TOJO UNA-UNA, BULLETIN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Kali ini, kobaran api terpantau membakar kawasan hutan di Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete, sejak Selasa (18/8/2026) malam.
Berdasarkan laporan terbaru TRC dan Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tengah yang diterima pada Rabu (19/8/2026) pukul 19.55 WITA, api masih terlihat di lokasi. Luas kawasan hutan dan lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 15 hektare akibat Karhutla Longge Tojo Una-Una.
Kebakaran pertama kali ditemukan aparat desa sekitar pukul 20.00 WITA pada Selasa malam. Api kemudian terus dipantau karena kondisi angin di lokasi dilaporkan cukup kencang sehingga meningkatkan risiko kobaran menjalar ke kawasan lain, termasuk mendekati permukiman warga. Karhutla Longge Tojo Una-Una menjadi perhatian utama.
Hingga laporan terakhir diterima, belum ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi. Namun, kondisi tersebut belum membuat situasi sepenuhnya aman. Tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman Karhutla Longge Tojo Una-Una sekaligus mencegah api meluas.
Pemadaman Terkendala Medan dan Peralatan
Penanganan dilakukan secara bersama-sama oleh TRC BPBD Kabupaten Tojo Una-Una, petugas pemadam kebakaran, TNI melalui Koramil, Polri melalui Polsek, pemerintah Kecamatan Ampana Tete, serta Pemerintah Desa Longge. Upaya pemadaman Karhutla Longge Tojo Una-Una ini melibatkan banyak pihak.
Tim telah melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Tojo Una-Una. Namun, upaya pemadaman menghadapi persoalan serius: keterbatasan peralatan mobile pemadaman karhutla dan kondisi medan yang sulit dijangkau.
Akibatnya, hingga Rabu malam api belum sepenuhnya dapat dipadamkan. Hal ini menunjukkan tantangan besar dalam mengatasi Karhutla Longge Tojo Una-Una.
Kondisi ini menjadi bagian paling krusial dari perkembangan kebakaran di Longge. Persoalan bukan hanya bagaimana menemukan titik api, tetapi bagaimana memastikan petugas memiliki peralatan yang mampu menjangkau kawasan terbakar, terutama ketika kobaran berada di medan sulit dan angin mempercepat penyebaran api.
Longge Bukan Pertama Kali Menghadapi Karhutla
Peristiwa terbaru ini juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih panjang. Desa Longge sebelumnya sudah beberapa kali dilaporkan mengalami kebakaran lahan.
Pada 8 Agustus 2026, kebakaran hutan di wilayah Desa Longge dilaporkan berdampak sekitar tiga hektare. Polres Tojo Una-Una juga sebelumnya melaporkan kebakaran lahan di Desa Longge pada 18 Juli 2026. Artinya, kebakaran di Longge bukan sekadar kejadian tunggal. Rentetan peristiwa dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa kawasan tersebut menghadapi kerentanan berulang terhadap kebakaran, terutama pada periode ketika kondisi vegetasi dan lahan mudah terbakar. Karhutla Longge Tojo Una-Una menjadi isu kronis.
Tojo Una-Una Menghadapi Ancaman Karhutla Berulang
Risiko karhutla di Tojo Una-Una juga tercatat dalam laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana sepanjang beberapa pekan terakhir.
BNPB sebelumnya melaporkan karhutla di wilayah Desa Tojo, Kecamatan Tojo, pada 3 Agustus 2026 dengan luas terdampak sekitar 20 hektare. Beberapa hari sebelumnya, karhutla juga terjadi di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Karhutla Longge Tojo Una-Una tidak berhenti pada satu titik. Ketika kebakaran muncul berulang di wilayah berbeda, kapasitas pencegahan, deteksi dini, mobilisasi personel, hingga ketersediaan peralatan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa cepat api dapat dikendalikan.
Angin Kencang Jadi Faktor Risiko
Dalam kejadian di Longge, kondisi angin kencang menjadi perhatian utama petugas. Angin dapat membuat api bergerak lebih cepat dan menyulitkan proses pemadaman, terlebih ketika petugas harus bekerja di medan yang sulit. Oleh karena itu, penanganan Karhutla Longge Tojo Una-Una harus mempertimbangkan faktor cuaca.
Karena itu, pemantauan tidak hanya diarahkan pada titik api yang sudah terbakar, tetapi juga terhadap kemungkinan api merambat menuju kawasan lain.
Dalam situasi seperti ini, keterlambatan penanganan dapat memperbesar luas area terdampak. Terlebih, kebutuhan mendesak yang dilaporkan BPBD adalah peralatan mobile pemadaman karhutla.
Pemerintah Didorong Memperkuat Respons, Bukan Sekadar Memadamkan
Kebakaran yang kembali terjadi di Longge menempatkan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi pada tantangan yang lebih besar: bagaimana mengubah pola penanganan dari sekadar respons setelah api muncul menjadi pencegahan dan kesiapsiagaan yang lebih kuat. Upaya ini krusial untuk mengatasi Karhutla Longge Tojo Una-Una secara berkelanjutan.
BNPB dalam berbagai laporan sebelumnya telah mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla serta memperkuat patroli, deteksi dini, kesiapan sumber air, personel, dan peralatan pemadaman. Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan titik api.
Dengan adanya kejadian berulang di Tojo Una-Una, kebutuhan terhadap peralatan pemadaman bergerak menjadi semakin penting. Peralatan bukan hanya dibutuhkan ketika api sudah membesar, tetapi harus tersedia sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran berikutnya.
Untuk sementara, kondisi di Desa Longge masih dalam penanganan. Api belum sepenuhnya padam, tidak ada korban jiwa dan pengungsi, sementara tim gabungan masih melakukan pemadaman serta pemantauan.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di Sulawesi Tengah belum berakhir. Ketika api kembali muncul di lokasi yang sebelumnya juga pernah terbakar, persoalan yang harus dijawab bukan hanya siapa yang memadamkan api, tetapi juga mengapa kawasan tersebut terus terbakar dan apakah sistem pencegahan sudah cukup kuat untuk menghentikan siklus tersebut.






