RSUD Undata Disorot Lewat Petisi Anonim,Direktur Beri Klarifikasi

  • Whatsapp
Direktur RSUD Undata Palu, dr. Jumriani, angkat bicara menanggapi surat terbuka yang viral di media sosial dan mengatasnamakan tenaga kesehatan (nakes) rumah sakit. (Foto:Indra)

PALU, BULLETIN.ID – Direktur RSUD Undata Palu, dr. Jumriani, angkat bicara menanggapi surat terbuka yang viral di media sosial dan mengatasnamakan tenaga kesehatan (nakes) rumah sakit. Surat tersebut berisi desakan kepada Presiden untuk merombak manajemen RSUD Undata Palu karena dinilai mengalami persoalan dalam pengelolaan dan pelayanan.

Dalam konferensi pers, Senin (4/11/2026), Jumriani menegaskan tidak mengetahui siapa pihak yang membuat maupun menyebarkan surat terbuka tersebut. Ia juga mempertanyakan kredibilitas petisi karena tidak mencantumkan identitas maupun tanda tangan pihak yang menyampaikan tuntutan.

“Yang pertama saya mengatakan bahwa saya tidak tahu-menahu soal adanya petisi tersebut. Kedua, petisi tersebut memang tidak ada yang menandatangani,” kata Jumriani.

Menanggapi tudingan bahwa kualitas pelayanan rumah sakit semakin memburuk, Jumriani menyebut penilaian tersebut tidak sejalan dengan hasil pemeriksaan Ombudsman. Menurut dia, Ombudsman telah melakukan wawancara secara acak terhadap sejumlah pasien dan mendapatkan respons positif terkait pelayanan rumah sakit.

Namun, di tengah polemik tersebut, Jumriani mengakui masih terdapat persoalan fasilitas kesehatan, terutama kerusakan alat CT Scan yang hingga kini belum kembali beroperasi.

Ia menjelaskan, kerusakan alat tersebut terjadi sejak September. Pihak rumah sakit telah berkoordinasi dengan pihak terkait di Jakarta dan masih menunggu proses pemeriksaan serta perbaikan.

“Jadi sekarang alat CT Scan kami belum berfungsi karena pemeriksaannya belum datang dilakukan,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi terganggunya layanan pemeriksaan pasien, RSUD Undata berencana menambah alat sebagai fasilitas pendukung. Rumah sakit juga menjalin koordinasi dengan RSUD Anutapura dan RSUD Madani untuk membantu memenuhi kebutuhan pelayanan.

Jumriani menjelaskan, kerja sama pelayanan dengan rumah sakit lain sempat menghadapi kendala ketika RSUD Anutapura belum dapat menerima rujukan pemeriksaan. Kondisi itu terjadi bersamaan dengan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap tata kelola keuangan dan pendapatan rumah sakit.

Berita Pilihan :  315 Pelanggaran Terjaring Operasi Patuh Tinombala 2026

Persoalan CT Scan menjadi salah satu tantangan yang perlu segera diselesaikan RSUD Undata, mengingat ketersediaan alat diagnostik berpengaruh terhadap kecepatan dan kesinambungan penanganan pasien.

Klarifikasi manajemen tersebut sekaligus membuka dua persoalan yang perlu mendapat perhatian: polemik internal yang disampaikan melalui petisi anonim dan kebutuhan pembenahan fasilitas pelayanan.

Di tengah perbedaan penilaian mengenai kualitas layanan, kepastian perbaikan alat kesehatan menjadi hal konkret yang ditunggu masyarakat.

Pos terkait