Save the Children Indonesia Luncurkan Dua Program Strategi di Tanah Luwu

  • Whatsapp
Dobrak Kemiskinan Struktural dan Ketimpangan Gender, Save the Children Indonesia Luncurkan Dua Program Strategis di Tana Luwu. Foto: Dok : Save the Children Indonesia

LUWU, BULLETIN.ID – Di tengah tingginya angka kemiskinan struktural dan ketimpangan gender di kawasan pedesaan Sulawesi Selatan, dua program baru yang diluncurkan Save the Children Indonesia di Tana Luwu mencoba menyasar akar persoalan yang selama ini membuat perempuan dan anak tetap berada dalam lingkar kerentanan. Tidak hanya bicara soal bantuan ekonomi, program ini juga menyentuh isu kekerasan berbasis gender, pekerja anak, hingga ketahanan masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan iklim.

Save the Children Indonesia resmi meluncurkan Program ELEVATE (Economic Livelihood Capabilities and Violence Elimination for Women) dan Program CORE (Cocoa Resilience and Empowerment) di Kabupaten Luwu Timur, Kamis (21/5/2026). Peluncuran berlangsung di Aula Bapperida Luwu Timur dan dihadiri unsur pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga sektor swasta.

Kepala Bidang PPM Bapperida Luwu Timur, A. Yuniati, mengatakan, kedua program tersebut menjadi bagian penting dalam upaya membangun desa yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga mampu melindungi perempuan dan anak dari berbagai bentuk kerentanan sosial.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus menyentuh penguatan kualitas manusia, terutama kelompok rentan di pedesaan.

“Kolaborasi multipihak melalui Program ELEVATE dan CORE ini merupakan langkah strategis untuk meruntuhkan tembok ketimpangan gender dan kemiskinan di Luwu Timur. Kami berkomitmen mendukung perempuan desa agar memiliki kemandirian ekonomi dan memastikan anak-anak tumbuh di lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan,” ujar Yuniati.

Data yang dipaparkan dalam peluncuran program menunjukkan, sebanyak 65,29 persen perempuan di Sulawesi Selatan masih terbebani pekerjaan domestik tanpa upah dan pekerjaan pertanian bernilai rendah. Kondisi tersebut membuat banyak perempuan bergantung secara ekonomi dan rentan mengalami kekerasan berbasis gender.

Di sisi lain, komunitas petani kakao di wilayah pedesaan Tana Luwu juga masih menghadapi persoalan klasik berupa rendahnya produktivitas, terbatasnya akses keuangan, serta ancaman perubahan iklim yang berdampak langsung pada pendapatan keluarga.

Melalui Program ELEVATE yang berlangsung hingga 2029 dan didukung Uni Eropa, Save the Children Indonesia menargetkan penguatan perlindungan perempuan di 20 desa di Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.

Berita Pilihan :  Anwar Hafid Gandeng Hainan Bangun Kemitraan Strategis

Program ini menggabungkan layanan penanganan kekerasan berbasis gender dengan pemberdayaan ekonomi perempuan. Sebanyak 300 perempuan ditargetkan mendapat pelatihan ekonomi, sementara 60 peserta akan mengikuti inkubasi bisnis untuk memperkuat usaha mandiri.

Tak hanya itu, program juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas 19 lembaga layanan kasus kekerasan serta membentuk 20 gugus tugas masyarakat di wilayah terpencil.

Sementara itu, Program CORE yang didukung Mars Impact Fund berfokus pada penguatan ketangguhan masyarakat petani kakao melalui pembentukan Kelompok Simpan Pinjam Desa (VSLA). Program ini menyasar 13 desa fokus dan 20 desa klaster di Luwu Utara dan Luwu Timur.

Melalui skema tersebut, perempuan dan generasi muda didorong memiliki akses keuangan yang lebih inklusif, meningkatkan literasi keuangan, hingga mengembangkan sumber pendapatan alternatif di luar sektor pertanian kakao.

Yang menarik, kelompok VSLA tidak hanya difungsikan sebagai ruang ekonomi, tetapi juga menjadi media edukasi pengasuhan positif dan pencegahan pekerja anak di sektor perkebunan.

Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, Ihawana Mustafa, menilai kemiskinan struktural dan lemahnya tata kelola di tingkat lokal selama ini menjadi faktor yang membuat perempuan dan anak paling rentan terdampak.

Menurutnya, pendekatan program tidak dibangun dengan pola bantuan sesaat, melainkan memperkuat kapasitas masyarakat desa agar mampu merancang solusi secara mandiri.

“Kami tidak membawa solusi dari luar, tetapi memperkuat kapasitas internal desa melalui Rencana Aksi Komunitas yang dipimpin langsung oleh masyarakat. Ketika perempuan memiliki kemandirian ekonomi dan ruang dalam pengambilan keputusan, maka perlindungan terhadap anak akan terbentuk secara alami,” kata Ihawana.

Save the Children Indonesia berharap keterpaduan Program ELEVATE dan CORE mampu melahirkan desa-desa mandiri yang lebih inklusif, tangguh menghadapi tekanan ekonomi, serta memiliki sistem perlindungan sosial yang lebih kuat bagi perempuan dan anak di kawasan Tana Luwu.

Pos terkait