Alam Terpadu Desa Le-le, Kecamatan Bahodopi melalui program Pengolahan Sampah Organik Terintegrasi dengan Pertanian (PESONA TANI). (Foto: Dok IMIP).

MOROWALI, BULLETIN.ID – Tahukah Anda bahwa perubahan lingkungan terbesar sering kali tidak dimulai dari panggung seminar internasional atau keputusan diplomasi tingkat tinggi, melainkan dari sudut tersepi di dapur rumah kita sendiri?

Aroma tumisan sayur, kupasan kulit buah, hingga sisa bahan dapur yang biasanya berakhir begitu saja di tempat sampah, kini menyimpan kisah transformasi luar biasa di pesisir Morowali. Di Desa Le-le, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, sebuah kesadaran baru sedang tumbuh perlahan namun pasti.

Desa yang berada di lingkup kawasan industri nikel terpadu ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dan pelestarian lingkungan lokal bisa berjalan bersisian tanpa harus saling meniadakan.

Melalui sebuah inisiatif bernama Program Pengolahan Sampah Organik Terintegrasi dengan Pertanian (PESONA TANI), warga Dusun 3 dan Dusun 4 Desa Le-le membongkar cara pandang lama mereka terhadap sampah. Dulu, sampah adalah barang sisa yang tak berguna dan berbau menyengat. Kini, di tangan masyarakat yang berdaya, sisa dapur tersebut telah bersalin rupa menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi, penyubur tanah pertanian, sekaligus penggerak roda ekonomi sirkular desa.

Mulai Langkah dari Sudut Dapur

Kisah ini menapaki babak barunya pada Juni 2026. Pada tanggal 18 dan 20 Juni, suasana Dusun 3 dan Dusun 4 mendadak lebih hangat dari biasanya. Puluhan warga berkumpul dalam sebuah gerakan edukasi bertajuk “Pilah dari Rumah”. Kegiatan ini menjadi titik pijak penting yang mendekatkan warga Le-le pada pengolahan lingkungan berbasis komunitas.

Sebanyak 33 peserta yang didominasi oleh ibu-ibu rumah tangga dan tokoh lokal mengikuti diskusi secara interaktif diskui ini digagas oleh CSR PT IMIP. Di tempat itu, mereka tak sekadar mendengarkan teori. Warga saling berbagi cerita tentang pengalaman sehari-hari, tantangan bau tak sedap di tempat sampah rumah tangga, hingga kesadaran betapa besarnya volume sisa makanan yang terbuang saban harinya.

Kehadiran program PESONA TANI memberikan jawaban konkret atas keresahan tersebut. Kebiasaan baru pun dibentuk sampah tidak lagi dicampur aduk. Sisa kulit sayur, buah, dan sisa bahan organik dipisahkan secara teliti sejak pertama kali diolah di meja dapur.

Untuk menjaga konsistensi kebiasaan ini agar tidak berhenti sebagai wacana, infrastruktur pendukung mulai dihadirkan. Tiga tong komunal sampah organik ditempatkan di titik-titik strategis pemukiman. Kehadiran tong ini memudahkan warga menampung hasil pilahan rumah tangga sebelum diangkut oleh tim pengumpul.

Secara berkala, anggota Kelompok Tani Alam Terpadu Desa Le-le bergerak mengangkut sisa-sisa organik tersebut. Sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke fasilitas pengolahan untuk diproses menjadi kompos secara terstruktur. Sebuah rantai pemanfaatan limbah yang rapi dan memberdayakan.

Menyemai Manfaat, Menjaga Lingkungan Desa

Dampak dari gerakan memilah dari dapur ini langsung mengalir nyata ke tengah masyarakat. Lingkungan pemukiman Dusun 3 dan Dusun 4 kini terasa jauh lebih bersih dan tertata. Bau menyengat yang biasanya hinggap di sekitar tempat penampungan sementara perlahan sirna karena sisa bahan organik tidak lagi dibiarkan membusuk tanpa penanganan.

Bagi pengelola Tempat Pemrosesan Sampah (TPS) Desa Le-le, pemilahan dari sumbernya memberikan keringanan beban kerja yang signifikan. Timbulan sampah yang masuk ke TPS berkurang drastis, sementara proses pemisahan antara sampah organik dan nonorganik menjadi jauh lebih efisien.

Tak berhenti di level rumah tangga, bahan baku pembuatan kompos ini juga memanfaatkan pasokan dari UMKM makanan lokal, sisa sayuran pasar tradisional, hingga limbah dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beroperasi di Desa Le-le. Seluruh potensi limbah organik ini dirangkul menjadi satu aliran bahan baku yang berkelanjutan.

Berita Pilihan :  Tim Gabungan Tingkatkan Pemantauan dan Kesiapsiagaan Karhutla di Sigi

Bagi para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Alam Terpadu, kompos yang dihasilkan menjadi modal berharga untuk mengembalikan kesuburan tanah mereka. Nutrisi alami dari hasil pengolahan sampah rumah tangga mengalir kembali ke bumi, menyokong pertumbuhan tanaman tanpa ketergantungan penuh pada pupuk kimia komersial.

Menggandeng Industri, Membangun Kemandirian

Keberhasilan gerakan swadaya yang digagas masyarakat sejak tahun 2025 ini tak lepas dari dukungan konkret PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Sebagai pengelola kawasan industri nikel terpadu di Bahodopi, IMIP terus mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular demi memastikan keberlanjutan wilayah sekitar kawasan operasionalnya.

IMIP tidak hanya hadir membawa bantuan fisik berupa sarana dan prasarana pengolahan sampah, tetapi juga memberikan pendampingan berkelanjutan. Pendampingan ini mencakup aspek teknis hingga tata kelola manajerial kelompok tani.

“Selama ini pencatatan administrasi terkait jumlah pupuk yang diproduksi dan yang sudah terjual masih perlu diperkuat. Karena itu, kami terus memberikan sosialisasi dan pendampingan,” ujar Section Head Pilar Lingkungan CSR IMIP, Ferdi Eka Saputra.

Ferdi menekankan bahwa penataan administrasi yang tertib merupakan fondasi utama agar Kelompok Tani Alam Terpadu dapat berkembang menjadi unit usaha mandiri dan akuntabel. Dengan pencatatan yang rapi, kelompok tani dapat mengukur kapasitas produksi, menghitung nilai penjualan, serta merencanakan ekspansi usaha secara terukur.

Guna memastikan mutu produk, IMIP juga menfasilitasi pengujian laboratorium terhadap komposisi kimia pupuk kompos yang dihasilkan. Uji laboratorium ini krusial untuk menjaga standar kualitas sebelum pupuk dipasarkan secara luas kepada para petani di wilayah Bahodopi dan sekitarnya.

Inovasi Tanpa Batas: Menuju Padi Organik dan Jerigen Bekas

Visi PESONA TANI kini berkembang lebih jauh dari sekadar pengolahan sampah menjadi pupuk. Kelompok Tani Alam Terpadu bersama pendamping dari IMIP mulai merancang langkah transformatif berikutnya: budi daya padi organik secara mandiri.

Di tengah keterbatasan lahan persawahan konvensional di kawasan sekitar industri, kreativitas warga justru mengangkasa. Warga memanfaatkan limbah jerigen bekas minyak goreng berukuran besar yang berasal dari fasilitas pengolahan makanan karyawan IMIP untuk dijadikan wadah media tanam.

“Masyarakat juga sudah mengajukan kepada kami rencana pemanfaatan jerigen bekas minyak goreng berukuran besar dari aktivitas pengolahan makanan bagi karyawan yang bekerja di IMIP untuk dijadikan sebagai media tanam. Metode ini menjadi salah satu alternatif, karena budi daya padi tidak harus menggunakan lahan persawahan,” terang Ferdi.

Inovasi budi daya padi organik memanfaatkan media jerigen bekas ini menjadi gambaran utuh ekonomi sirkular: limbah industri dan limbah rumah tangga melebur menjadi solusi pangan mandiri.

Ke depannya, model pengelolaan sampah organik terintegrasi ini berpotensi diperluas ke desa-desa lain di sekitar kawasan IMIP. Sinergi antara partisipasi aktif masyarakat, pendampingan industri, dan inovasi pemanfaatan limbah membuktikan bahwa masalah lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi bernilai tinggi.

Dari meja dapur di Dusun 3 dan 4 Desa Le-le, sebuah pesan sederhana terpancar kuat: menjaga bumi tidak selalu membutuhkan alat canggih. Cukup dengan kepedulian untuk memilah sampah hari ini, kita sedang menanam kebaikan, kemandirian, dan berkah ekonomi untuk masa depan yang lebih hijau. (Nana)

Pos terkait